Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 45 • Pria Pengganggu


Haura sudah mengecap madu kenikmatan dengan Alden, akan tetapi dirinya masih tetap saja menyimpan rasa trauma—rasa itu masih melekat kuat di dalam hatinya, bagaimana jika dia dicampakkan lagi, dan dibuang begitu saja, seolah dirinya hanya sebuah barang yang susah tidak terpakai, maka ia harus dirongsokan. Haura tahu betul dan tidak ingin mementahkan perasaan Alden. Karena dia kini juga merasakan hal yang sama, hanya saja dia benar-benar tidak siap untuk kembali berkomitmen.


Sementara Alden hanya harus bersabar sebentar lagi, untuk menunggu Haura, Alden yakin Haura tidak akan mengecewakannya.


~•~


Haura bangun dengan perasaan damai, Alden semalam menginap di apartemennya, menemaninya hingga terlelap dan tidur di sampingnya. Haura meraba samping tempat dirinya berbaring, dan kosong. Alden telah pergi, mungkin saja pria itu kembali ke apartemennya untuk pergi bekerja. Haura memutuskan untuk keluar kamar, dia sesekali menguap karena rasa kantuk dan malas masih menjangkiti dirinya. Saat dia membuka pintu, dia melihat meja makan sudah full berisi sarapan dan susu almond untuk dirinya.


Wanita itu berjalan mendekat ke arah meja itu, dan melihat memo kecil yang tertempel di atas buah pisang. Tanpa pikir panjang Haura meraih kertas putih bertuliskan.


Kau sudah bangun? Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Makanlah! Lalu mandi dan pergi bekerja, aku ada rapat penting di luar kota


Melihat tulisan itu, senyuman tipis terukir di bibir Haura, wanita itu nampak antusias dengan makanan yang sangat lezat di hadapannya. Steak dengan berbagai sayuran yang sangat menggugah seleranya.


Haura duduk dan mulai makan, pikirannya terus melayang saat-saat kemarin dia melakukan itu bersama Alden, bagaimana pria itu memperlakukannya dengan penuh cinta. Wanita itu melirik ke arah jendela kaca besar yang gordennya telah terbuka sebelumnya.


Pagi ini diselimuti dengan awan hitam, dan sepertinya akan turun hujan—hal yang paling membuat Haura malas. Cepat-cepat dia menghabiskan sarapannya, dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Butuh waktu satu jam hingga wanita itu menyelesaikan acara mandi paginya, ya... sebagain wanita sangat menyukai ritual ini—tidak terkecuali Haura.


Dia keluar, menuju walk in closet. Wanita itu memilih baju satu persatu, pilihannya jatuh pada celana Palazzo warna hitam berbahan kain linen dipadu dengan dalaman tank top dan disempurnakan dengan blazer warna abu-abu, tak lupa ia melengkapi tampilannya dengan clutch berwarna hitam dan heels warna senada. Haura menambah riasan natural dengan lipstik berwarna nude favorit Haura, rambutnya pun dia biarkan tergerai begitu saja tanpa ditambah dengan aksesoris apa pun kecuali arloji.


Haura menyambar kunci mobil sebelum dirinya keluar, dengan perasaan senang dan damai, wanita itu berjalan menuju basemen untuk menuju mobil dan segera berangkat ke kantor.


Sayangnya saat Haura keluar dari basemen hujan dengan intensitas sedang mengguyur kota Tadpole pagi ini, Haura hanya mengembuskan napas kasar karena merasa sedikit terganggu. Tapi saat dia hendak keluar, pandangannya tertuju pada seorang pria yang tidak asing untuk dirinya. Karena air hujan yang menghalangi pandangannya membuat Haura harus menajamkan mata, dan betapa terkejutnya dia, melihat Theo berdiri di seberang pintu masuk dengan kondisi yang sangat mengenaskan, bibirnya terlihat seolah membeku, dan sepertinya pria itu berdiri di sana cukup lama.


Haura langsung berhenti tepat di depan Theo yang benar-benar terlihat menyedihkan, dia meraih payung di kursi belakang, dan keluar untuk menemui pria itu.


Theo yang melihat kedatangan Haura langsung tersenyum sumringah. Dia nampak begitu senang mantan istrinya kini mau menemuinya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Haura menghardik ke arah pria itu, ekspresi tidak suka tergambar jelas di wajahnya yang sangat cantik.


"Untuk apa?! Aku sudah tidak ingin bicara padamu, kita sudah selesai! Aku sudah memiliki hubungan dengan Alden, dan kau sudah memiliki istri!"


"Aku akan menceraikan Alila jika kau mau, kumohon. Kembalilah padaku!" Tangan Theo mengulur hendak menyentuh tangan Haura yang sedang menggenggam payung.


Cepat-cepat Haura menampik tangan mantan suaminya itu, lalu mundur menjauh.


"Sinting! Aku tidak ingin bicara padamu!" umpat wanita itu, lalu pergi meninggalkan pria itu.


"Aku tidak akan pergi sebelum kau menerimaku, Haura!" seru Theo, meski Haura tidak menanggapi teriakannya.


To be continue~


Izin Promo Novel teman, Ya. Rekomended banget, Bestie. Sambil nunggu Kala Bos Menggoda Up, kalian bisa baca Novel Author Erna Suliandari ini.



Kehancuran yang Ia rasakan, membuat Ilham Adi Prawira, kabur dan mengasingkan diri di sebuah hotel selama beberapa minggu.


Putra pertama dari Prawira grup yang berusia berusia 27 tahun itu, mengalami patah hati yang cukup parah. Ketika sang wanita yang Ia cintai, justru memilih sang Papa sebagai calon suaminya.


Di hotel itu, Ia mengalami sebuah insiden. Seorang pelayan, bernama Khalila. Ia salah memberikan pesanan, hingga berakibat fatal untuk mereka berdua.


Karena kejadian malam itu, dengan semua rasa bersalahnya, Iam mencari wanita itu dan memberikan tanggung jawab untuknya.


"Tak perduli bagaimanapun kau menolak. Aku, akan tetap menikahimu."