Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 53 • Pengakuan Mencengangkan


Keduanya sampai di unit apartemen. Haura langsung menaruh tasnya di atas meja makan dan berjalan menuju dapur dan mencari bahan apa yang bisa dibuat untuk memasak.


Tanpa disangka Alden berjalan mengikuti Haura lalu melingkarkan tangannya ke perut ramping kekasihnya. "Kau bilang tadi membeli sesuatu, apa?"


Haura tersentak saat mendapat perlakukan seperti itu, seolah ada sengatan listrik yang mengenai kulitnya menciptakan geleyar aneh untuk Haura.


"Aku–aku tadi mencari sesuatu, tapi tidak menemukannya," jawabnya, mencoba tetap tenang agar tidak terlihat gugup di depan pria itu.


'Apakah hal itu akan terjadi lagu? Apakah kita akan menikmati pergumulan itu lagi, di sini?'


Haura berbicara di dalam hati, mempertanyakan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya setelah Alden memeluk dirinya dari belakang.


"Entah mengapa setiap aku mencium aromamu, aku merasa ingin selalu ada di sampingmu, seolah kau benar-benar candu bagiku, harusnya kau tahu itu, Haura," gumam pria itu. "Kenapa mendapatkanmu sangat sulit untukku, seberapa besar aku menginginkan dirimu, kau selalu saja memiliki sejuta alasan untuk menolak kehadiranku," desah Alden lagi.


Haura tahu keresahan hati kekasihnya, dia memegang tangan Alden yang melingkar di perutnya, dan mengelus lembut punggung tangan kokoh itu.


Alden memutar tubuh Haura hingga mereka saling berhadap-hadapan, mata mereka saling bersirobok seolah dari sanalah mereka bicara dari hati ke hati.


Haura menunduk, lalu sedetik kemudian kembali mendongakkan kepalanya.


"Aku mencintaimu, aku benar-benar sudah membuka hatiku padamu. Bahkan sejak masa Sekolah, aku selalu mendekatimu karena aku menaruh rasa padamu, Al." Sebuah pengakuan mencengangkan keluar dari bibir Haura, hal yang tidak pernah disangka-sangka oleh Alden sebelumnya.


"Kau... Kau menaruh hati padaku?"


Haura mengangguk. "Kau ingat ketika ingin menemuiku di sudut Sekolah? Kau berkata akan datang, aku menunggumu bahkan sampai bel istirahat masuk."


Alden memegang kedua pipi Haura, tanpa sadar air matanya sedikit menguar membuat Alden tidak percaya jika sejak dulu Haura juga menyimpan rasa untuk dirinya.


"Lalu mengapa kau tidak mengaku jika kau suka padaku waktu itu? Dan bahkan saat aku mengaku padamu jika aku Alden Walsh!"


"Aku dihajar oleh pria yang selalu mengejarmu." Alden membuang muka, mengindari tatapan mata Haura, dengan cekatan Haura meraup kedua pipi Alden, agar pria itu kembali menatap wajahnya. "Ketika kakek dan nenek melihatku seperti itu, mereka sebenarnya akan memberi pelajaran pada orang-orang itu, tapi aku mencegahnya, karena aku takut kau akan ikut bermasalah, dan aku memutuskan untuk terbang ke luar negeri setelah aku pulih, selama itu pula aku juga mencarimu ketika aku pulang, tapi kau seolah hilang ditelan bumi, Haura."


Haura masih menatap lekat pria di hadapannya. "Kau memang seperti pria yang berbeda, hingga aku tidak mengenalimu sama sekali, Al."


Alden terkekeh. "Apakah aku seperti orang yang habis beroperasi plastik?" tanya Alden menggoda.


"Apa kau melakukannya?" Haura terkejut hingga menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.


"Tentu tidak Haura!" Alden kesal dengan jawaban Haura, dan sedikit mendorong kening wanita itu membuat Haura menekuk bibirnya. "Sebelum aku pergi ke luar negeri, kakek dan nenekku sengaja mengubah penampilanku, agar kejadian bullying di masa sekolah tidak terjadi lagi di masa aku kuliah."


Haura mengangguk mengerti.


"Jika kau menyukaiku, kenapa kau tidak menungguku?!" Alden berkacak pinggang meminta pertanggung jawaban pada kekasihnya.


"Karena kupikir kau ingkar janji, maka aku melupakanmu—dan aku bertemu pria itu saat aku kuliah." Tatapan Haura nyalang ketika mengingat tentang Theo.


"Theo?"


Haura mengangguk, mengingat tiap rasa sakit yang Theo torehkan di hatinya.


"Tuhan sengaja memisahkanmu dengan laki-laki itu, agar kau dipertemukan kembali padaku, Sayang." Alden meraih tubuh Haura dan memeluk wanita itu dengan erat.


To be Continue~