Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 23 • Aku Mencintaimu


Rasa Trauma akan cinta, masih menghantui relung hatiku.


~•~


Haura kembali ke apartemennya, jujur saja hatinya masih terasa sakit, karena ulah mantan mertuanya yang selalu ingin mengusik hidupnya. Mereka sudah berhasil menyingkirkan dirinya, lalu sekarang apa? Dia hanya ingin hidup tenang, bekerja, bahkan dia tidak ingin lagi merasakan pahitnya cinta. Karena penderitaan yang telah ditorehkan oleh Theo. Ia berbaring di atas tempat tidur, menghadap jendela kaca yang langsung menyuguhkan pemandangan indah kota Tadpole, kota ini memang tidak pernah sepi—meski tengah malam sekali pun. Tanpa sadar air mata Haura keluar, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, perbuatan apa yang dia lakukan, hingga Theo dan ibunya masih saja mengusiknya.


Cobaan yang Haura alami membuat dia sadar dan memandang persoalan secara berbeda, untuk pertama kalinya dia merasa dan tidak mengerti—mengapa ada beberapa orang yang begitu kejam dan tidak peka terhadap manusia lainnya.


~•~


Haura bangun dengan perasaan tidak menentu, dia terbangun di hari Senin, dan dia harus bekerja, dengan suasana hati yang tidak enak. Bahkan ketika ia mencuci muka di depan wastafel, matanya terlihat sembab, mungkin karena dia menangis sepanjang malam tanpa berhenti.


"Bagaimana aku bisa berangkat bekerja dengan mata seperti ini?" gumamnya, memerhatikan netranya yang membengkak.


Apakah dia harus izin untuk libur? Tapi untuk apa, toh dirinya tidak dalam situasi mendesak atau sakit.


Akhirnya Haura memutuskan untuk berangkat kerja, wanita itu turun berjalan menuju lift—Haura menarik napas lega, kali ini dirinya tidak melihat Alden seperti biasa, yang seolah selalu menunggu dirinya di depan lift, dan melewatkan benda itu naik turun membawa orang, hanya untuk menunggu Haura datang. Tapi kali ini tidak.


Hingga Haura sampai ke basemen dia sama sekali tidak bertemu dengan Alden, bahkan tempat yang biasa di pakai pria itu untuk memarkirkan mobilnya, telah kosong. Mungkinlah Alden berangkat lebih awal? Atau Alden tersinggung dengan kata-katanya semalam?


Mata Haura tertuju pada mobil baru yang Alden berikan, tapi terlintas di pikirannya, dia tidak ingin menggunakan mobil itu kali ini, dan dia memilih naik transportasi umum untuk pergi ke kantor.


Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam Haura telah sampai di halte pemberhentian tidak jauh dari gedung De Beauty.


Saat Haura berjalan masuk, sebuah mobil berhenti tepat di depan Haura, kemudian kaca mobil itu terbuka. Dia melihat Theo ada di dalam sana, dan keluar menghampiri Haura yang berdiri mematung. Haura yang masih terkejut nampak tidak bisa berkata apa-apa.


"Ikut aku!" tukasnya, tangannya menyeret Haura, dan ingin membuat wanita itu masuk ke dalam mobilnya. Haura berontak dan tidak ingin masuk ke dalam sana, dia meminta tolong, akan tetapi semua orang seolah enggan menanggapi teriakan frustasi Haura, dan memilih jarak aman dan tidak ingin turut campur dengan apa pun yang menimpa Haura dan Theo. Karena ia menganggap mungkin saja mereka berdua adalah sepasang suami istri yang tengah saling bertengkar.


"Lepaskan aku!" teriak Haura mencoba melepaskan cengkeraman tangan Theo yang membelenggu dirinya. "Tolong!" Haura menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi nihil semuanya hanya melihat tanpa memedulikan Haura yang dipaksa masuk ke dalam mobil.


Beruntung sebuah mobil berhenti tepat di depan mobil Theo, seorang pria dengan pakaian setelan tiga potong keluar, dan langsung menerjang Theo dengan sebuah bogem mentah, hingga membuat Theo terhuyung dan jatuh ke atas aspal.


"Berani-beraninya kau menyentuh wanita yang aku cintai!" hardik Alden. Semua orang yang melihat bos mereka tengah menghajar seorang lelaki, barulah mereka ikut serta menangkap Theo.


"Kau pergi dari sini, dan jangan pernah mengganggu Haura lagi!" ancam Alden, matanya menyorot tajam seolah menguliti Theo. "Jika kau berani menyentuh Haura lagi, maka hidupmu akan berakhir di jeruji besi!"


Haura hanya bisa menangis, dan seluruh badannya bergetar ketakutan, dia tidak tahu mengapa Theo berani berbuat seperti tadi, seolah nekat akan menculik Haura.


"Berhenti menangis, kau aman bersamaku." Pelukan hangat itu lagi. Alden kembali menjadi dewa penolong Haura, seolah takdir menciptakan Alden hanya untuk Haura. Wanita itu menangis di dalam pelukan bosnya. Sementara semua orang yang awalnya mengira jika Alden hanya ingin menyelamatkan karyawannya yang akan diculik, kita semuanya yakin—jika ada hubungan spesial antara Alden dan Haura.


"Tenanglah! Aku selalu ada untukmu," ucap pria itu lagi, mengelus lembut surai halus Haura, untung saja tadi dia datang tepat waktu, bagaimana jika Alden terlambat, mungkin saja Theo akan berbuat jauh kepada wanita ini.


Haura masih menangis di pelukan Alden, tanpa di duga Alden mengecup rambut Haura di depan orang-orang yang sedang berlalu lalang.


"Aku mencintaimu." Suara itu meluncur begitu saja dari bibir Alden, membuat tangis Haura seketika terhenti.


"Apa?" Haura melepaskan pelukan Alden, dan menatapnya dengan lekat.


"Aku mencintaimu, sejak dulu. Sejak kita masih di bangku Sekolah Menengah Atas."


Haura mengusap air matanya sendiri, dan sadar—jika semua yang dilakukan Alden selama ini semata-mata bukan karena pria itu baik, tapi ada maksud lain. Karena pria ini mencintai Haura.


"Ma–maaf, Bos. Aku akan masuk ke dalam." Haura pergi meninggalkan Alden, meski dengan kaki yang masih bergetar karena takut dengan kejadian sebelumnya, tapi pernyataan cinta Alden membuat Haura semakin terkesiap dan tidak bisa berkata apa pun. Rasa trauma akan jatuh cinta, membuat dirinya benar-benar tidak mempercayai apa itu cinta.


Dengan sikap Haura yang langsung meninggalkan Alden, itu adalah jawaban dari Haura, jika dia menolak pengakuan cinta Alden untuk dirinya.


◦•●◉✿To Be Continue✿◉●•◦


Hallo... maaf untuk update sebelumnya ada beberapa kekeliruan, sudah aku revisi. Akibat menulis dalam keadaan luar biasa mengantuk. Semoga masih bisa dinikmati. Terima kasih yang sudah mengingatkan 💜


luv,


Novi Wu