
Alden merentangkan kedua tangan memeluk kekasihnya yang baru beberapa jam lalu dia tinggalkan dan masih terlelap dipeluk mimpi. Tapi saat siang hari dia malah menemukan Haura sudah di depan meja polisi sedang di mintai keterangan.
Tidak bisa dipungkiri jika hati Theo hancur, ketika melihat mantan istrinya sudah mendapatkan tambatan hati lain, bahkan seolah dia tidak percaya jika Haura benar-benar sudah melupakan tahun-tahun mereka bersama. Tanpa terasa air matanya menguar—tidak bisa membendungnya lagi, Theo memilih keluar, agar semua orang tidak melihat kesedihannya.
Sementara Angeline makin meradang melihat keintiman dari dua orang yang sedang dimabuk kepayang itu. Dia meremas tas yang sejak tadi ia pangku, dan memperlihatkan ekspresi yang begitu murka.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Walsh?" Si polisi nampak salah tingkah dengan kedatangan Alden yang di luar perkiraannya. Dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Haura adalah kekasih dari salah satu orang berpengaruh di kota ini. Meski keluarga Walsh berpengaruh, akan tetapi mereka sama sekali tidak pernah melihatkan tajinya, atau kekuasaan mereka—keluarga Walsh akan turun tangan jika miliknya terusik, dan hal itu membuat mereka terlihat lebih menyeramkan dari keluarga berpengaruh lainnya.
"Boleh aku melihat rekaman kamera pengawas yang diberikan oleh saksi?" tanya Alden bergerak duduk di depan polisi tersebut.
"Ah... tentu, Tuan. Silakan," jawab si polisi terlihat benar-benar gugup, dia memutar komputernya saat akan memperlihatkan rekaman itu pada Alden.
Alden menonton apa yang disuguhkan oleh komputer si polisi untuk beberapa menit, lalu dia menarik napas, dan mengembuskannya dengan kasar.
"Rupanya ada yang mengirim rekaman tidak utuh." Alden melirik ke arah Angeline, yang langsung membuat wanita itu beringsut.
Di dalam rekaman itu sengaja di potong, hanya adegan Haura yang tiba-tiba menyiram air kopi panas ke muka dua wanita itu, sementara rekaman saat Alila menarik rambut, dan menampar Haura tidak ikut disertakan, seolah memang sengaja dipotong. Alden memberi isyarat pada sekretarisnya untuk memberi tablet yang berisi potongan rekaman utuh dari kejadian yang sebenarnya.
Josep memberi benda itu, pada si polisi agar petugas yang berwajib tersebut memeriksa rekaman itu. "Tolong periksa itu dengan teliti, Pak!" perintah Alden, masih dengan senyuman tenang, walau bagi sebagain orang senyuman Alden terlalu menakutkan.
Polisi itu menarik napas dalam, lalu meletakkan tablet tersebut ke atas meja.
"Nyonya Angeline dan Nyonya Alila. Saya terima laporan Anda. Akan tetapi untuk Nyonya Haura, Anda juga berhak melaporkan kejadian ini, dengan pasal penyerangan juga." Polisi itu berbicara sambil menatap wajah para wanita itu.
Pak polisi itu menuruti perintah Alden, ketika dia melihat rekaman setelahnya dia terlihat terkejut, dia melihat video Angeline mendorong Haura, hingga wanita itu terhantuk ke dinding dan tak sadarkan diri, dan bukti kongkritnya adalah—di kening Haura masih tertempel perban yang menutupi lukanya kemarin.
"Saya akan melaporkan ini, atas tuduhan penganiayaan, Pak," ungkap Alden, dia melipat kedua tangannya ke depan.
"Jangan... jangan Alden! Kumohon! Bagaimana dengan karirku jika aku di dalam penjara!" rengek Angeline, berlari ke arah Alden dan menyentuh kaki pria itu.
"Kau juga tidak memikirkan nasib Haura saat kau melaporkan dirinya ke kantor polisi!" Tatapan Alden begitu nyalang dan menakutkan hingga mampu membuat Alila terkejut, jika mantan bosnya itu benar-benar terlihat menakutkan jika menyangkut masalah Haura, bahkan dia bisa berbuat hal menakutkan untuk Angeline sahabatnya sendiri.
"Josep! Pecat secara tidak hormat, orang keamanan yang memotong kamera pengawas untuk Angelin!" perintah Alden dengan nada tinggi.
Haura yang melihat kejadian itu nampak tersenyum bangga, karena dia tidak perlu repot-repot untuk melawan Angeline dan Alila sendiri.
"Baiklah, aku akan mencabut laporanku untuk—" Angeline melirik ke arah Haura yang duduk dengan angkuh di kursi belakang Alden. "Aku akan mencabut laporanku untuknya!" imbuhnya lagi.
To be Continue~