Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 63 • Membuat Bahagia


Awan mendung seolah membungkus kota Tadpole, di hari pemakaman Delarosa—mantan mertua Haura. Daun-daun yang mulai rontok akibat waktu yang telah memasuki musim gugur, udara dingin yang menusuk tulang membuat kesedihan Haura semakin menjadi. Ini bukan kesedihan kehilangan. Namun, yang Haura rasakan adalah rasa bersalah, seolah saat ia datang menjenguk Delarosa kala itu, malaikat maut ikut serta bersamanya, dan mengintai jiwa wanita paruh baya itu.


Pakaian hitam menyelimuti tubuh Haura, dengan memakai kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang bengkak karena menangis semalaman. Meski ia tidak pernah memiliki kenangan baik dengan mantan mertuanya itu, tapi dia berharap semoga wanita itu tenang di sana.


Theo sendiri tengah menangis di pusara ibunya yang masih basah. Tidak ada satupun orang yang menguatkan dirinya. Pun sama halnya ketika Haura kehilangan ibunya, seolah dunia hancur. Akan tetapi tak ada satupun pundak untuk tempatnya bersandar.


Alden yang terus menemani Haura hanya bisa memeluk wanita itu, karena pria itu menganggap hanya dialah yang bisa menenangkan hatinya.


Sementara Alila hanya bisa terdiam, kini wanita yang akan selalu membelanya telah tiada. Bagaimana nasibnya nanti? Apakah Theo benar-benar akan menceraikan dirinya? Pikiran itu seolah menggerogoti konsentrasinya, ketika seseorang mengucapkan berbelasungkawa, wanita itu bergeming—tatapannya pun kosong.


"Ayo pulang!" Alden mengeratkan rangkulannya pada kekasihnya.


Theo yang tanpa sengaja mendengar itu hanya bisa mengiris perih di dalam relung sukmanya. Seharusnya Haura miliknya, dan wanita itu pulang ke rumahnya dan memenangkan hatinya yang rapuh. Tapi tidak, Theo harus mengubur keinginan itu dalam-dalam, karena pria hebat itu telah menggantikan kedudukannya di tahta hati Haura.


**


Selama perjalanan, Haura nampak diam membisu, seolah terhanyut dalam pikirannya sendiri. Alden hanya harus memutar otak untuk menenangkan hati kekasihnya. Pria itu memutar setir kemudiannya menuju berjalan berlawanan dari tujuan mereka seharusnya—pulang ke apartemen. Haura menyadari langsung menatap sang kekasih dengan saksama.


"Kita akan ke mana?"


Alden tersenyum sembari semakin mengeratkan setir kemudinya. Ia bersyukur Haura masih mau membuka suara.


"Kita lihat nanti, kau akan tahu."


Mobil mereka melesat jauh, memasuki kota sebelah, di mana kota itu terkenal dengan penghasil buah anggur yang sangat terkenal di dunia, bahkan wine terbaik pun di produksi di kota ini.


Keduanya masuk ke sebuah pelataran parkir kebun strawberry dan anggur. Haura sangat bingung kenapa pria ini mengajaknya ke mari? Dengan pakaian yang serba hitam seolah itu menegaskan mereka memang baru saja dari sebuah pemakaman.


"Kenapa kita ke mari?" Haura mengerutkan kening, menatap kekasihnya yang mulai berkonsentrasi memarkirkan mobilnya di jajaran mobil-mobil yang juga parkir di sana.


"Kita akan panen anggur," tandas pria itu santai.


"Anggur?"


"Ya, awal musim gugur seperti ini anggur akan matang karena menjelang akhir musim panas mereka tumbuh paling baik dan siap untuk dipanen."


Alden mengambil keranjang untuk Haura agar dia bisa memetik anggur semaunya.


Haura sangat senang, setidaknya dia bisa menghilangkan penatnya dan pikirannya tentang Delarosa.


Pria ini memang paling hebat mencari cara agar sang kekasih tetap ceria kala hatinya gundah.


Di kebun itu, Haura memandang hamparan pohon anggur yang merayap sedemikian rupa. Dengan penuh semangat Haura bertanya, apakah dia bisa memanen buah sekarang, dan Alden mengangguk setuju.


Memanen adalah cara kebanyakan orang untuk melepas penat dan pikiran yang mengganggu otak, dan Alden tahu cara itu.


"Sebelum kau memetik buah ini, bisakah kau berterima kasih kepadaku?"


"Terima kasih," sahut Haura, dengan senyum mengembang di wajahnya yang begitu cantik.


"Tidak! Aku tidak mau hanya dengan ucapan!" Bibir Alden mengatup seolah sedang kesal dengan wanita di hadapannya ini karena tidak peka dengan keadaannya.


"Lalu apa?"


"Kiss me!"


Mata Haura terbelalak, dia memindai seluruh kebun, di sana banyak orang yang sedang asik sendiri-sendiri, dan Haura harus membuyarkan konsentrasi mereka karena melihat Haura mencium Alden. Oh, tidak. Itu sangat memalukan.


"Tidak! Banyak orang di sini!" erang Haura tidak suka.


Tiba-tiba Alden merengkuh pinggang Haura, membuat wanita itu terkesiap dan mulai menghindar menjauhkan muka dari bibir Alden. "Tidak... Tidak!" seru Haura meski dengan suara lirih.


"Kau adalah milikku, biar semua orang yang di sini tahu, jika Haura Oxley adalah kekasih Alden Walsh, pemilik perkebunan ini!" tegas pria itu, lalu mencium Haura begitu saja.



Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah, Minal ‘aidin wal Faizin. Semoga kita semua kembali suci dan menggapai kemenangan. Mohon maaf lahir dan batin.