
Haura menautkan tangannya ke pinggang kekasihnya dan semakin membenamkan wajahnya di dada yang kokoh milik Alden, tempat ternyaman dalam hidupnya, setelah pelukan dari sang ibu yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak wanita yang telah melahirkannya itu tiada, Haura sangat mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu tenggelam dalam tanah dengan peti yang membungkus tubuhnya, diikuti derai air mata dari Haura seorang, seolah dia orang yang paling kehilangan wanita itu. Kini semua itu berlalu, meski dia tidak ingin melupakan pelukan hangat ibunya, tapi tentu saja dekapan Alden juga hal paling nyaman dalam hidup Haura. Bersama pria yang sangat ia cintai sejak lama.
"Apakah kita jadi memasak? Atau kau mau makan di luar?" Alden menawarkan pilihan untuk kekasihnya itu. Tapi Haura menolak, dia hanya ingin berdua bersama Alden menikmati makan malam yang sunyi di dalam apartemennya.
"Aku ingin masak," jawabnya. Melepaskan pelukan hangat itu, kemudian kembali mencari bahan makanan yang bisa ia masak.
Alden pun menekuk lengan kemejanya hingga ke siku, bersiap akan membantu pujaan hatinya dan menikmati quality time bersama Haura.
**
Setelah menghabiskan waktu bersama di dapur akhirnya keduanya menghasilkan sebuah hidangan lezat. Steak ikan salmon asparagus, tentu saja Haura tidak memanggang ikan itu dalam jangka waktu lama, dan jika itu terjadi akan membuat dagingnya hancur dan tidak enak untuk dimakan.
"Sempurna," gumam Haura sendiri, setelah mengoleskan saus yang terbuat dari bawang putih, sedikit keju, dan mayones ke pinggir steak tersebut.
"Kurasa ini sangat enak." Alden menimpali dengan seolah mencium aroma dari hidangan yang belum mereka tata di atas meja makan.
Haura membawa dua piring berisi steak ikan salmon itu, sementara Alden mengambil anggur yang tersimpan dalam laci yang beberapa hari lalu sengaja ia letakkan di sana. Keduanya makan dengan cahaya temaram, dengan lilin kecil yang menghiasi meja makan mereka. Haura sepintas tersenyum kecil saat Alden menyalakan lilin-lilin tersebut.
"Ada apa?" tanya pria itu melirik ke arah kekasihnya.
"Sudah lama aku ingin seperti ini, masak berdua dan makan malam berdua saja dengan pria yang sangat kucintai," komentar Haura, lalu mengambil garpu dan pisau untuk mengiris daging ikan salmon di depannya, saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya, Haura merasakan seolah lidahnya menari karena lezatnya makanan yang dibuat bersama Alden.
"Ini lezat."
Di tengah-tengah acara makan malam itu, Alden tiba-tiba berdiri, pria itu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil sembari berjalan mendekati Haura, kemudian pria itu berjongkok—lalu membukanya di hadapan Haura. Sebuah cincin berlian yang sangat indah menghiasi isi dalam kotak tersebut, membuat Haura terperangah.
"Aku resmi melamarmu, Haura! Dan ini bersifat memaksa, kau tidak dalam keadaan bisa menolak permintaanku kali ini," ucap pria itu dengan nada penuh penekanan.
Melihat kesungguhan dari pria ini membuat Haura terharu, dia terlihat menutup mulutnya dengan kedua tangannya hanya untuk menutupi keterkejutannya, padahal kedua air matanya mulai menguar.
"Terimalah aku, aku sangat mencintaimu. Ini permohonanku, Haura."
Haura mampir tidak bisa berkata apa pun lagi, lidahnya kelu, sudah beberapa kali ia menolak lamaran lelaki ini. Tapi dia masih memiliki misi balas dendam dengan para musuhnya.
To be continue ~
Like, like, like, Bestie
luv,
Novi Wu