
Sadar jika sang ibu sudah tiada, Theo merasa sudah tidak ada gunanya lagi dia mempertahankan rumah tangganya yang tidak sehat dengan Alila. Sejak awal Theo tahu jika wanita ini hanya akan ingin menghancurkan dirinya dan Haura, atas perintah ibunya--Delarosa ia terpaksa menceraikan Haura yang ibunya klaim jika wanita itu tidak bisa memberinya keturunan, maka dari itu sudah saatnya Theo membebaskan Alila agar wanita itu bisa hidup bebas tanpa dirinya yang mandul.
"Sekarang tidak ada alasan bagiku lagi untuk mencegah dirimu pergi. Karena orang yang paling ingin melihatmu bersama denganku kini telah tiada. Aku tidak benar-benar mencintaimu, Alila. Kuharap kau bisa mengerti ini." Di bawah temaram lampu di ruang tengah rumahnya, Theo terduduk lesu di depan televisi. Kini hidupnya benar-benar hancur--kehilangan wanita yang dia cintai, dan kini dia juga harus merelakan wanita yang telah melahirkannya untuk pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Aku tidak bisa," celetuk wanita itu menolak ajakkan Theo untuk bercerai. "Sejak awal kau menikahiku, berarti kau benar-benar mencintaiku." imbuh wanita itu lagi, seolah berdalih jika Theo yang memintanya menikahi dirinya.
"Aku sendiri tidak yakin akan itu--nyatanya hatiku selalu berpihak pada mantan istriku, Haura, dan aku sungguh menyesal telah melepaskan dirinya," jawab Theo dengan tatapan yang masih kosong.
"Omong kosong! Kau menginginkan dirinya karena Haura sudah berubah menjadi seperti wanita yang kau idam-idamkan selama ini, aku tahu itu, Theo. Dan kau tidak bisa mengelak hal itu!" teriak Alila, karena ia merasa kini dirinyalah yang seolah telah dibuang oleh suaminya sendiri.
Mata Theo menyambar wajah Alila yang tengah berapi-api menahan amarahnya. Begitu nanarnya netra pria itu. Kurang dari satu tahun hidupnya benar-benar hancur lebur hanya karena hasratnya tentang wanita cantik dan keturunan. Seharusnya dulu dia tidak meninggalkan Haura karena dia tidak menarik. Justru ia harus membuat Haura cantik dengan uang yang dia miliki--bukan malah meninggalkan wanita yang mau menerima dia apa adanya tanpa ada embel-embel harta. Theo menyesali itu semua, hingga tanpa terasa air matanya menetes karena mengingat wanita yang dia cintai kini sudah menjadi milik orang lain.
Alila terdiam, sejak awal dia menikahi Theo karena memang menginginkan hidup yang mewah karena selama ini Alila memang menganut paham hedonisme. Namun, keuangannya tidak memungkinkan dirinya untuk hidup seperti itu. Saat dia pertama kali bertemu dengan Delarosa di suatu kafe dan dia tahu dari penampilan wanita itu dia orang berpunya, maka dari itu Alila ingin mendekati Delarosa--dan pucuk dicinta ulam pun tiba, ketika dia melihat Theo saat itu menjemput ibunya dengan mobil mewah, membuat wanita itu silau, dan berharap Delarosa mau menjodohkan dia dengan anak lelakinya yang tampan dan terlihat kaya raya itu, bahkan dia tak gentar ketika mengetahui kenyataan jika Theo telah memiliki istri, dan dia terus mencuci otak Delarosa di sela-sela pertemuan mereka, agar Delarosa mau menerima dirinya menjadi menantu, dan wanita jahat itu akhirnya benar-benar berhasil merebut Theo dari tangan Haura.
"Baik kalau kau memaksa," sahut Alila.
Senyuman ironi terukir jelas di wajah Theo, dia telah menduga jika Alila hanya ingin uang yang ia miliki, wanita itu tidak pernah mencintai dirinya sedikitpun.
"Aku akan persiapkan semuanya mulai besok, dan kuharap setelah itu kau benar-benar melepaskan diriku."