
Menggunakan taksi Haura menuju sebuah penjara wanita, ya... dia ingin menemui Delarosa mantan mertuanya, dia sudah benar-benar marah jika mengingat bagaimana Delarosa membuat dia seperti wanita yang terbuang, bahkan mempermalukan dirinya di depan umum.
Rupanya berkas laporan Alden belum dicabut, dan wanita itu tengah menunggu sidang perdana—maka dari itu ibu Theo yang sudah berusia senja itu dipindah di lapas khusus wanita di Kota Tadpole. Haura berjalan dengan kepala menegak ke atas seolah dia sedang ingin menantang siapa pun yang dia lihat.
Haura meminta sipir untuk bertemu dengan Delarosa, dan Haura di minta menunggu di sebuah ruangan pemisah antara terdakwa dan pengunjung yang di batasi dengan kaca besar dan tebal yang menjulang tinggi, dan untuk berkomunikasi—hanya disediakan dua intecom yang terhubung antara satu sama lain.
Saat melihat mantan menantunya itu datang, Delarosa terlihat marah—untuk apa wanita mandul ini datang ke sini, apakah untuk meminta maaf? Delarosa meraih telepon yang ada di meja, diikuti Haura yang tersenyum penuh ironi.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau ingin meminta maaf padaku? Aku tidak sudi memaafkan menantu durhaka sepertimu!" dengus wanita itu, dari balik teleponnya. Ekspresinya sungguh menantang Haura.
"Meminta maaf?" Haura tertawa seolah mengejek Delarosa. "Aku tidak akan minta maaf, atau berniat memaafkanmu! Aku akan membuat kau membusuk di sini, dan aku akan membuat anak dan menantu kesayanganmu hancur!" desis Haura, matanya menipis seolah menyimpan penuh dendam untuk wanita itu dan anak beserta menantunya.
"Jangan macam-macam, Kau wanita mandul!" teriak Delarosa, membuat pengunjung yang lain seketika menoleh ke arah keduanya.
"Uh... Mama mertua, jangan teriak-teriak! Kasihanilah dirimu, jika kau tahu yang sebenarnya, kau bisa mati membeku di tempat!" ledek Haura masih dengan senyum yang terlihat memprovokasi Delarosa.
"Apa maksudmu, ha?"
"Apakah kau tidak tahu?" Haura pura-pura terkejut menanggapi ucapan mantan wanita yang pernah sangat dia hormati itu. "Theo lah yang sebenarnya mandul!" bisik Haura, ia sengaja berbicara dengan nada berbisik hanya untuk membuat Delarosa meradang.
"Apa kau bilang?! Pembohong?!" teriak Delarosa lagi, wanita tua itu membanting teleponnya, hingga membuat sipir wanita datang dan membawanya kembali masuk ke dalam sel. Delarosa diseret dengan cara paksa, dan Haura meledek wanita itu dengan melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal, hingga Delarosa benar-benar menghilang dari pandangannya.
Seketika ekspresi Haura berubah serius, ia merogoh kacamata di dalam tasnya dan mengenakannya, kemudian berjalan anggun keluar dari tempat itu.
Haura mengambil ponsel dari dalam tasnya, lalu menelepon seseorang.
"Halo...." ucapnya sedih, ternyata nomor panggilan yang ia tekan adalah nomor dari mantan suaminya, nada bicara Haura nampak sedih membuat Theo khawatir.
"Haura? Ini Haura?" Theo nampak tidak percaya jika mantan istrinya itu menghubungi dirinya. "Kenapa? Kenapa kau terlihat sedih?" imbuhnya lagi.
"Aku... Aku baru saja menjenguk mama mertua, tapi dia membuatku sedih, dia mengusir aku dan mempermalukan aku di depan banyak orang," jawab Haura berakting sedih.
"Kau menjenguk mamaku? Di mana kau sekarang? Aku akan menjemputmu!"
"Aku di depan gedung penjara," jawab Haura dengan nada sedih.
"Tunggu aku! Aku akan ke sana dalam waktu sepuluh menit!"
Haura menutup teleponnya, dan dia tersenyum dengan penuh kelicikan, wanita itu benar-benar tidak akan main-main dengan tidaknya. Mata harus dibalas dengan mata!
To be continue