
Haura melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke tempat Theo berkata dia berada.
Tak lama dari jauh Haura melihat Theo nampak menyedihkan, pria itu seperti tidak mandi dalam beberapa hari, dan di wajahnya yang selalu rapi kini telah di tumbuhi jambang dan kumis. Pria itu berdiri dengan menyaksikan ke segala arah seperti menunggu sesuatu. Haura memilih berhenti di depan pria itu, lalu membuka kaca mobilnya.
"Masuk!" ajak Haura.
Theo menunjuk dirinya dengan jari telunjuk seolah tidak percaya jika mantan istrinya mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Dengan tersenyum bahagia Theo masuk ke dalam, dia duduk di bangku depan berdampingan dengan Haura. Di dalam mobil itu tercium aroma parfum yang dulu sering Haura pakai ketika mereka berdua masih menjadi sepasang kekasih. Sekelebat kenangan masa lalu mereka muncul di benak pria itu, seolah ada hal-hal manis yang sulit di lupakan Theo, hingga pria itu mengulas senyum.
"Kenapa kau tersenyum?" Haura melirik ke arah pria itu.
"Aku hanya mengingat masa-masa kita masih bersama."
Haura menghela napas panjang, menunjukkan wajah kurang nyamannya.
"Ayolah, Theo! Kau sudah memiliki istri, jangan berharap padaku lagi, karena aku akan segera menikah dengan Alden."
Mendengar kata menikah yang meluncur mulus dari mulut Haura membuat pria itu nampak sedih. Dia tidak bisa menyembunyikan kegundahan hatinya.
"Menikah?" tanyanya lirih.
"Ya, aku akan menikah lusa, jadi kau harus baik-baik bersama istrimu dan bahagia selalu."
Air mata Theo menguar. Namun, tidak sampai keluar membasahi kedua pipinya.
"Ya, aku akan menikah." Haura mempertegas ucapannya pada Theo.
Theo terdiam, tidak berkomentar apa pun. Ia membuang wajahnya ke luar jendela. Ada rasa sakit dan penyesalan yang ia rasakan. Dia benar-benar kehilangan Haura—wanita yang mencintainya dengan tulus, dulu begitu bodohnya dia menyia-nyiakan wanita ini hanya demi sebuah nafsu sesat yang membuatnya melepaskan sebuah berlian seperti wanita yang ada di sampingnya ini.
Mobil Haura masuk ke dalam restoran, Haura sudah menghentikan mobilnya. Lalu saat akan turun dan keluar, dia melihat Theo masih bergeming seolah pria itu tidak akan keluar bersama dengannya.
"Theo? Apakah kau tidak ingin keluar?" tanyanya dengan nada bingung, kenapa pria itu terlihat aneh hari ini.
"Ya, aku akan turun." Tak lama Theo membuka pintu mobil dan turun mengikuti Haura masuk ke dalam restoran mewah. Ia terlihat seperti seorang gelandangan dan Haura tidak pantas berjalan berdampingan bersamanya sehingga ia memilih berjalan jauh di belakang wanita yang sangat masih ia cintai itu.
Haura memilih meja paling ujung, dan mulai memilih makanan.
"Kau lapar?" tanyanya dengan menyodorkan buku menu yang ada di atas meja.
Tidak dipungkiri jika pria itu dari semalam tidak makan, dia tidak memiliki uang sepeserpun karena semua yang ia miliki telah diambil oleh Alila.
Setelah memesan makanan. Haura menyerahkan sebuah amplop putih untuk Theo. "Apa ini?"
Sejak tadi Haura tidak memperhatikan jika badan Theo terlihat kurus tidak seperti biasanya. Haura sebenarnya merasa kasihan dengan pria ini, akan tetapi dia tidak ada pilihan lain untuk mengabaikannya, karena Theo sudah memiliki istri yang seharusnya mengurus pria itu.
Hati Theo hancur menerima surat undangan, hampir saja dirinya ingin berteriak dan menangis karena luka hati penyesalannya.
"Kau harus datang bersama istrimu, ok!"
Theo terkekeh ketika mendengar kata istri. "Aku sudah bercerai dengannya, dan menyerahkan semua uangku pada Alila, karena dia awalnya menolak aku ceraikan. Maka dari itu—" Theo tidak melanjutkan ucapannya.
"Apakah kau tidak waras?! Alila adalah wanita yang cocok untukmu, Theo!" hardik Haura kesal.
"Tidak ada yang cocok denganku kecuali kau, Haura!" Tangis Theo mulai pecah, dan Haura tidak bisa berbuat apa pun. Dia juga sangat sedih, bukan karena ia masih menyimpan perasaan pada Theo, tapi lebih karena kasihan dengan pria yang pernah menduduki singgasana tertinggi di dalam hatinya itu.
Haura menggenggam tangan pria yang pernah ia sangat cintai itu. "Waktu kita telah selesai, kini tugas kita hanya bisa saling introspeksi diri, Theo. Kau pasti bisa menemukan orang yang tepat."
Tangis Theo makin menjadi-jadi. "Maafkan aku, selama kita menikah kau mungkin tidak bahagia."
"Aku sudah memaafkanmu, dan semoga perjalanan cinta kita bisa menjadi pembelajaran hidup untukmu." Tangis keduanya pecah. Haura memeluk Theo dengan erat, agar pria itu tetap kuat menjalani hidupnya yang begitu pahit.
**
Dua hari setelah keduanya berpisah, Haura tidak tahu lagi kabar Theo, dan hari ini adalah hari pernikahan dirinya dengan Alden, bos yang telah menggodanya selama ini. Kini akan menjadi milikinya seutuhnya.
Alden telah menunggu Haura di atas altar, dan wanita itu berjalan pelan di panggung mewah di gedung dengan nuansa merah muda hasil karya dari Callie dan Edward. Wanita itu mengenakan gaun merah dengan ekor yang menjuntai panjang, membuat Haura nampak cantik layaknya putri kerajaan. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya akan berada di posisi ini. Berdiri di atas Altar dengan pria yang telah menguasai hatinya dan telah mengobati luka hatinya. Alden walsh telah menjadi suami Haura sekarang, setelah keduanya mengucapkan janji suci, pernikahan itu diakhiri dengan ciuman mesra dan begitu menggelora, membuat para tamu undangan bertepuk tangan dengan bahagia. Namun, di sana tidak nampak Theo dan Angeline yang hadir di sana. Hal itu tidak mengurangi kemeriahan yang ada di pesta itu.
Di sisi lain, Theo sudah berdiri di atas jembatan cotton Clay, di mana Haura pernah ingin mengakhiri hidupnya kala dia mengumumkan akan menikahi Alila.
Pria itu merasa hidupnya telah berakhir ketika dua wanita yang ia cintai kini pergi darinya.
Theo menjatuhkan dirinya ke bawah sungai Cotton Clay dan tenggelam bersama kenangan indah dirinya dengan Haura.
The End~
'Jangan Pernah sia-siakan apa yang sudah kamu miliki, bersyukurlah karena itu yang terbaik untuk dirimu'
Hallo Bestie, Terima kasih atas semua apresiasinya untuk Kala Bos Menggoda, maaf jika ada typo dan cerita yang mungkin tidak sesuai ekspektasi kalian. selanjutnya. ^~^
Luv,
Novi Wu