
Apakah aku cemburu?
~•~
Theo masih berdiri mematung, seolah dia tidak tahu harus berbuat apa—pikirannya kacau balau meratapi nasibnya. Bagaimana dia bisa hidup, mencari pekerjaan tidaklah perkara mudah di kota ini. Uang tabungannya bahkan sudah dihambur-hamburkan oleh istri barunya yang tidak tahu diri itu.
Alden berdiri, mengancingkan jasnya, kemudian berjabat tangan dengan bos Theo. "Terima kasih telah mendengarkan keluh kesah saya, Mr. Machel."
Bos Theo meraih jabatan tangan Alden, dan tersenyum. "Terima kasih atas berita yang Anda sampaikan, Tuan. Karena reputasi perusahaan kami jauh lebih penting dari apa pun."
Alden berbalik badan, lalu berjalan melewati Theo yang masih mematung. Pria itu berhenti sejenak, membisikkan sesuatu pada mantan suami Haura.
"Ini baru permulaan, jika kau masih mengganggu Haura, aku anggap kau ingin bermain-main denganku lebih jauh." Alden menepuk pundak Theo, seolah menguatkan pria itu agar tetap tabah menghadapi cobaan hidup. Sementara Theo hanya bisa mengepalkan tangan, tentu saja karena tidak terima dengan penghinaan ini.
Alden keluar diikuti Josep yang mengekor dari belakangnya.
"Jadi ini yang membuatmu datang ke mari?" tanya Josep mengimbangi langkah bosnya yang cepat.
"Ya, apa lagi? Dia adalah mantan suami Haura yang telah membuang wanita malang itu," jawabnya santai, dengan satu tangan masuk ke saku celana, berjalan dengan gagah dan senyum kemenangan.
Josep hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah bosnya, memang benar keluarga Walsh memiliki nama besar di kota ini, tapi mereka tidak pernah menggunakan kekuasaan untuk menindas, tapi jika itu menyangkut ketidakadilan, keluarga ini akan turun tangan. Bahkan mereka juga terkenal dermawan dan tidak membedakan kasta manusia, itulah yang orang tua Alden ajarkan untuk pria ini.
"Aku akan membantu Haura membalas semua orang yang telah mengkhianatinya." Alden berucap sembari menipiskan bibir.
"Kau? Untuk apa?"
"Apakah kau melemparkan pertanyaan retorik?" dengus Alden tidak suka.
Josep harusnya tahu, semua itu Alden lakukan karena dia mencintai Haura.
Josep memilih tidak melanjutkan berkomentar, mungkin saja dia sudah terlalu banyak bicara kali ini.
~••~
Di meja kerjanya, haura masih saja memikirkan kejadian pagi tadi saat Alden menyatakan cintanya, bahkan di depan halayak ramai, yang seharusnya tidak mendengar itu semua, akan jadi apa sekarang? Pasti di luar sana banyak orang yang sedang membicarakan dirinya, dan mungkin mereka akan menganggap Haura adalah seorang wanita penggoda yang tentunya tidak punya malu.
Pastinya akan menjadi pertanyaan besar pada semua orang sejak kapan dirinya dan Alden dekat, dan apakah dia mendekati CEO perusahaan ini karena harta atau sejenisnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering membuat Haura terkejut, ia melirik layar benda itu, nomor tidak dikenal melakukan panggilan pada dirinya, jujur saja Haura takut menjawab, karena mungkin saja itu adalah nomor baru dari Theo yang akhir-akhir ini selalu mengejar dirinya, entah kenapa dan untuk alasan apa?
"Hallo... Haura, bisakah kau datang ke kastil?" ucap suara yang sudah terlihat tua itu, meminta Haura untuk segera datang ke sebuah kastil--di pastikan si penelepon adalah nenek Alden, dan Haura tidak salah mengenali suara lembut itu.
"Nenek?" Haura memastikan jika pendengarannya tidak salah, lalu masalahnya adalah--siapa yang memberi nomor telepon Haura pada nenek Alden? tapi setelah dipikir-pikir dirinya adalah kekasih kontrak Alden, tentu saja neneknya mendapatkan kontak Haura dari cucunya sendiri.
"Ya, siapa lagi? Ada berapa nenek yang kau miliki, Haura?" omel wanita tua itu.
"Aku ingin kau datang ke mari nanti setelah kau pulang kerja, aku ingin kau mencicipi pie apel tengah kubuat, dan lasagna makanan favoritmu," jelasnya. Mendengar suara wanita tua itu sangat lembut pada dirinya, membuat hati Haura teduh, setidaknya ada manusia lain yang menyayangi dirinya secara tulus.
"baiklah nenek, nanti aku akan ke sana setelah pulang dari bekerja," jawab Haura meyakinkan jika dirinya akan datang ke kastil mewah itu, dan dia pastikan tanpa Alden, karena dia berniat akan naik taksi menuju ke sana.
~•~
Beruntung saat jam pulang kerja, Haura sama sekali tidak melihat Alden seharian, bahkan untuk sekelebat bayangannya sekalipun, Haura tidak melihatnya sama sekali--mungkin saja pria itu sedang sibuk, dan Haura bisa bernapas lega, setidaknya dirinya tidak akan merasa canggung karena menolak pengakuan cinta Alden atas dirinya--mungkin saja pria itu sudah menyerah begitu saja.
Haura menyetop sebuah taksi, dia memutuskan pergi seorang diri ke kastil di mana kakek dan nenek Alden tinggal.
"St. Summer, Tuan." kata Haura pada si sopir taksi tanpa menunggu pria itu bertanya pada dirinya tentang tujuannya.
"Komplek perumahan konglomerat," timpal si sopir, dan Haura hanya tersenyum tanpa membalas ucapannya lagi.
Sepanjang perjalanan, Haura benar-benar menikmati pemandangan senja, dan mobil itu merayap pelan karena jalanan yang sedikit padat dan posisi menanjak.
Dari kejauhan Haura sudah melihat kastil mewah yang berdiri kokoh, karena tempat itu paling mencolok di antara yang lainnya.
Mobil yang dia tumpangi berhenti tepat di depan gerbang kastil itu, tempat yang di jaga oleh para pria berpakaian serba hitam yang berjumlah lebih dari empat orang.
Setelah memberikan ongkos kepada si sopir taksi, kemudian Haura turun, dan dia di sambut senyuman dan posisi setengah membungkuk dari mereka. Haura merasa canggung diperlakukan seperti itu, dan salah satu dari mereka membuka gerbang untuk Haura.
"Silakan Nona. Tuan dan Nyonya Walsh sudah menunggu Anda," tukas pria yang membuka gerbang pada Haura.
"Terima kasih, Tuan," jawab Haura masuk ke dalam.
Haura berjalan seorang diri, cukup jauh untuk mencapai pintu utama. Tapi langkahnya terhenti ketika mobil Alden berjalan melewati dirinya tanpa mempedulikan Haura. Dari jauh Haura bisa melihat di dalam mobil itu ada Josep dan seorang wanita seperti Angeline.
Setelah mereka keluar, barulah Haura sadar jika wanita itu benar adalah Angeline, Josep keluar dari kursi kemudi, sementara Alden dan Angeline keluar dari bangku penumpang, ketiganya berjalan tanpa mengetahui keberadaan Haura yang berjalan jauh di belakang mereka. Dalam pikirannya, apakah Alden marah padanya, hingga dia tidak ingin menyapa dirinya ketika mobil yang ia tumpangi melintas di depan mata Haura.
Ketiganya berjalan bersamaan, melihat Alden yang berjalan berdampingan dengan Angeline, keduanya begitu terlihat serasi, cantik dan tampan, seharusnya Alden memacari wanita itu—bukan malah menyatakan cinta pada Haura.
"Selamat datang." Wanita tua membukakan pintu untuk ketiganya, dan Haura masih berjalan pelan jauh seolah sengaja memberi jarak. Tapi mata tua Callie menatap Haura yang berjalan. "Siapa orang di belakang kalian?" Nenek Alden menajamkan mata, membuat semua menoleh ke belakang, dan saat itu pula Alden sadar dengan kehadiran Haura. Membuatnya seketika menghampiri kekasih kontraknya itu.
"Kau datang naik kendaraan umum?" tanya Alden, mengulurkan tangan, agar Haura meraih tangan Alden. Haura sendiri ragu, tapi dia harus tetap profesional karena dirinya dibayar untuk melakukan ini, dan terpaksa menyambut tangan Alden dan menggenggamnya dengan erat. "Aku baru saja menjemput Angeline yang pulang dari luar negeri, maaf jika membuatmu datang sendiri," imbuhnya lagi.
"Tidak apa, Nona Angeline memang jauh lebih penting dari pada aku," jawab Haura, dengan nada sedikit ketus.