Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 42 • Kemarahan Alden


Setelah menuntaskan bagiannya, Alden berdiri di depan cermin besar di dalam kamar mandinya. Menatap bayang diri yang entah mengapa merasa aneh. Dia terlalu berhasrat dengan Haura, akan tetapi dia tidak ingin—jika wanita itu salah paham dengannya.


Dia mengerang tidak suka, apakah cinta itu harus dibarengi dengan sebuah keinginan untuk menyatukan jasmani? Ataukah hidup bersama hingga menua sudah cukup? Alden hanyalah lelaki normal yang memiliki keinginan seperti itu ketika sedang bersama dengan Haura. Apalagi wanita yang dia cintai itu sangat menggodanya untuk disentuh. Alden mengacak-acak rambutnya sendiri karena terlalu frustasi memikirkan hal itu. Akan tetapi, menyatukan jasmani sudah lumrah di kalangan kaula muda yang telah memadu kasih—sementara Alden dan Haura bukanlah dua pasangan yang bisa dianggap muda lagi. Namun, Haura belum benar-benar membuka hati untuk dirinya sepenuhnya.


Alden berjalan menuju walk in closet, memilih baju—kini pilihannya jatuh pada turtle neck berwarna biru tua, dengan celana jeans pendek berwarna putih. Dia memutuskan kembali menemani Haura.


Saat membuka pintu, dia terkejut melihat Theo sudah berdiri mematung di depan kamar Haura. Napasnya tiba-tiba memburu, dengan penuh emosi Alden berjalan cepat menghampiri mantan suami Haura. Tanpa aba-aba dia menarik kerah Theo membuat pria itu terkesiap.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" desis Alden, matanya nyalang seperti memancarkan api yang siap membakar apa pun di depannya. Rahangnya begitu mengetahui memperlihatkan urat-urat kekuatan dan amarah yang sangat membara.


"Aku hanya ingin bertemu wanita yang aku cintai."


Sebuah bogem mentah meluncur dari tangan Alden mengenai pipi Theo. Membuat pria menyedihkan itu tersungkur begitu saja. Tanpa ampun Alden menarik kerah baju Theo lagi.


"Kau masih berani menampakkan diri selama ini, setelah kau membuang Haura begitu saja. Kau tahu dia sempat ingin bunuh diri, di hari kau memperkenalkan wanita itu!" dengus Alden.


Air mata Theo menguar, hampir saja membasahi kedua pipinya.


"Aku tahu aku salah, aku tahu itu. Tapi aku ingin meminta Haura memberi kesempatan kedua!" balas Theo dengan tersedu pilu.


Alden terkekeh, menanggapi ucapan lelaki durjana yang telah membuat Haura menderita selama ini.


"Kau ingin meminta maaf? Dan kau ingin kembali?! Jangan mimpi! Haura milikku sekarang dan aku akan segera melamarnya!"


"Jangan... Kumohon. Aku mandul dan aku perlu wanita seperti Haura untuk menghabiskan sisa hidupku, " gumam Theo seolah ia telah melupakan bagaimana jahatnya ia ketika menceraikan Haura karena wanita itu dianggap mandul oleh dirinya dan sang ibu.


"Apa?! Kau sudah tidak waras! Ingat, apa alasanmu meninggalkan wanita malang itu! Apa alasannya!" seru Alden mulai emosi kembali.


"Tolong kumohon, biarkan aku bertemu Haura. Aku akan membuat dia bahagia."


"Terlambat!" Alden berdiri dan menyingkirkan tangan Theo yang menyentuh kakinya dengan kasar.


Alden merogoh saku celananya mengambil ponsel yang ada di dalam sana. Menekan sebuah nomor dan berkata jika di unit apartemennya ada pria berbahaya yang selalu menguntit Haura. Tidak lama dua sekuriti datang dengan tergopoh-gopoh.


"Bagaimana keamanan di sini?! Sangat mengecewakan," Alden mendengus kepada dua sekuriti yang dia anggap tidak berkompeten tersebut. "Bawa dia keluar, tandai wajahnya jangan sampai dia masuk ke sini!" perintah Alden dengan begitu kejam.


Theo hanya bisa pasrah tanpa melakukan perlawanan. Karena jika ia melawan, itu akan sangat sia-sia karena yang ia hadapi bukan orang sembarangan. Akan tetapi ada kalimat yang Theo ucapkan sebelum ia di seret pergi dan berhasil membuat Alden kepikiran.


"Aku akan menunggu Haura hingga dia menemuiku!"


To be continue~