
Alden terpaku tidak bisa berkata apa pun. Hampir saja jantungnya ingin meledak karena saking senangnya. Wanita yang ia cintai memeluk dirinya dengan begitu erat, seolah tidak ingin melepaskan dirinya.
Haura melepaskan pelukannya, pipinya benar-benar memerah menahan malu, tiga hari yang lalu dia menolak pria ini. Namun, kini dia berlari sendiri ke arah—pria ini lagi, seolah Haura benar-benar wanita yang sangat plin plan.
"Jangan...." Kalimat Haura tercekat, dia nampak menunduk menyiapkan kata-kata untuk Alden.
"Jangan? Jangan apa?"
"Jangan mengencani Angeline... karena aku tidak suka," sahut Haura kikuk.
Senyuman mengembang di bibir tampan Alden, pria itu benar-benar bahagia kali ini. Ia hampir tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang meledak-ledak karena Haura berkata seperti itu.
Apakah Haura cemburu?
"Aku tidak berniat sekalipun mengencani Angeline, karena aku benar-benar menganggapnya sebatas sahabat."
Haura mendongakkan kepala, sehingga membuat mata mereka saling bersirobok. Wanita itu memandang lekat mata Alden yang terlihat begitu tulus memiliki rasa untuk dirinya.
Tiba-tiba Haura berjinjit, mengecup bibir Alden untuk beberapa detik, Alden yang seperti mendapat serangan bertubi-tubi hampir tidak percaya. Napasnya bahkan seolah berhenti karena tingkah Haura.
"Aku... aku... mencintaimu."
"Apakah kau sedang main-main denganku? Karena kemarin kau membuatku sakit hati?"
"Tidak." Haura menggelengkan kepala tegas. "Aku serius, aku membuka hati untukmu. Saat kau menghilang dariku selama tiga hari, dadaku terasa sesak. Kupikir—bagaimana jika aku benar-benar kehilanganmu. Apa yang akan terjadi kepadaku?" gumamnya pelan.
Alden meraih bahu Haura, dan membenamkan ke dalam dadanya yang bidang, mengelus lembut surai coklat tua yang panjang milik Haura. "Aku berjanji akan membahagiakanmu. Aku juga tidak akan seperti si bedebah itu, yang meninggalkan wanita hanya karena sebuah kekurangan, Haura."
Tak terasa air mata Haura menguar, ia hampir tidak percaya jika ada lelaki yang menerima dia apa adanya, bahkan meski dia mandul sekali pun, dia tidak akan pernah meninggalkan Haura karena masalah tersebut.
Harapan yang dulu sudah punah tentang cinta, dan hati yang sempat luluh lantah, kini seolah kembali terbangun lagi, sikap Alden yang tegas menyatakan cinta dan tentu saja keseriusan Alden mampu meruntuhkan benteng pertahanan, dan mungkin saja trauma yang dirasakan oleh Haura sedikit demi sedikit terkikis.
~•~
Theo tengah menyeruput kopi di meja makan, sementara dari luar pagar sebuah mobil berhenti, tidak lama Alila masuk ke dalam, membawa sebuah amplop dan melemparkan begitu saja di atas meja makan.
"Kau mandul!" Wanita itu mendengus lalu menyedekapkan kedua tangan ke depan.
"Lalu?" Theo menanggapi ucapan istrinya dengan santai.
"Aku menyesal menikah dengan dirimu!" Alila berucap lantang.
"Aku tidak peduli jika memang kau ingin pergi meninggalkan rumah ini! Kau ingin bercerai, maka aku akan mengabulkan dengan suka rela! Aku lebih menyesal karena aku telah membuang berlian demi seonggok kotoran seperti dirimu!" Theo menghempaskan tubuh istrinya hingga wanita itu terduduk di kursi makan, kemudian pergi meninggalkan Alila, bahkan pria itu sengaja menyambar cangkir kopi yang sebelumnya dia minum hingga jatuh ke lantai dan pecah.
Alila menangis penuh penyesalan, dia menikahi pria yang salah—dulu dia menganggap jika dia menikah dengan Theo hidupnya akan berubah, dia tidak perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, karena dia menikahi seorang pria mapan, walau dulu Theo berstatus suami orang. Akan tetapi kini seolah hukum sebab akibat telah berlakuuntuknya. Di mana pria yang menikahinya itu tak ubahnya pria pengangguran dan kasar, ditambah lagi Theo hanyalah pria mandul yang tidak bisa memiliki anak. Untuk saat ini Alila tidak bisa berbuat apa pun, karena hidupnya benar-benar membutuhkan Theo, dia tidak memiliki tempat tinggal—dia berbohong pada keluarga Theo jika dia adalah anak orang kaya, padahal dia hanyalah anak seorang janda miskin yang tinggalnya dipinggir kota Tadpole, saat dulu dia menikah dengan Theo, dia menyewa orang-orang yang pandai berakting untuk berpura-pura menjadi keluarganya, hanya untuk menjadi saksi di atas Altar pernikahannya dengan Theo.
Alila menangis sejadi-jadinya dan merasa menyesal melakukan ini semua.
~•~
Selama di perjalanan pulang, satu tangan Alden terus memegang tangan Haura, seolah pria itu benar-benar enggan melepaskannya.
"Jangan begini, Alden! Kau sedang menyetir!" Haura mencoba melepaskan genggaman tangan Alden.
"Aku hanya tidak ingin melepaskanmu lagi, Haura."
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Berkonsentrasilah!"
Terpaksa Alden melepaskan tangan Haura dan kembali menggenggam setir kemudinya dengan kedua tangannya, memperhatikan jalanan kota Tadpole yang seolah malam ini terasa indah, bahkan udaranya terlihat bersahabat dan begitu tenang di mata pria itu.
Pun ketika sampai di apartemen, Alden selalu menggandeng tangan Haura, seolah benar-benar tidak bisa melepaskan wanita ini, dia akan menunjukan pada dunia jika penantiannya selama ini telah berakhir bahagia, Haura menerima cintanya yang sudah terpendam lebih dari tujuh tahun lamanya, dan kini wanita impiannya telah menjadi miliknya.
Saat telah sampai di depan pintu unit apartemen Haura, wanita itu memberi isyarat untuk Alden agar melepaskan genggamannya.
"Apakah kau tidak ada niatan melepaskan tanganku, Alden?" Haura tersipu malu ketika mengatakan hal itu.
"Kau tahu, tanganku ini seolah seperti diberi lem, hingga tidak bisa lepas darimu."
Reflek Haura menepuk pundak pria itu, karena malu. "Haura... Kau melakukan pelanggaran, karena memukul bosmu."
"Oh... Maafkan saya,Bos!" jawab Haura setengah menunduk.
"Sebagai hukumannya, apa kau mau ditemani tidur?" goda pria itu.
"Jangan macam-macam Alden!"
Alden tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat Haura tersipu malu.
To be Continue~