
Haura bahagia ketika kini dia telah sah menjadi istri Alden. Perjalannya sangat berliku hingga dia harus merasa tersakiti terlebih dahulu sebelum dia benar-benar merasakan kebahagiaan yang hakiki.
Pepatah mengatakan, Tuhan akan mematahkan hati seseorang demi orang yang salah, sebelum dia benar-benar menemukan orang yang tepat. Ungkapan ini tentu pantas disematkan untuk Haura.
Sepasang pengantin baru itu kini bersiap berangkat bulan madu, ke negara yang paling Haura idam-idamkan seumur hidupnya. Namun, disaat-saat terakhirnya Alila datang dengan ekspresi ketakutan datang ke pernikahan Haura dan Alden.
Saat dia sampai di hadapan Haura. Alila terdiam seperti mematung, menatap mantan istri Theo itu dengan seksama.
"Selamat Haura," ucapnya. Lalu menundukkan kepala. "Undanganmu sampai ke rumahku. Tapi maaf, Theo tidak bisa hadir. Dua hari yang lalu dia datang padaku. Dia berkata, dan meminta aku untuk datang sebelum dia berjanji tidak akan mengganggu hidupku lagi. Dan hari ini dia menepati janjinya."
Haura merasa aneh dengan Alila yang mengucapkan kalimat aneh. "Apa maksudmu?"
"Theo bunuh diri dengan melompat dari jembatan Cotton Clay. Dan sampai saat ini jasadnya belum ditemukan."
Mata Haura melebar seiring ketidak percayaannya terhadap berita yang dikirim oleh mantan rivalnya ini. Haura menutup mulutnya dengan tangan, tak terasa air matanya mengalir. Ia tidak menyangka jika Theo akan berbuat senekat ini.
"Aku ke mari hanya ingin mengatakan hal itu. Aku bersyukur dia mati. Karena tidak akan ada yang menggangguku lagi." Alila berbalik badan dan pergi meninggalkan tempat pernikahan Haura dan Alden.
Mengetahui istrinya syok. Alden dengan sigap memeluk istrinya, agar wanita itu tidak tumbang.
"Alden... Kita harus ke Catton Clay. Kita harus memastikan Theo ditemukan."
Haura menuruti apa yang dikatakan suaminya. Dia bersedih bukan karena dia masih mencintai Theo. Tapi dia sudah menganggap pria itu teman. Haura sudah berdamai dengan masa lalunya, dan melupakan semua dendam yang bersemayam dalam hatinya, dan menjadikan pernikahannya dengan Theo adalah salah satu perjalanan dan sebuah pelajaran yang paling berharga.
~∞•∞~
Sepasang pengantin itu bertolak ke jembatan Catton clay yang terkenal memiliki arus kuat. Josep pun ikut serta bersama keduanya untuk mendampingi mereka.
Saat mereka sampai di tempat kejadian perkara, tempat di mana Theo lompat di pagari dengan police line. Alden dan Josep masih berbincang dengan polisi, menanyakan perkembangan Theo yang menghilang terbawa arus, dan kemungkinan hidup sangatlah tipis.
Dari jauh Haura melihat foto pernikahannya dalam sebuah bingkai kecil yang tergeletak di tepian jembatan. Jadi sebelum Theo mengakhiri hidup. Dia membawa foto itu ke mana pun. Meski dia sudah tidak memiliki raga Haura. Namun, dia masih memiliki foto kenangan kebersamaannya dengan mantan istrinya itu.
"Sayang.... " Alden menepuk pundak istrinya dan mencengkeram lembut, hanya agar istrinya tetap tenang dan tabah. "Polisi mengatakan semua pihak sedang berusaha mencari Theo. Kemungkinan hidupnya sangat kecil, hampir tidak ada. Karena arus sungai ini sangat deras, dan tak jauh dari sini ada lautan luas." Penjelasan Alden membuat hati Haura hancur.
"Sayang... Maaf jika aku merusak momen pernikahan kita. Tapi kau tahu bagaimana kebersamaanku dengan Theo dulu. Sedihku bukan karena aku masih mencintainya, tapi lebih kepada aku kasihan dengan akhir tragis kisah hidupnya."
"Aku tahu, dan aku maklumi ini, Haura." Alden mengecup kening istrinya dengan lembut. "Kita batalkan bulan madu kita untuk menghormati Theo, Oke? "
Haura tidak pernah tahu, jika Alden adalah lelaki berhati besar dan sangat pengertian. Dia sangat beruntung memiliki Alden dalam hidupnya.