
" m semuanya. Terutama Bima, Kenzie, Mona dan Liona.
" Liona, gue ngerasa nggak asing sama dia." ia mendongak menatap langit kamarnya dengan tatapan kosong. Deringan notifikasi Ponsel mengalihkan antensi m. Membaca Pesan-pesan yang dikirim oleh mereka, membuat kepala Gerhana kembali berdenyut. Jemari cowok itu tertarik untuk menyentuh galeri Pada Ponselnya. Ada Penasaran sekaligus aneh Pada harinya Cowok itu tertegun melihat foto dirinya bersama satu Perempuan, Liona, Cewek yang ada di rumah sakitdikirim oleh mereka, membuat kepala Gerhana kembali berdenyut. Jemari cowok itu tertarik untuk menyentuh galeri Pada Ponselnya. Ada Penasaran sekaligus aneh Pada harinya Cowok itu tertegun melihat foto dirinya bersama satu Perempuan, Liona, Cewek yang ada di rumah sakit
Begitu lama Gerhana menatap foto Liona yang bersandar di bahunya Desiran mengalir di hatinya. Jantungnya berdetak sangat kencang.
" Lo itu sebenernya siapa gue selalu nama dan wajah lo yang muncul di Pikiran gue," ucap Gerhana
Begitu lama Gerhana menatap foto Liona yang bersandar di bahunya Desiran mengalir di hatinya. Jantungnya berdetak sangat kencang.
" Lo itu sebenernya siapa gue selalu nama dan wajah lo yang muncul di Pikiran gue," ucap Gerhana
Sebelum duduk ia mematikan Ponselnya, ia sempat foto bersama orang-orang yang memakai seragam Putih abu-abu. Terutama dua cowok yang berada di rumah sakit, Bima dan Kenzie.
" Gue nggak asing sama lo berdua. Tapi gue nggak tau siapa kalian dan kenapa ada foto gue sama kalian,"
Pintu kamar Gerhana terbuka, menampilkan sosok wanita yang membawa nampan berisikan satu Piring makanan, satu gelas susu dan air Putih. Gerhana menoleh cowok itu refleks membenarkan Posisi duduknya. Mama yang melihat itu tersenyum dengan tulus.
" Kamu Makan dulu, ya, Sayang, Biar cepet sehat, bisa sekolah lagi dan ikut ujian sama temen-temen kamu," ujar Mama dengan senyum yang amat tulus di bibirnya.
" Ujian ?" beonya
Wanita itu mengangguk. " iya, kamu kan, udah kelas 12 dan sebentar lagi lulus,"
Seolah Paham dengan ucapan wanita itu, Gerhana memilih menganggukkan kepalanya. " Maaf Saya belum lapar. Taruh aja di atas nakas nanti saya makan. " ucap Gerhana.
Hati Mama kembali berdenyut ngilu. Semenjak amnesia, Gerhana memang menggunakan kata saya untuk dirinya.
" Mama taruh di sini, ya, Jangan lupa dimakan. Kalau Gerhana Perlu apa-apa Mama ada di bawah. Mama keluar dulu," ucapnya. Wanita itu membalikkan badannya, tangannya memegang kenop Pintu. Namun Panggilan yang terlontar dari bibir Gerhana, membuat wanita itu membalikkan badannya
" M-Mama. "
Mama tertegun. ia membalikkan badannya dan menatap Gerhana dengan tatapan berkaca-kaca.
" G-Gerhana, Kamu !"
" Boleh saya Panggil Anda Mama,"
Wanita itu tersenyum kecut. ia Pikir ingatan Putranya sudah kembali. Mama menghapus air matanya yang turun menetesi Pipi
" iya Kamu Panggil Mama dengan sebutan Mama, ya,"
Gerhana menatap Mama cukup lama, sebelum akhirnya. ia mengangguk menyetujuinya. Wanita itu tersenyum melihatnya. Ada Perasaan lega yang ia rasakan.
" Ya udah. Mama turun dulu. Jangan lupa dimakan cepet sembuh,"
Gerhana masih menatap Pintu kamarnya yang tertutup rapat Panggilan " Mama" Kepada wanita itu sangat menghangatkan hatinya ia menyandarkan tubuhnya Pada kepala ranjang.
" Gue nggak inget apa-apa tentang diri gue," gumamnya," Termasuk nama gue sendiri,"
...•••••...