
Setiap surai yang telah tercabut dari kepalaku, akan menjadi pembalasan setimpal atas semua rasa sakitku!
~•~
"Apa yang kalian lakukan pada kekasihku?!" hardik Alden, merengkuh kedua lengan Haura, tubuh wanita itu nampak terhuyung karena kerasnya tarikan Delarosa di surai Haura.
Haura benar-benar merasakan sakit di kepalanya, bekas jambakkan brutal dari mantan ibu mertuanya yang tentu saja tidak tahu diri itu. Bahkan Haura bisa melihat rambutnya sendiri yang ikut tercabut dan menempel di sela-sela jari Delarosa.
Dengan napas terengah-engah, menjawab pertanyaan Alden tidak mau kalah.
"Kekasih?!" Wanita paruh baya itu terkekeh, meledek Alden. "Kau harus didik kekasih murahanmu itu, agar tidak mengganggu anakku—ya, mantan suaminya!" ucapnya tegas, matanya melirik kearah Haura yang masih meringis kesakitan.
"Omong kosong! Justru anakmu-lah yang mengemis cinta Haura, bahkan dia sampai tertidur di depan pintu ini dalam keadaan mabuk, hanya untuk meminta Haura kembali menjadi istrinya!" erang Alden menunjuk ke arah pintu apartemen Haura, seolah tidak suka mengingat kejadian di mana Haura mengantarkan pria itu pulang ke rumah.
"Tu–tuan—" Kalimat terbata keluar dari bibir Alila, wanita itu memandang Haura dan Alden secara bergantian, dia tidak bisa berkata apa pun lagi, ketika dengan lantang mantan bos tampannya itu mengakui Haura, wanita yang ia anggap payah, sebagai kekasihnya. Sejak dahulu Alden memang bos yang diidam-idamkan para wanita, dan dia tidak habis pikir kenapa dia malah menyukai wanita seperti Haura, yang dia pikir tidak jauh lebih baik dari dirinya.
"Siapa kau?!" dengus Alden menanggapi sapaan Alila. Ekspresinya menunjukan tidak suka.
"Saya salah satu mantan karyawan Anda, Tuan," jawabnya pelan, dan dibuat-buat seolah dirinya adalah wanita anggun.
"Mantan Karyawan?" Alden mengerutkan kening. "Syukurlah jika perusahaanku telah kehilangan karyawan yang tidak ber-atittide sepertimu!"
Tanggapan dingin dari mantan bosnya itu membuat dirinya menelan ludah. Ia berharap jika Alden akan melirik ke arahnya. Terpesona akan kecantikannya yang tidak kalah dari Haura, tapi anggapan itu salah kaprah, karena Alden benar-benar marah sekarang.
Tiga orang sekuriti yang menjaga di setiap lantai apartemen datang, karena mendengar keributan dari unit apartemen Haura.
"Ada apa ini Tuan Walsh?" tanya salah satu dari mereka.
"Bawa dua wanita tidak waras ini ke kantor polisi!! Aku akan membuat laporan tentang penyerangan dan pengeroyokan!" tandas CEO itu dengan tegas.
"Apa... apa? Kau tidak bisa berbuat seperti ini?! Memangnya kau siapa, 'ha?!" teriak Delarosa, mulai meronta saat dua sekuriti menyeret dirinya untuk dibawa ke kantor polisi. Sementara Alila yang masih tidak percaya dengan Alden yang berkata jika dirinya adalah kekasih Haura nampak diam, dan ikut hanyut dibawa serta, tanpa perlawanan sama sekali.
"Kau tidak apa-apa?" Alden menyentuh kepala Haura bekas tarikan kuat dari wanita paruh baya tadi. "Apakah dia mantan ibu mertuamu yang selalu menyusahkanmu?" Alden memeluk erat tubuh Haura, hal itu membuat Haura merasa nyaman, bahkan entah mengapa dia bisa menangis sejadi-jadinya saat Alden mendekap tubuhnya. Seolah ia benar-benar ingin menumpahkan segala apa yang ada di pikirannya pada Alden. "Maaf... tadi aku terlambat menyelamatkanmu. Harusnya tadi aku saja yang membuka pintu itu."
Haura hanya bisa menumpahkan air mata, dan secara impulsif tangannya ikut memeluk Alden, karena tindakan pria itu membuatnya benar-benar merasa nyaman dan dilindungi.
Delarosa dan Alila duduk di atas sofa. Sementara Haura yang ditemani Alden, mengadukan tindakan penganiayaan dan penyerangan yang dilakukan mantan mertuanya pada dirinya.
"Aku tidak bersalah Pak Polisi, aku hanya menyelamatkan harga diri anak dan menantuku!" elak Delarosa, membela diri. Padahal jelas-jelas terbukti jika Alden saksinya, dan CCTV di lorong apartemen akan menjadi bukti tambahan di pengadilan nanti.
"Anda sebaiknya diam, Nyonya! Karena ini bukan masalah main-main, Anda telah melakukan penyerangan terhadap tunangan tuan Alden Walsh!" hardik polisi yang tengah menerima laporan Haura, untuk membungkam mulut Delarosa yang selalu mengoceh.
Suara langkah kaki mengadu lantai terdengar dari jauh, Theo berlari tunggang langgang ke kantor polisi, setelah dirinya mendapat kabar, jika ibu dan istrinya melakukan penyerangan pada mantan istrinya.
Melihat anaknya datang, Delarosa langsung berdiri dan memeluk Theo, seolah tengah mengadu dan memutar balikkan fakta, jika dialah korban sebenarnya. Tapi ketika Theo melihat Haura yang rambutnya nampak berantakan seolah bekas tarikkan membuat Theo sadar jika wanita yang telah melahirkan dirinyalah yang salah.
"Apa yang telah Mama lakukan?!" Wajah Theo tidak bisa ditutup-tutupi, ia nampak khawatir dan takut jika ibunya yang sudah akan memasuki usia senja, harus dipenjara.
"Aku tidak sengaja menarik rambutnya, karena dia telah memprovokasi aku, Theo," sanggah Delarosa dengan nada manja.
"Omong kosong! Kau telah menggedor pintu unit apartemen Haura, saat Haura membukanya, Kau langsung melakukan serangan terhadap kekasihku!" Alden mulai geram dengan drama yang dibuat oleh wanita tua dengan dandanan menor tersebut . "Apa perlu bukti tambahan CCTV?" imbuh Alden lagi.
Mendengar kata kamera pengawas, membuat Delarosa menelan ludah, apa yang diperbuatnya pasti terekam dengan jelas di sana. Hal itu membuatnya terdiam dan kembali duduk.
"Haura... tolong maafkan Mama, ingat dia juga Mamamu!" Theo bersujud di kaki Haura yang duduk di depan meja polisi, dan di sebelah Haura ada Alden yang selalu berada di sampingnya. "Aku mohon lepaskan Mama, ingat! Dia juga mertuamu!" celoteh pria itu.
Haura yang sejak tadi diam, tiba-tiba terkekeh mendengar kelakar dari Theo sang mantan suami yang telah tega meninggalkan dirinya dan membuat hidupnya hancur. Wanita itu berbalik badan, dan membuat Theo benar-benar seolah sujud di kaki Haura, Haura mengusap air matanya yang sejak tadi menguar membasahi pipinya.
"Mama mertua kau bilang?!" desis Haura, matanya melirik ke arah Delarosa yang sejak tadi membisu setelah Alden mengancamnya dengan bukti baru. "mungkin mantan mertua yang kau maksud?! Aku tidak pernah mau memiliki mertua berhati jahat seperti Mamamu, yang sanggup memisahkan anak dan istrinya! Tanpa memiliki alasan yang jelas! Aku tidak pernah mau mengingat jika aku pernah menjadi istrimu—camkan itu, Theo!" ungkap Haura, bahkan di setiap kalimat yang terucap di bibir wanita itu seolah mengandung dendam untuk Theo dan Delarosa.
"Lanjutkan pemeriksaan ini Pak Polisi! Aku akan mengeluarkan bukti-bukti baru untuk memberatkan pelaku!" titah Alden, yang langsung ditanggapi serius oleh polisi yang tengah menangani mereka.
"Ayo, sayang. Kita pergi dari sini!" Alden memapah Haura, dan terus mendekap wanita itu seolah enggan melepaskannya.
to be continue~