
Angeline berjalan keluar—sepertinya ancamannya tidak main, membuat Alden marah. CEO perusahaan kosmetik itu menarik tangan sahabatnya hingga membuat Angeline terpelanting dan menabrak tubuh Alden yang begitu kuat dan kokoh. Hingga benar-benar tidak ada jarak diantara keduanya. Alden menyibakkan rambut Angeline agar surai itu tidak menutupi wajah cantiknya.
"Dengarkan aku! Aku tidak mau kau masuk ke ranah urusan pribadiku. Aku juga tidak meminta pendapatmu tentang apa pun yang akan aku lakukan, dan perlu aku tekankan! Jika kau menyentuh Haura, maka kau akan berurusan denganku!" ancam Alden dengan nada lirih tapi benar-benar menakutkan untuk Angeline yang hanya bisa mematung. Setelah selesai, pria itu langsung melepaskan Angeline hingga tubuh wanita itu bergetar hebat. Alden merapikan baju tidurnya dan keluar menuju nenek dan Haura sedang berada.
Angeline menangis tanpa suara, ia mengigit tangannya sendiri hingga muncul cap bekas giginya. Dia sangat kecewa dengan Alden, mengapa pria ini begitu jahat pada dirinya. Mengapa Alden tidak bisa melihat perasaan Angeline untuk dirinya. Benar-benar membuat batin gadis itu tersiksa.
~•~
Alden menghampiri dua wanita berbeda usia yang sedang asyik di dapur, seolah keduanya sedang melakukan sesuatu yang benar-benar menyenangkan.
"Apa yang sedang kau lakukan, Sayang?" Alden menghampiri Haura dan langsung mencari kesempatan dalam kesempitan, pria itu memberi morning kiss untuk Haura, kemudian mengecup pipi Callie yang sudah terlihat keriput.
Mendapat kecupan hangat dari bosnya membuat wajah Haura seketika memerah karena malu. Tiba-tiba Callie menepuk kepala Alden dengan spatula karena telah menjahili Haura, dan membuat wanita itu malu karena tingkah cucunya.
"Nenek!" Alden mengadu dengan ekspresi kecut. Mengelus kepala bekas pukulan Callie.
"Kau berani mengganggu cucu kesayanganku!" desis wanita tua itu.
"Tapi dia adalah calon istriku, Nek." Alden merengut karena ulah sang nenek yang membuatnya malu di depan Haura.
Tak lama pasta ravioli telah matang,
pasta yang terdiri dari isian yang diselimuti adonan pasta tipis, disajikan dalam kaldu atau dengan saus, yang sangat lezat dan menggugah selera.
Haura menyajikan empat piring di atas meja makan. Bau krim pasta membuat perut mereka terasa lapar.
"Aromanya harum sekali," tukas Callie, meraih garpu lalu mencicipi makanan tersebut, saat ravioli itu masuk ke dalam mulutnya benar-benar begitu lumer, membuat Callie ingin terus memakannya. "Ini benar-benar lezat, Haura," imbuh nenek Alden begitu antusias.
"Jika Nenek mau, aku bisa membuatkannya setiap hari." Haura tersenyum ramah, ia melihat meja yang dipersiapkan untuk Angeline masih kosong. Di mana wanita itu? Haura mengedarkan pandangannya mencari gadis cantik itu. Apakah mungkin dia masih ada di dalam kamar Haura.
Haura berjalan mendekat menuju kamarnya, dia mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka—Haura melihat Angeline tengah menangis terduduk di lantai, seolah sedang sangat sedih. Melihat sahabat Alden itu menangis membuat Haura langsung merangsek masuk karena khawatir.
"Ada apa Nona?" Ekspresi Haura benar-benar khawatir melihat gadis itu.
Namun, Angeline malah menatap nyalang ke arah Haura, seolah memancarkan aura kebencian yang teramat dalam untuk kekasih kontrak Alden itu.
"Apa wewenangmu menanyakan hal itu? Bukan urusanmu aku mau menangis atau tertawa!" dengus wanita itu kesal.
Haura yang tidak tahu apa kesalahannya merasa sangat bingung dengan sikap Angeline yang tiba-tiba seperti ini.
"Apa salah saya, Nona?"
Angeline berdiri lalu mendekat ke arah Haura, tatapannya masih begitu menusuk serta air matanya juga masih mengalir membasahi kedua pipinya.
"Kau telah merebut Alden dariku!" semburnya, kemudian pergi mengusap dengan mengusap air matanya.
Haura sendiri yang mendapat tuduhan tidak berdasar seperti itu hanya mengerutkan kening, dia merasa bingung—bukankah harusnya Angeline tahu jika Haura hanyalah kekasih bayaran Alden. Lalu sekarang apa?
Callie melihat Angeline keluar dari lorong kamar Haura, langsung berseru memamerkan masakkan Haura yang begitu enak pada gadis itu. Membuat hati Angeline semakin panas.
"An... Lihatlah, kau harus mencicipi ravioli buatan Haura, ini sangat enak."
"Nenek, aku akan segera pergi ke kantor karena aku ada pekerjaan," tukasnya, mengalihkan topik pembicaraan tentang ravioli buatan Haura.
"Apakah Alden membuatmu bekerja keras? Hingga kau harus pergi ke kantor sepagi ini?" Callie melirik ke arah Alden yang masih asyik dengan santapannya.
"Tidak," jawabnya—canggung. "Aku sedang ada pekerjaan di kantor agensi modelku, Nek."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan pulang sendiri nanti." Wanita itu menjawab pasrah.
Callie membiarkan Angeline pergi, wanita tua itu seperti merasakan ada keanehan dari Angeline yang tidak membuat Callie mengerti.
"Apakah kalian ada masalah?" Callie mengalihkan pandangan kepada sang cucu.
Alden menyendikkan kedua bahu sembari menyendok ravioli di depannya. "Tidak ada. Nenek tahu sendiri sifat Angeline yang bisa berubah-ubah suasana hatinya karena bipolar yang ia idap."
Callie mengangguk-angguk. Benar juga apa yang dikatakan oleh Alden jika Angeline memang memiliki masalah dengan mentalnya yang kadang naik turun secara tiba-tiba.
~•~
Theo datang ke kantor polisi menjenguk ibunya, saat Delarosa keluar dari kamar tahanan, dan memakai baju biru dongker dan wajah terlihat kusut membuat batin Theo sakit. Dia melihat wanita yang telah melahirkannya tersebut—benar-benar sangat menyedihkan.
"Mama." Theo memeluk Delarosa karena merasa tidak tega. Wanita paruh baya itu menangis saat melihat anaknya menjenguk dirinya.
"Theo... apakah kau tidak pergi bekerja, mengapa kau datang ke mari sepagi ini?"
"Aku telah dipecat, Ma. Rupanya Alden bukanlah lelaki sembarangan, bahkan dia bisa membuatku yang sebelumnya adalah karyawan kepercayaan menjadi benar-benar hina, Ma."
Delarosa hanya bisa menangisi kebodohannya—dia tidak tahu jika kekasih mantan menantunya itu adalah orang berpengaruh.
"Apa yang harus kita lakukan untuk bisa lepas dari ini semua?" Delarosa merasa hidupnya hancur, seolah tidak memiliki harapan bebas.
"Aku akan minta maaf pada Haura, jika perlu aku akan bersujud di kakinya, agar dia mau memaafkan ibu. Aku yakin Haura masih memiliki sisi lemah lembut," ungkap Theo.
"Maafkan Mama karena telah menyusahkanmu, Nak." Theo hanya diam dan mengangguk. Tekadnya kuat untuk bertemu dan meminta maaf pada mantan istri yang masih dicintainya itu.
~•~
Callie telah pulang, dan Haura sudah kembali berdua dengan Alden. Pria itu menatap Haura yang sedang mencuci piring, perlahan dia mendekat ke arahnya.
Haura menyadari langkah kaki Alden, meski setenang angin, membuatnya langsung menoleh waspada.
"Ada apa?"
Alden tidak menjawab, malah merengkuh pinggang Haura, dan mencium wanita itu tanpa permisi. Di alam bawah sadar Haura, wanita itu memejamkan mata, dan membalas panggutan dari bibir Alden, hingga membuat Alden mengangkat tubuh Haura, dan mendudukkan wanita itu di atas meja dapur tanpa melepaskan ciumannya.
To be Continue~