Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 62 • Pemakaman


Alden merasa khawatir mendengar kekasihnya sedang berada di rumah sakit seorang diri bersama mantan suaminya.


Pria itu memutuskan untuk meninggalkan Josep yang sedang berbicara serius dengan Angeline masalah mereka berdua, di dalam benak Alden hanya Haura. Alden bergerak menjauh dari mereka. Memutar arah turun melawati lift, dengan menggunakan mobil, pria itu melesat pergi untuk menemani kekasihnya. Dia sama sekali tidak memedulikan keselamatannya, bahkan di jalanan yang cukup lengang itu, Alden memacu mobil dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam, hanya ingin segera sampai. Benar saja pria itu tidak butuh waktu lama sudah berada di pelataran parkir rumah sakit pusat kota Tadpole.


Mengeluarkan ponsel dia kembali menghubungi sang kekasih—tapi Haura sama sekali tidak menjawab panggilannya. Hal itu semakin membuat Alden sangat khawatir. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sosok wanita yang ia kenal sedang duduk termenung sendiri di ruang tunggu. Tatapannya tampak kosong memandang ke depan. Perlahan Alden mendekati wanitanya itu, kemudian duduk di sampingnya, tanpa berkata apa pun. Sepertinya Haura butuh waktu untuk menjelaskan ada apa ini.


Alden mengedarkan pandangannya. Dia melihat vending mesin minuman otomatis. Ia memutuskan untuk membeli minuman untuk kekasihnya yang sedang terdiam sendiri.


Tak lama ia datang membawa dua kaleng minuman jus untuk Haura, lelaki itu menyodorkan kepada kekasihnya.


Barulah Haura sadar jika sejak tadi Alden ada di dekatnya.


"Alden?" Tanpa mengambil minuman yang disodorkan oleh sang kekasih, Haura malah langsung mendekap tubuh kokoh itu. Tempat ternyaman di mana ia selalu berkeluh kesah. Perlahan dia berkata. "Aku berdosa... aku berdosa."


Alden memeluk tubuh mungil itu, mengelus surai yang begitu lembut dan wangi vanila yang selalu memanjakan indra penciumannya.


"Ada apa, Sayang?"


"Delarosa tiada, dan itu karena aku.... " Napas Haura nampak tidak beraturan dengan air mata yang tiba-tiba tumpah tidak terbendung.


Alden yang melihat Haura nampak rapuh, mendekapnya semakin kuat dan dalam.


"Itu bukan salahmu, ini semua takdir—dan sudah jalan mantan mertuamu itu," tukasnya.


Haura menggeleng cepat. "Aku mengunjunginya di penjara, dan berkata jika Theo mandul. Apakah mungkin karena itu dia tiada?"


Alden merapikan rambut Haura yang sedikit basah karena keringat dan air mata, hingga menutupi sebagian wajahnya.


"Ingat Haura! Kau tidak membunuhnya, dia sakit—sudah menjadi jalan takdir Delarosa untuk meregang nyawa dengan cara seperti itu."


"Haura... kau bisa datang ke peristirahatan terakhir mamaku?"


Haura membisu, dia hanya menatap nanar ke arah Theo yang juga tak kalah sedih dengannya.


"Semoga ibumu tenang di sana. Aku turut berdukacita."


Theo tidak berkomentar saat Alden berkata demikian. Dia hanya butuh jawaban Haura—apakah dia mau menemaninya atau tidak.


"Aku tidak bisa berjanji. Aku akan datang atau tidak, ikut sertakan istrimu, bagaimanapun juga, dia adalah wanita pilihan ibumu hingga akhir hayatnya."


"Tapi aku membutuhkanmu, Haura!" seru Theo. Dia tidak peduli lagi dengan kehadiran kekasih Haura di samping wanita itu.


"Jaga batasanmu, Theo!" Alden mulai memasang sikap waspadanya. Tapi dengan cepat Haura mencegah pertengkaran mereka berdua, menahan tubuh Alden dengan tangannya seolah memberi isyarat agar Alden tetap tenang.


"Baiklah aku akan hadir hingga ke pemakaman."


Alden melotot ke arah Haura, tapi dia tetap harus menghargai keinginan kekasihnya. Mungkin dia hanya ingin menebus kesalahannya pada Delarosa saja.


"Terima kasih." Theo memutar badan, dan pergi menjauh dari Alden dan Haura.


"Maafkan aku, aku mengecewakanmu," gumam Haura, karena sebenarnya Alden tidak mau jika Haura dekat-dekat kembali dengan Theo.


"Aku mengerti. Aku juga akan bersamamu nanti."