
Sore itu, Gerhana membelah ramainya jalanan. ia mengusap tangan lembut yang melingkar di Perutnya.
" Na, " Panggilnya.
" Apa ?"
Gerhana berdeham Pelan untuk menetralkan detak jantungnya yang sedari tadi berpacu dengan cepat.
" Kenapa kamu tadi a-anu,"
" Cium aku di depan umum,"
Sontak Liona melepaskan Pelukannya. ia memalingkan wajahnya dengan malu. Jika mengingat itu semua, ia menyesal, kenapa melakukan hal gila seperti itu apalagi di depan umum ?
" Jangan dilepas, biarin gini aja," Gerhana kembali menarik tangan Liona untuk melingkar di Perutnya." Biar kalau Celine liat, dia tambah Panas,"
" itu jawabannya," ucap Liona. Gerhana langsung menoleh dan menaikkan kedua alisnya. " Biar Celine tambah Panas dan dia nggak gangguin kita lagi," ucap Liona
Gerhana menghentikan motornya saat lampu merah. ia sedikit menolehkan kepalanya menatap Liona.
" Besok-besok kalau Celine sama dua anteknya buat ulah lagi. Jangan diladenin, Biarin aja lama-lama mereka juga capek dan berhenti sendiri. " Kata Gerhana.
Sebenarnya bisa saja Liona mengabaikan tingkah laku Celine terhadap terhadapnya. Hanya saja, ia tidak betah Celine terus-menerus mengusik hubungannya. Bagaimana jika nanti Celine berbuat lebih ?
" Na, kenapa tadi nggak geser dikit,"
Liona menoleh dan menaikkan sebelah alisnya tak mengerti
" Geser apanya ?" tanya Liona
" Ciumnya. " jawab Gerhana. " Kalau bisa di bibir, Kenapa harus di Pipi," lanjutnya. ia terkekeh Pelan setelah mengatakan itu.
Liona memundurkan kepalanya dan memukul Pundak Gerhana.
" Diem, deh, Gerhana !" sentaknya
" Kenapa ?" tanya Gerhana
Liona menggeleng. Cewek itu menepuk Pundak Gerhana saat lampu merah berubah warna
" Ayo Jalan. Udah lampu hijau."
" Kenapa dulu ? Malu ?" tanya Gerhana lagi menggoda Liona
" Gerhana !" sentak Liona membuat Gerhana tertawa
" iya, iya, Pegangan," suruhnya.
Liona melingkarkan tangannya di Perut Gerhana. Hal itu membuat senyum Gerhana terbit. Kemudian, cowok itu melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Liona menatap Pantulan dirinya di depan cermin yang ada di kamar Cewek itu terlihat sangat cantik malam ini. Mengingat janji Gerhana kemarin. ia berniat untuk tampil berbeda di depan Gerhana. Tapi, Liona berharap, semoga di tengah jalan nanti, Gerhana berubah Pikiran dan mencari tempat yang jauh lebih bagus dari warkop Mang Udin
Cewek itu mengusap bibirnya Bayang-bayangan di mana ia dengan lancangya mencium Pipi Gerhana teringat sangat jelas di memori otaknya.
" Gue yang lakuin, gue yang baper !" decak Liona
" Liona Woi, Liona !" Liona tak mendengar Panggilan itu. ia terus saja masih tersenyum. " Woi, Dek Gue Panggilin dari tadi juga nggak nyaut !" teriak Satya kesal
Liona terkejut. ia memutar badannya, kemudian berdecak kesal lantaran melihat Satya berdiri di ambang Pintu kamarnya.
" Apa-apaan sih lo Bang ? Kalau masuk utamakan ketuk Pintu dulu. Ganggu orang seneng aja lo !" gerutu Liona.
Satya berdecak. " Percaya gue mah sama orang yang lagi kasmaran Buruan sana bikini gue Kopi empat gelas. seperti biasa ada temen gue juga," Satya menunjuk Liona. " Pake segala dandan. Sok cantik lo !"
" Emang gue cantik dari dulu mau apa lo ?" ledek Liona. " Lo emang nggak Pernah Pengen liat adik lo yang cantik ini, ini feminim dikit apa ? Lo liat, Bos gue udah cantik gini masa suruh ngebabu Ogah banget !" Liona bersedekap dada dan menekuk wajahnya sebal. Satya menghampiri Liona, kemudian menariknya keluar. ia memberontak, tapi Satya mencekal tangannya. " Bang Sat lepasin gue Manja banget, sih lo jadi cowok ! makinya
Satya tak menggubris Liona, cowok itu langsung mendorong Liona sampai ke dapur. " Buruan bikinin kopi ingat cewek, selalu di dapur ! setelah mengatakan itu Satya melenggang Pergi
" Cewek itu dimuliakan bukan diperbudak !" teriak Liona tak mau kalah. Liona menaruh satu sendok kopi ke dalam gelas kaca dengan kasar.
" Gue baru tau kalau Pacar Liona itu anak bosnya bokap gue. Lo gimana," Tanya Agil
Satya mengerutkan dahinya. " Gimana apanya ?
" Lo setuju Liona sama Gerhana ada hubungan ? Takutnya tetangga lo ada yang bilang yang nggak-nggak."
" Pikiran orang itu beda-beda. Nggak semua orang yang di Pandang jelek. Kelakuannya juga ikut jelek. Gue lebih ngerti Liona duluan daripada mereka. Gue setuju aja, selagi keluarga Gerhana itu nggak mempermasalahkan itu semua. Yang Penting Liona sama Gerhana nggak berbuat aneh-aneh. itu aja," ucapnya
Derap langkah lambat terdengar di telinga mereka. Liona baru saja datang dengan membawa nampan berisikan empat gelas kopi.
" Wih Tumben-tumbenan lo cantik malam ini, Na Bolehlah jalan sama gue sebentar, biar dikira nggak jomblo," Agil menaik-turunkan alisnya
" Kalau jomblo, ya jomblo aja kali. Nggak usah segala minjem cewek orang, " sahut Liona.
" Udah sana masuk, katanya mau keluar sama Gerhana. Mana dia ? tanya Satya
" Belum dateng, ini aja masih jam tujuh, Bang Paling masih salat," ucapnya kemudian, Liona memasuki kamarnya. Beberapa kali ia mengirimkan Pesan kepada Gerhana, tapi cowok itu tak kunjung membalasnya ia juga sempat meneleponnya, tapi cowok itu tak mengangkatnya.
Liona kembali ke kamar, mendudukkan dirinya di atas kasur. ia meremas Ponselnya sembari menunggu Gerhana yang tak kunjung datang
" Jangan bilang kalau Gerhana itu lupa ? Lama ia menunggu hingga jam menunjukkan Pukul sembilan malam.
...••••••...