
Setelah beberapa detik berlalu, Alden melepaskan ciumannya, secara impulsif Haura mengigit bibir bekas jeratan dari sesapan bosnya.
"Maaf," gumam Alden lirih, ia merasa tidak enak. Karena di saat ia sedang menunggu jawaban cinta Haura, dan entah wanita itu akan menjawab iya atau tidak, Alden sudah mendahuluinya dengan cara lebih jauh.
Wajah Haura memerah, wanita itu meremas ujung gaun tidur yang ia kenakan, lalu pergi begitu saja meninggalkan Alden tanpa berkomentar apa pun lagi.
Haura berdiri di depan cermin di dalam kamar mandi, menyaksikan bayang wajahnya yang terpantul di kaca besar di hadapannya, pandangannya turun ke bawah hingga ke bibir, tanpa sadar dia mengigit ujung bibirnya, entah mengapa jantungnya ikut berdetak lebih cepat.
"Haura apa ini? Kau jatuh cinta pada pria itu? Secepat ini? Tidak Haura! Kau belum mengenal lebih jauh tentang Alden, dia pria kaya, bagaimana jika ia jauh lebih bejat dari pada Theo? Dan kini kau ingin menyerahkan hatimu begitu saja?" gumam Haura pelan, pergulatan batin terus merongrong pikirannya. Menciptakan kebimbangan di dalam hatinya. Haura baru saja dihempaskan oleh pria seperti Theo, apakah doa tidak bisa dua kali lebih waspada untuk tidak jatuh cinta lagi?
~•~
Haura untuk pertama kalinya pergi ke kantor menggunakan mobil yang dibelikan oleh Alden, sesuai permintaan bosnya. Wanita itu mengendarai mobilnya membelah jalanan Kota Tadpole, siapa yang menyangka empat bulan yang lalu wanita ini ingin mengakhiri hidupnya di sebuah jembatan berarus deras di sungai cotton clay--tapi kini Haura benar-benar berbeda, wanita ini berubah seratus delapan puluh derajat. Dia sempat jadi gelandangan yang tidak memiliki tempat tinggal. Namun, kini dia sudah bisa tinggal di salah satu hunian mewah di pusat kota Tadpole.
Haura memilih memarkirkan mobilnya di basemen gedung kantor De Beauty. Tapi sayangnya pilihannya kali tidak tepat. Theo sudah menunggunya di sana seolah pria itu tahu Haura akan memarkirkan mobil di sana.
Saat Haura turun, tiba-tiba Theo sudah berada di belakangnya dengan tatapan nyalang bahkan dia bertepuk tangan untuk Hauraseolah. Pria itu mendekat dan semakin dekat, seolah benar-benar ingin mengintimidasi mantan istrinya, Mata Theo memindai mobil biru metalic yang terparkir di belakang mantan istrinya itu.
"Rupanya hidupmu kini benar-benar berubah drastis. Aku di pecat, dan kau memiliki pekerjaan di sebuah gedung mewah—perusahaan kosmetik ternama, dan sekarang kau juga memiliki mobil mewah seperti ini?" Suara Theo nampak berat dan parau, Haura yakin jika pria ini semalam telah mabuk berat, Haura bisa merasakan aroma tidak sedap antara bau alkohol dan air liur yang telah teresidu--hingga menciptakan bau yang sungguh amat sangat menyengat dan berhasil membuat Haura menahan napas.
"Kau dipecat?"
"Ya ... semua ini karena ulah kekasihmu yang membuat ulah, dia ternyata adalah pemegang saham terbesar di tempatku bekerja."
Haura sendiri tidak tahu menahu perihal pemecatan Theo, Alden sendiri tidak berkata apa pun tentang keadaan diri mantan suaminya itu.
"Aku tidak tahu jika kau dipecat, jadi atas nama Alden, aku minta maaf!" Setelah mengucapkan permintaan maafnya. Haura hendak melangkah pergi melewati Theo yang berdiri di depannya. Ia berharap permintaan maaf Haura, bisa meredam amarah Theo. Tapi rupanya tidak semudah itu, pria itu menarik pergelangan tangan Haura, dan membuat tubuh wanita itu terhimpit antara mobil dan tubuh mantan suaminya yang masih terus mengganggunya.
Haura menelan ludah, mata mereka saling bersirobok, hal itu membuat Haura benar-benar takut.
"Apa yang kau inginkan?!" Suara Haura meninggi.
"Aku ingin kau memaafkan semua kesalahanku."
Benar-benar lelaki yang tidak punya malu, dia meminta Haura memaafkan dirinya—setelah apa yang pernah ia lakukan pada wanita ini, dan berharap Haura melupakan begitu saja penghianatan dan penghinaan yang dilakukan Theo. Apakah ia menganggap Haura seorang malaikat yang dengan mudah memaafkan kesalahan manusia?
"Ya, aku sudah memaafkanmu!" Haura menjawab ketus, hanya agar semua segera selesai dan Theo melepaskan dirinya. Namun, anggapan Haura salah. Wanita itu semakin menekan Haura, hingga mendekatkan wajahnya pada mantan istrinya itu.
"Aku serius, dan aku berharap kau mau kembali menerima cintaku," pungkasnya percaya diri, Theo menghirup aroma Haura, wangi ini yang dulu pernah ia rasakan ketika pertama kali bertemu Haura, tapi saat Haura menikah, dan mengabdikan diri untuk suaminya, wanita itu hampir saja tidak pernah merias wajahnya, bahkan hanya untuk sekadar memakai parfum. "Bau ini... Aku ingin memelukmu," ujarnya lagi.
Mata Haura terbelalak, Theo akan memeluknya dan tentu saja dia tidak ingin itu terjadi.
"Lepaskan aku, atau aku akan berteriak!" Suara Haura benar-benar mulai meninggi, tapi dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Dulu Haura memang mencintai Theo. Tapi kini—pria ini sudah berubah menjadi monster menakutkan yang membuat Haura jijik.
"Kenapa? Apakah kau tidak mau kupeluk? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
"Kau tidak waras, 'ha?! Jika mau macam-macam. Aku akan melaporkan kau ke pihak yang berwajib!"
Ancaman Haura berhasil, Theo benar-benar takut, dan dia melepaskan Haura begitu saja. Pandangannya berubah nanar, sepertinya pria ini mengalami guncangan mental yang sangat berat. Sehingga perilakunya bisa berubah secara drastis dalam satu waktu.
"Aku minta maaf atas nama mamaku, aku ingin kau membantu dia keluar dari penjara," ucap pria itu lirih.
"Aku tidak bisa mencabut laporanku, Alden yang membuat—laporan itu ke kantor polisi."
"Tapi dia kekasihmu! Aku mohon!" Air mata Theo menguar, selama menikah dengan Theo, baru kali ini Haura melihat mata Theo berkaca-kaca. Namun, kali ini demi ibunya.
"Baiklah, aku akan bicara pada Alden. Tapi kau jangan begini!" Haura menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan jika tidak ada orang yang melihat keduanya.
Theo perlahan berdiri, tapi wajahnya masih menunduk. Menyiratkan penyesalan yang pernah ibunya lakukan untuk Haura.
"Aku menunggumu mencabut laporanmu."
"Dengan syarat. Kau harus pergi!" potong Haura. "Sekarang!"
Theo sadar, wanita yang dia cintai itu kini benar-benar sudah berubah, tidak ada cinta lagi di setiap tatapannya, dulu Haura memang selalu seperti itu, mencurahkan perasaannya untuk Theo.
"Baiklah. Aku akan segera pergi, sesuai apa yang kau minta." Theo berbalik badan, dan pergi menuju mobilnya—pria itu masuk ke dalam kendaraannya dan benar-benar pergi meninggalkan Haura.
Haura menarik napas lega, membetulkan kemeja dan rok yang membungkus tubuhnya yang benar-benar langsing dan indah. Wanita itu mengatur kembali pernapasannya agar tetap tenang. Saat dia akan melangkahkan kaki, Tiba-tiba—
"Jadi kau masih memiliki hubungan dengan mantan suamimu?" Angeline muncul entah dari mana, dengan tatapan tajam menyelidik kepada Haura.
"No–nona Angeline."
"Jadi itu mantan suamimu?" Wanita itu menyedekapkan kedua tangannya ke depan seolah hendak menyelidiki semua tentang Haura.
To be continue~
~•~
Hai... Teman-teman, maaf kemarin tidak update, karena kesibukan yang tidak bisa aku tinggalkan. Semoga besok setelah sahur aku bisa tambah satu bab lagi.
Oia... untuk Bestie semua, yang besok sudah mulai berpuasa. Selamat Ramadhan untuk semuanya. Semoga berkah di bulan Ramadhan ada pada kita semua dan semoga Allah mengabulkan doa dan puasa kita! Aamiin Yaa ALLAH.
~•~
sekalian promo novel author keren HaruMini, sambil nunggu Kala Bos Menggoda Update, Bestie semua bisa kepoin Novel temen aku ini. Dijamin keren dan nagih.