
"Aku ingin bertanggung jawab, jika dia mau dinikahi." Josep berbicara sembari melirik ke arah Angeline yang masih berdiri mematung di depan Alden. "Tapi kenyataannya, dia hanya menginginkanmu, Alden!" erang Josep lagi.
Josep bukanlah pria yang akan lari dari tanggung jawab, ketika memang dirinya telah melakukan kekeliruan. Tapi di sini yang dipertanyakan oleh Josep, apakah Angeline mau dengannya, dan menerima dengan sepenuh hati.
"Kenapa bukan kau?" Angeline bergumam di depan Alden, dia mulai kehilangan kendalinya, air matanya mulai keluar dari celah matanya.
Alden menarik napas ingin membuka suara menjawab pertanyaan Angeline. Namun, yang terjadi sungguh di luar dugaan Alden. Haura berjalan maju, lalu menggandeng tangannya.
"Karena dia adalah milikku, tidak ada yang bisa memilikinya kecuali aku!"
Haura kini tidak peduli jika dirinya dianggap egois, nyatanya hanya Alden-lah orang yang menurutnya tepat untuk hidupnya—pria ini juga bisa menyembuhkan luka hatinya, bahkan menambal luka-luka menganga yang tidak mungkin tertutup kembali—tapi Alden bisa melakukannya, dan meyakinkan Haura.
"Sejak awal dia sahabatku!" seru Angeline membuat Josep ingin maju dan membuat dia tenang, tapi sedetik kemudian pria urungkan, karena pasti Angeline akan meronta.
"Kau orang baru! Aku mengenal Alden sejak kita masih sama-sama sekolah," balas Haura, mengeratkan gandengannya di tangan Alden.
Angeline bungkam, rupanya baik Alden maupun Josep tidak ada yang membelanya lagi. Bahkan saat Haura membentak dirinya, Alden yang biasa selalu menjadi garda terdepan saat ada orang yang membuat Angeline marah atau terluka—maka Alden yang akan membereskan semua untuk Angeline. Tapi kali ini, Angeline benar-benar harus bangun dari mimpinya. Karena dia bukan lagi seseorang yang penting untuk Josep dan Alden.
"Kalian tidak menyayangiku lagi?" gimana Angeline, matanya berubah nanar, seolah minta untuk dikasihani.
"Rasa sayangku terhadapmu masih sama, sebagai sahabat dan seorang teman. Bukan untuk pendamping hidup, An. Itu yang harus aku tekankan padamu. Karena mungkin kau menganggap kebaikan dan perhatianku lain, dan kau menyalah artikan itu." Alden menjelaskan.
"Kalian—" Angeline berbalik badan dan berlari pergi dari ruangan Alden.
Secara impulsif Josep yang memang mencintai Angeline mengikuti wanita itu dari belakang, seolah pria itu takut jika Angeline melakukan sesuatu yang di luar batas.
"Tidak!" Alden menggeleng cepat.
"Tapi dia sahabatmu, Alden!"
"Lalu?"
"Kejarlah! Dia rapuh!" perintah Haura, meski sebenarnya dia tidak suka Alden berdekatan dengan wanita cantik itu, tapi Haura yakin jika kekasihnya itu tidak akan mengkhianati dirinya.
Bagaimana pun Alden menyayangi Angeline, hal itu membuat Alden berlari mengejar Angeline bersama Josep, tanpa di suruh dua kali oleh Haura.
Haura menghela napas, lalu ikut berjalan santai ke luar kembali ke meja kerjanya. Setidaknya dia sudah lega karena bisa bersikap tegas dengan Angeline dan membuka mata wanita itu. Haura hanya ingin Angeline bisa menerima keputusan Alden yang ingin menikah dengannya.
Tiba-tiba ponsel Haura berdering, nama Theo tertampil di layar gawai itu. Haura mendesah tidak suka, tapi tetap saja Haura menjawab panggilan Theo.
"Halo...."
"Haura... Haura... bisakah kau ke sini? Mama—"
"Kenapa dengan mamamu?" Haura nampak terkejut ketika Theo nampak menangis dari balik teleponnya.
"Mama... Mamaku masuk rumah sakit, dia kritis karena pembuluh darah di otaknya pecah. Aku tidak kuat, Haura. Aku takut mamaku—" Suara tangis Theo nampak nyaring di telinga Haura.
Haura hanya bisa terkejut tidak percaya, padahal kemarin Delarosa masih baik-baik saja. Tapi kini wanita itu berakhir di rumah sakit. Apakah ini semua karena Haura? Mulut Haura menganga karena tidak percaya, dan wanita itu memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menjenguk mantan mertuanya.