
Setelah Haura mendekat, barulah mata tua Callie mengenali Haura yang sedang berjalan di belakang mereka.
"Haura... apakah Alden tidak menjemputmu untuk datang ke mari?" tanya wanita tua itu, melirik ke arah cucunya.
"Nenek mengenal wanita ini?" celetuk Angeline merasa bingung, rupanya dia melewatkan banyak hal selama dirinya bertolak ke luar negeri mengikuti acara fashion show.
"Ya... tentu saja, apakah kau tidak tahu--jika Haura adalah kekasih sahabatmu?" dengus Callie. "Bahkan mereka berdua sudah tinggal bersama," tegas wanita itu lagi.
"Tinggal bersama?!" seru Angeline tidak percaya, wanita itu melirik ke arah Alden dan Josep yang sepertinya menyembunyikan sesuatu dari dirinya—menagih penjelasan.
"Nenek... ayolah kita segera masuk!" Josep mengambil inisiatif untuk memecah kecanggungan di antara mereka. Merangkul wanita tua itu menuju ke dalam. "perutku sudah lapar."
Angeline masih merasa bingung, dan tentu saja rasa tidak sukanya terhadap Haura semakin menjadi-jadi.
Di dalam ruang makan Edward telah menunggu kedatangan mereka, pria tua itu tampak menuangkan teh ke cangkir satu persatu untuk mereka, ekspresinya berubah sumringah saat mengetahui kedatangan Haura yang sudah ia anggap seperti cucunya sendiri.
"Haura... kau sudah datang? Lihatlah nenekmu telah membuat makanan kesukaanmu, bahkan dia mencari resep di internet hanya untuk membuatkan ini untuk dirimu." Pria tua itu membuka kursi untuk kekasih kontrak Alden tersebut.
Angeline yang melihat keanehan ini benar-benar merasa aneh, bahkan dia beberapa kali menunjukkan ekspresi marah pada dua sahabatnya--agar mereka mau menjelaskan tentang kejadian janggal di depan matanya.
Angeline menarik tangan kedua pria itu menuju ruangan lain, dan meminta penjelasan pada mereka. Ia memastikan keadaan aman sebelum menutup pintu. setelah semua aman, Angeline bersedekap menagih penjelasan pada Alden dan Josep.
"Ada yang bisa menjelaskan ada apa ini?"
Alden dan Josep saling memandang satu sama lain. Keduanya merasa bingung harus menjelaskan perkara ini dari mana.
"Kalian yakin tidak ada yang ingin menjelaskan sesuatu padaku?" tanyanya lagi mempertegas pertanyaan sebelumnya. "Atau mungkin aku harus bertanya pada kakek dan nenek?"
"Aku mencintainya--" celetuk Alden, membuat Angeline seketika melirik ke arah Alden.
"Siapa?"
"Haura... siapa lagi," sahut Josep meneruskan kalimat Alden yang terputus.
"Oh...." Ekspresi Angeline berubah kecewa, seolah dirinya benar-benar dikhianati oleh dua sahabatnya itu. "Lalu kau memintanya untuk menjadi kekasihmu? Benar?" tanyanya pada Alden.
"Lebih tepatnya kekasih kontrak," jawab Alden.
Angeline menekuk alis, seraya bingung--beberapa kali dirinya menyibakkan rambut coklatnya untuk menutupi keresahan hatinya.
"Jika kau memang mencintai dirinya, untuk apa kau memintanya menjadi pacar kontrak, seharusnya kau meminta dia menikah denganmu!"
"Alden ditolak," celetuk Josep menahan tawa.
"Tutup mulutmu, Josep!" desis Alden, mencoba menutup mulut pria itu, dan kata-katanya berhasil membuat Josep mengunci mulutnya, meski ekspresinya masih saja terlihat mengejek.
"Aneh... baru kali ini aku melihat wanita menolak Alden," komentar Angeline, berbalik badan dan membelakangi kedua sahabatnya. Wanita itu menarik napas lega, karena berati Haura tidak akan membalas cinta Alden.
"Tapi aku tidak akan menyerah, sebelum dia menerimaku, aku sudah mencarinya sejak lulus Sekolah Menengah Atas."
Pikiran Angeline menerawang, dulu Alden pernah bercerita jika dirinya mencintai seorang wanita sejak masa-masa sekolah.
"Apakah itu dia?" Napas Angeline kembali naik turun, dadanya terasa panas, apalagi melihat Alden dan Josep mengangguk secara bersamaan mengamini pertanyaannya.
"Oh...." komentarnya singkat, setelah mendapat jawaban dari anggukan Alden dan Josep.
Suara ketukan pintu kaca membuyarkan ketiganya, dan secara bersamaan mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.
Josep mengambil inisiatif membuka pintu, kemudian langsung memasang wajah sumringah. "Kami sedang membicarakan pekerjaan, Nek," jelasnya merangkul pundak wanita tua itu.
"Jangan bicarakan pekerjaan di sini! Atau kusuruh kalian pergi!" dengus Callie tidak suka.
"Uh... wanita seksiku, kau tidak perlu berbuat seperti itu pada kami," goda Josep pada nenek Alden, persahabatan mereka yang terjalin lama, membuat Josep sudah terbiasa bicara seperti tadi.
"Kalian ke sana dulu, aku ingin ke toilet," tukas Angeline, berjalan menuju toilet yang terdapat di ujung lorong kastil di sebelah ruang keluarga.
Mereka mengindahkan ucapan wanita itu, dan berjalan menuju ruang makan.
Di dalam toilet, Angeline menatap bayang dirinya di depan kaca super besar yang memenuhi setengah dinding toilet. Ia menatap secara seksama wajahnya yang cantik dan tentu saja tanpa cela, bibirnya yang sedikit berisi dan hidungnya yang mancung membuat Angeline semakin memesona, hal itu pula yang membuat dirinya juga berprofesi sebagai model profesional selain menjadi asisten dari Alden di kantornya.
"Apakah aku tidak cukup cantik, hingga kau tidak bisa melihat ke arahku, Alden?" gumam wanita itu pelan, tanpa terasa air matanya menguar, tapi tidak sampai keluar membasahi kedua pipinya yang mulus, karena cepat-cepat Angeline menyekanya agar tidak membuat riasan yang dia pakai luntur, meski produk yang dirinya pakai anti air.
Matanya nyalang, mengingat wajah Haura, untuk apa dia datang setelah sekian lama. Seharusnya wanita itu menghilang dan tidak menunjukan batang hidungnya di depan Alden, hingga pria itu akan melirik ke arahnya.
Setelah selesai mengutuk Haura, Angeline keluar dan pergi menuju ruang makan, saat dia sampai di ambang pintu, ia melihat Alden dan Haura nampak tertawa bahagia, dengan kakek dan neneknya seolah layaknya sepasang kekasih yang sebenarnya, benar-benar sungguh akting yang sempurna, dan Angeline akui dan harus bertepuk tangan, seharusnya Alden dan Haura pantas mendapat piala atas kesuksesan drama yang mereka kemas secara apik di depan kedua orang tua malang yang telah mereka bohongi.
Angeline duduk di samping Josep dengan tiba-tiba, membuat mereka seketika menoleh pada Angeline yang memasang wajah masam. Lalu mengiris pie apel yang ada di meja makan, tanpa membuka suara sepatah kata pun. Hal itu membuat Edward dan Callie bisa merasakan ada yang aneh pada wanita cantik itu. Tapi mereka tidak tahu apa itu.
"Kau baik-baik saja, Angeline?" Callie nampak khawatir kali ini, karena biasanya sahabat cucunya itu selalu ceria saat datang ke kastil mereka.
"Ya, aku baik-baik saja, Nek." Wanita itu menyendok pie dengan garpu kecil, dan memasukkan ke dalam mulut, sensasi manis dari apel berpadu dengan kayu manis, lumer di dalam mulut Angeline. "Kau tidak pernah gagal membuat lidahku bergoyang, Nek," ucapnya kemudian.
"Ya, karena ini makanan kesukaanmu, dan lasagna makanan favorit Haura, maka dari itu aku membuat untuk kalian berdua," tandas wanita itu.
Ya, karena Edward dan Callie sudah menganggap Josep, dan Angeline seperti cucu mereka sendiri, tanpa membedakan satu sama lain.
"Kira-kira kapan kau akan melamar Haura, Alden?" celetuk Edward tiba-tiba. Hingga membuat Angeline sukses tersedak karena terkejut.
Angeline memukul-mukul dadanya sendiri, saat merasakan pie apel tadi tersangkut di tenggorokannya, tanpa di sangka Alden dengan sigap menuangkan air putih, dan berjalan memutar menuju ke arah Angeline duduk, dan membantunya untuk minum.
"Hati... hati!" ucapnya sembari mengusap lembut punggung Angeline, membuat wanita itu sedikit tenang.
Haura menyaksikan itu di depan matanya sendiri, jika orang tidak tahu hubungan mereka adalah sahabat, maka mereka akan menganggap jika Alden dan Angeline adalah sepasang kekasih, karena terlihat sangat serasi satu sama lain. Entah mengapa hati Haura merasakan aneh, ada rasa sesak di dalam dadanya melihat Alden mencurahkan perhatian pada Angeline, tentu saja itu hal lumrah, toh ia juga melihat Josep nampak khawatir pada Angeline hanya saja dengan lisan saja.
"Hati-hati, An!" tukas Josep mengingatkan Angeline yang tidak berhati-hati saat makan.
"Oke... Cukup. Aku baik-baik saja," kata wanita itu setelah tenang.
"Aku permisi ingin pergi ke toilet dulu." Haura berdiri, untuk berjalan menuju toilet. Napasnya naik turun, saat melihat Alden dan Angeline.
Setengah berlari, Haura menuju toilet. Lalu menutup pintu secara perlahan. Ia duduk di atas toilet. Meredakan dadanya yang panas dan napas yang naik turun secara teratur.
"Kenapa kau marah, Haura?!" gumamnya lirih, ia berkata pada dirinya sendiri. "Kau menolak Alden pagi ini, lalu apa salahnya jika Alden bersama dengan Angeline. Tentu hal itu buka urusanmu, Haura!" lirih wanita itu lagi.
~To Be Continue~