
Part ini sisa dari part sebelumnya, untuk lebih amannya aku anjurkan wajib dibaca setelah buka puasa.
~•~
Napas mereka semakin beradu, membentuk gelora panas yang menjangkiti keduanya. Haura mencengkeram kuat pinggir sofa saat ia akan menuju puncak nirwana. Lengkingan mewarnai seisi ruangan membentuk suara-suara sensual yang memanjakan telinga Alden yang masih terus memompa di atas tubuh Haura.
Keduanya mengejang secara bersamaan, begitu rasa nikmat menjangkiti tubuh Alden dan Haura, seolah mereka berdua benar-benar terbang ke atas langit ke tujuh secara bersama-sama. Hingga Alden dan Haura saling merengkuh satu sama lain. Tidak bisa dipungkiri ini kali pertama Haura menumpahkan gelora hasrat dengan pria lain—apalagi Alden, ini bahkan perdananya melakukan ini, dan itu dirinya lepaskan bersama wanita yang selama ini sangat ia idamkan—Haura.
Haura menatap langit-langit apartemennya, sementara Alden masih berada di atas tubuhnya yang masih polos seperti bayi. Senyuman terukir di bibir wanita itu, dengan menggigit satu pinggir bibirnya. Haura tidak menyangka dia telah berbuat sejauh ini dengan Alden, bahkan dengan keadaan sadar.
Tak lama Alden beranjak dari tempat tidur dan mengais baju dan celananya yang berserakan di lantai. Tapi Haura malah dengan tunggang langgang berlari ke arah kamar tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya yang polos.
Alden bisa membaca wanitanya itu pasti akan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Melihat sikap impulsif dari Haura membuat Alden tersenyum. Antara percaya dan tidak percaya, akhirnya dia telah melepaskan itu semua dengan wanita yang dia cintai.
~•~
Haura keluar kamar mandi dengan perasaan malu, bagaimanapun juga, dia merasa seharusnya percintaannya tadi terjadi. Ia duduk di depan cermin meja rias menatap bayang dirinya di depan kaca, sekelebat bayangan kejadian bersama Alden membuat wajahnya memerah, anehnya senyuman tipis keluar dari bibirnya, tangannya menyambar parfum yang tergeletak di jajaran krim wajah lalu secara impulsif dia menyemprotkannya di tubuh. Namun, sepersekian detik dia baru sadar—untuk apa Haura memakai parfum? Bagaimana jika aroma ini menggugah gelora itu kembali, dan mereka mengulanginya lagi. Haura menggeleng menyadarkan dirinya.
"Haura... Meskipun kau tidak cantik, tapi kau harus tetap bersikap mahal, sebagai wanita," gumamnya pelan, lalu di berjalan menuju walk in closet mencari baju, pilihannya jatuh pada sebuah dress berwarna biru muda, sebatas lutut dengan kerut di bagian perut yang membuat bagian ramping itu terlihat jelas. Dia berjalan menuju pintu, dan untuk kesekian kalinya ia kembali memastikan penampilannya dan berkaca di depan cermin. Barulah dirinya keluar.
Alden sudah menunggu di meja makan dengan cahaya temaram yang hanya dihiasi oleh lilin dan lampu-lampu kecil yang menggantung tepat di atas meja makan tersebut, tak lupa pria itu memasang musik romantis untuk mendukung makan malam keduanya.
"Silakan duduk Tuan Puteri," ucapnya menarik kursi agar Haura duduk. Mendapat perlakuan super istimewa seperti itu membuat pipi Haura kembali memerah.
Keduanya makan malam romantis di dalam apartemen Haura, dalam keadaan hening dan tidak bicara satu sama lain, seolah otak keduanya hanyut ke dalam pikiran mereka masing-masing.
"Itu adalah kali pertamaku melakukannya." Alden membuka percakapan untuk memecah sepi.
"Hah?" Haura hampir tidak percaya jika apa yang dikatakan Alden tempo hari benar adanya. Akan tetapi untuk ukuran pertama kali, Alden cukup mendominasi, dari pada dirinya yang mungkin sudah sering melakukannya dulu bersama Theo lelaki durjana itu.
"Kau tidak percaya?"
"Tidak... aku percaya," jawab Haura.
"Aku ingin kita segera menikah, Haura. Aku hanya ingin mengikatmu, agar tidak ada pria lain yang akan menggangu hubungan kita, aku tidak main-main. Aku benar-benar sangat mencintaimu, sebesar apa pun yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya."
"Aku butuh waktu, tapi aku pastikan akan menjawab itu sesegera mungkin," jawab Haura.
To be continue~
Apa tanggapan kalian? Kurang frontal? Ya, aku memang bukan penulis yang menjabarkan adegan itu secara eksplisit. Karena aku mempersembahkan seni, bukan pornliterasi. Peluk online dari aku untuk semua bestie-bestie. Semoga kalian mengerti.