Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 27 • Percaya Padaku


Haura menatap diri di depan cermin, dan membasuh mukanya, Haura memang tidak terlalu banyak memakai riasan tebal. Jadi dirinya tidak takut membuat riasannya luntur. Dia memutuskan kembali ke ruang makan setelah merapikan dirinya, dan mengatur napasnya, ia berharap mereka tidak memerhatikan perubahan ekspresi Haura yang memang tidak pandai menutupi keresahan hatinya.


"Sayang...." sapa Alden. Saat melihat Haura masuk ke dalam ruang makan, dengan nuansa shabby chic favorit Callie yang memang menyukai warna-warna pastel.


Bagus! Setidaknya kata-kata Alden barusan tidak membuat sepasang kakek dan neneknya tidak menaruh curiga dengan ekspresi Haura yang berubah masam.


Alden menghampirinya dan merengkuh pinggang rampingnya seolah sedang menuntun Haura jalan menuju meja makan. Entah mengapa tiba-tiba Alden mendaratkan kecupan hangat di pelipis Haura, dan membuat respon beragam dari mereka yang melihatnya, yang paling mencolok adalah Josep yang langsung menyemburkan minuman yang ada di dalam mulutnya. Sementara sudut bibir Angeline berkedut karena menahan rasa marah melihat Alden begitu mesra dengan kekasih kontraknya itu.


"Kalian memang pasangan yang serasi," seloroh Josep, sementara Angeline langsung melirik sahabatnya, bahkan menginjak kaki Josep yang terbungkus sepatu dengan hak heels yang ia kenakan, membuat Josep mengadu kesakitan. "Mengapa kau menginjak kakiku, An!" teriak Josep mengelus kakinya bekas injakan dari Angeline.


"Agar kau menutup mulut kotormu itu!"


"Ayolah... An! Kau tidak mungkin cemburu, bukan?" ledek Josep, menyenggol lengan angeline dengan sikunya, sembari terkekeh mengejek.


"Lebih baik kau tutup mulutmu, Josep! Kau sudah terlalu banyak bicara!" Lirikan mematikan Angeline, yang selalu bisa membungkam bibir Josep ketika sudah kelewatan, bahkan membuat nyali Josep ciut di tempat.


Kali ini Haura baru tahu sisi lain dari Josep dan Angeline ketika di luar kantor--jika mereka benar-benar sedekat ini satu sama lain, seolah tidak ada sekat-sekat di antara keduanya.


~•~


Setelah acara makan-makan itu selesai, Haura hendak berpamitan dengan kakek dan nenek Alden--karena dia datang kemari dengan menggunakan transportasi umum, tentu tidak lucu jika dirinya tidak mendapat taksi karena sudah terlalu larus malam.


"Baiklah, nenek dan kakek... aku akan pulang terlebih dahulu," ucap Haura, ia meraih tas yang sejak tadi dia letakkan di atas meja.


"Kau mau pulang sendiri?" celetuk Callie mencegah Haura untuk pergi. "Bukankah kau tinggal bersama Alden, dan lagipula Alden juga masih di sini, untuk apa kau pulang lebih dulu?" imbuh wanita tua itu.


Sebenarnya dari tadi Haura tidak enak dengan tatapan Angeline yang seolah ingin menguliti dirinya--wanita itu seolah benar-benar tidak bersahabat dengan Haura, dan merasa Haura hanyalah seorang pengganggu di tengah-tengah mereka.


"Tidak... aku hanya lelah, karena seharian bekerja. Biarkan Alden di sini dulu, mungkin saja dia masih rindu dengan kalian," elak Haura.


"Tidak... aku juga lelah, dan akan pulang bersamam," sahut Alden, mengusap mulutnya dengan serbet, kemudian beranjak berdiri.


"Tapi Alden, kita ak--"


"Kita akan pergi lain kali, An! Sekarang calon istriku ingin segera pulang, maka aku akan mengantarkannya," potong Alden, menghentikan kalimat Angeline.


Angeline menghela napas kasar, mulutnya ditekuk seperti biasa, berharap Alden akan membujuknya agar dia tidak merajuk. Namun, kini berbeda. Di samping pria itu kini berdiri seorang wanita cantik, dan cinta pertama sahabatnya itu. Tentu saja amarah Angeline sudah tidak berarti apa-apa untuk Alden, dan jalan satu-satunya saat ini adalah membiarkan pria itu berbuat sesuka hatinya, sebelum dia benar-benar harus membuka mata Alden, jika Haura tidak lebih baik dari dirinya.


~•~


Selama di dalam mobil, Haura hanya diam seolah tidak ingin mulai pembicaraan karena terlalu takut jika Alden akan membahas perihal pengakuan pria itu tadi pagi, dan meminta dia menerima Alden.


"Mengapa kau diam saja?" Alden mempererat cengkeraman di kemudinya.


"Aku?" Haura menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau tahu jika aku sejak kemarin tidak banyak bicara."


Alden diam sesaat, masih berkonsentrasi menyetir di jalanan yang sudah cukup gelap.


"Apakah kau cemburu dengan Angeline?" tanyanya, matanya masih memerhatikan aspal jalanan.


"ya... sebelum aku mengecup keningmu, ekspresi wajahmu benar-benar tidak bisa berbohong."


"Omong kosong!" gumam Haura pelan, wanita itu mencoba tetap tenang. Meskipun ia nampak benar-benar salah tingkah.


"Dia adalah sahabatku, dan aku tidak memiliki perasaan apa pun pada dirinya," tukas pria itu. "Aku hanya ingin kau."


Haura menelan ludahnya sendiri ketika mendengar ucapan Alden, padahal sebelumnya bosnya terlihat dingin--tapi sekarang dirinya berubah setelah menyatakan cintanya pada dirinya. Mungkinkah sikap dingin dari Alden hanya ingin menutupi perasaannya pada Haura yang selama ini terpendam lama.


"Apakah kau hanya ingin tidur bersamaku?"


Ucapan Haura membuat Alden mengerem mobilnya secara mendadak. Hingga Haura hampir saja terhantuk, untung saja sabuk pengaman cukup kuat untuk membuat Haura tertahan.


"Apakah kau pikir perasaanku yang tulus ini, hanya kau pandang sebelah mata? Karena aku hanya ingin tidur denganmu?" Alden benar-benar tersinggung dengan ucapan Haura. Untuk apa dia berbuat sejauh ini hanya untuk sebuah percintaan mungkin hanya terjadi semalam, seharusnya Haura bisa berpikir lebih logis. Kalau Alden mau--banyak wanita yang mengantri hanya untuk tidur dengan dirinya.


"Bu--bukan begitu maksudku."


"Tapi jelas-jelas yang kau katakan aku hanya akan memandang tubuhmu, Haura!"


"Aku hanya bingung, Alden!" seru Haura. "Mengapa harus aku, dari sekian banyak wanita di dunia ini, kenapa aku?!"


"Aku sendiri tidak tahu, perasaanku tidak memiliki alasan, ia benar-benar ada sejak dulu—bahkan ketika aku tidak bisa menemukanmu!"


"Aku tidak bisa! Sakit hatiku ketika dikhianati sudah merubah pandanganku tentang cinta, aku pernah mengagungkan kesetiaan selama bertahun-tahun, tapi nyatanya—" Air mata Haura benar-benar menguar, wanita itu rapuh ketika membicarakan tentang perasaan dan penghianatan.


"Tapi aku bukan mantan suamimu," gumam pria itu lirih. "Aku tulus mencintaimu, benar-benar ingin membuatmu bahagia."


"Beri aku waktu! Tolong beri aku waktu, jangan paksa aku!"


Hening sesaat, seolah benar-benar sepi tidak ada satu mobil yang lewat di antara mereka, embusan angin bahkan seolah berhenti tatkala keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing.


"Aku akan menunggumu, aku akan membuatmu percaya kepada perasaanku, Haura, aku pastikan itu!" tegas Alden. Hanya itu satu-satunya yang bisa ia katakan, sebelum ia memperlakukan Haura dengan baik. "Aku juga tidak akan ketus padamu."


Alden meraih kepala Haura, dan mengecup kening wanita itu dengan lembut. "Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku, tapi izinkan aku tetap mencintaimu, dan membuat kau percaya jika perasaanku ini tulus. Jangan menjaga jarak dariku, Haura!"


"Tapi, aku hanyalah seorang janda, dan aku bisa jadi adalah wanita mandul!"


"Aku tidak peduli jika kau mandul sekalipun, kita bisa mengadopsi anak—aku hanya ingin hidup bersamamu, Haura."


To be continue~