
Part ini aman dibaca saat buka puasa, meski keseluruhan masih aman untuk dibaca, tapi tetap saja narasi menggiring otak untuk berpikir jauh.
~•~
Setelah memastikan Theo sudah pergi, barulah Alden masuk ke dalam apartemen Haura. Pria itu berjalan pelan melihat apakah Haura masih di dalam kamarnya, atau tidak. Namun, beruntung—wanita itu telah terlelap dipeluk oleh mimpi indahnya, kemungkinan besar, dia juga tidak mendengar keributan besar antara Alden dan mantan suaminya.
Alden bisa menarik napas lega karena itu, pria itu berjalan ke arah dapur, dan menemukan beberapa bahan makanan yang mungkin besar dibeli oleh Haura sendiri. Berbekal dari internet dan sedikit kepiawaiannya dalam memasak. Alden mulai mengiris bahan untuk membuat
Ayam parmigiana, panganan ini sering disebut Chicken parmigiana, atau chicken parmesan, adalah hidangan yang terdiri dari dada ayam dilapisi tepung roti yang dilapisi saus tomat dan keju mozzarella, parmesan, atau provolone. Bahkan beberapa orang menambahkan daging sapi untuk pengganti ham sebagai pelengkap hidangan tersebut.
Dari dalam kamar, Haura mencium wangi makanan yang menggugah selera, membuat perutnya terasa lapar—Haura langsung mengerjapkan mata, mengedarkan pandangannya. Dia melirik ke arah langit yang sudah menggelap karena matahari sudah tenggelam di tempat peraduannya.
Haura turun dari tempat tidur, tidak bisa dipungkiri jika kepalanya masih merasakan pening akibat ulah dari Angeline yang mendorongnya hingga terjatuh membentur dinding. Haura membuka pintu, dan langsung melihat pria tampan yang telah berhasil menguasai hatinya, dengan seksama Haura memperhatikan Alden yang masih sibuk di dapur tengah melakukan sesuatu yang memang langka dilakukan.
Saat Haura menutup pintu, barulah Alden melirik ke arah sumber suara dan mendapati Haura telah berdiri di sana.
"Kau sudah bangun?" Alden bertanya—tangannya masih asik dengan masakkan yang dia buat olehnya. Haura berjalan mendekati pria itu, lalu berdiri di sampingnya.
"Kau membuat apa?"
"Ayam parmigiana. "
"Sepertinya lezat. Aku baru tahu jika kau bisa memasak?" Haura memperhatikan masakan yang dibuat kekasihnya dengan seksama.
"Karena aku dulu melanjutkan studi di luar negeri, dan sengaja tidak menggunakan fasilitas yang kakekku berikan. Jadi aku belajar arti hidup dari sana."
Jari halus dan lembut itu menyentuh permukaan pipi Alden membuat geleyar aneh itu kembali menyerang diri Alden. Padahal baru beberapa waktu lalu dia sempat menuntaskannya.
Tangan Alden bergerak dan menggenggam tangan jemari dengan kuku berwarna merah itu, lalu mengecup dengan lembut. Bahkan tanpa Haura sangka, Alden malah menyesap jari Haura membuat Haura membeku.
Alden mematikan kompor dan memeluk Haura, mendekatkan bibirnya ke bibir Haura, pria itu menyesap lembut bibir Haura dan bahkan lidahnya menari-nari di rongga mulut Haura, membuat wanita itu memejamkan mata, dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh kekasihnya.
Alden membopong tubuh Haura, dan mendudukkan wanita itu di atas meja dapur, kemudian kembali melancarkan aksinya menjajah bibir Haura dan menunjukkan kuasanya. Jemari Alden menyentuh dan menari-nari di setiap inci kulit mulus Haura. Membuat geleyar panas merayap ke seluruh tubuh Haura, Haura hanya bisa melengking sembari memejamkan mata mendapat perlakuan seperti itu.
Melihat Haura nampak menikmati aksinya, Alden semakin menjadi-jadi, dia kembali membopong tubuh mungil kekasihnya menuju sofa depan televisi meletakkan Haura dengan posisi berbaring. Alden melucuti pakaian Haura hingga wanita itu benar-benar polos seperti bayi yang baru lahir, dan Alden juga melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri.
Keduanya sangat menikmati malam itu, untuk pertama kalinya Alden melakukannya, hingga membuat pria itu merasakan perasaan aneh ketika untuk pertama kali menyatukan jasmaninya kepada wanita yang sangat ia cintai itu.
Namun, meski untuk pertama kalinya, Alden tetap mendominasi keadaan, seolah Haura-lah yang benar-benar polos.
Tubuh mereka seolah menari mengikuti naluri gerakan dari bahasa tubuh mereka. Keringat sebesar biji jagung pun keluar dari kening mereka meski pendingin ruangan tetap menyala. Seolah hawa panas merayap dalam diri keduanya.
Bersambung~
Mohon maaf, Bestie 😁 sebagian pria luar memang biasanya unboxing untuk mengikat wanita yang dia cintai.