
Josep menutup panggilan teleponnya, wajahnya begitu panik—dia memutuskan untuk mendekati bosnya yang tengah mendengarkan presentasi dari klien yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.
Josep tanpa ragu, membisikkan sesuatu pada Alden, saat pria itu mendengarkan dengan seksama, dia nampak terkejut—pria itu langsung berdiri, dan menghentakkan pulpen yang sejak tadi dirinya genggam.
"Saya harus pergi. Pertemuan ini ditunda sampai waktu yang tidak bisa saya tentukan," sela Alden, yang membuat para klien yang ada di ruangan tersebut saling adu pandang. Tapi mereka enggan berkomentar, karena di sini perusahaan mereka yang membutuhkan Alden.
Alden langsung berlari keluar, dia nampak tergesa-gesa, sementara Josep mengikutinya dari belakang.
Keduanya masuk ke dalam mobil, Josep duduk di bangku belakang di samping bosnya yang memasang wajah khawatir.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" Alden benar-benar nampak gusar, pagi tadi ia meninggalkan Haura yang masih terlelap tidur dan semua terlihat baik-baik saja.
"Haura menyiram Angeline dan istri Theo dengan kopi panas." Helaan napas terdengar jelas dari diri Josep.
"Haura melakukan itu?" tanya Alden tidak percaya.
Josep menyerahkan tablet yang ia genggam, dan memperlihatkan rekaman kamera pengawas di lobi kantor mereka.
Alden melihat semua, bagaimana cara Angeline dan Alila memprovokasi Haura. Sebenarnya selama ini kekasihnya itu adalah wanita yang cukup tenang. Namun, karena kehidupannya diusik oleh dua wanita itu, membuat Haura merasa jengah.
Setelah selesai melihat semua kejadian, senyum tipis terukir jelas di bibir Alden.
"Bagus!" Alden menyerahkan tablet berlayar datar itu pada Josep.
"Bagus?" Josep nampak heran dengan reaksi sang bos. "Apakah kau tidak waras? Dia menyiram Angeline dengan air panas!" Josep nampak tidak begitu suka dengan ucapan Alden kali ini.
"Kau tidak tahu bagaimana Angeline memperlakukan kekasihku, bukan? Dia hampir saja mati karena Angeline!" Alden mendengus pada pria yang duduk di sampingnya itu. "Hal itu yang aku harapkan dari Haura, dia menjadi berani!" imbuhnya lagi.
"Lalu kita akan ke mana sekarang?"
"Bawa aku ke kantor polisi! Aku akan membebaskan Haura," perintah Alden pada si sopir yang membawa mobilnya.
Haura benar-benar sendiri di kantor polisi, Angeline benar-benar melaporkan wanita itu atas ulahnya menyiram dirinya dengan air kopi panas, tapi meski begitu Haura tetap tenang menjawab pertanyaan polisi yang sedang bertanya padanya.
"Apakah Anda tahu konsekuensi tindakan Anda, Madame?" tanya si polisi.
"Ya, saya tahu." Haura menjawab santai, dengan tatapan kosong ke depan.
"Saya mau dia dihukum seberat-beratnya pak polisi!" Angeline menyela ucapan Haura, wajahnya masih memerah karena luka bakar ringan yang ia derita. "Bagaimana jika aku cacat?" imbuhnya lagi. Sementara Alila hanya diam saja, dia tidak berani berkomentar.
"Haura!" Theo yang mendapat kabar dari Alila jika dia disiram air panas, dan melaporkannya ke kantor polisi, membuat pria itu lari tunggang langgang menuju ke tempat tersebut. Bukan karena dia khawatir dengan Alila, akan tetapi pria itu malah memikirkan Haura. "Kau baik-baik saja?" Theo nampak khawatir dengan wanita itu.
"Lepaskan aku, dan jaga istrimu untuk tidak mengusik hidupku lagi!" ancam Haura, dan membuat Theo mematung karena wanita yang biasanya lemah lembut kini berubah menjadi wanita menakutkan.
Polisi masih mendalami kamera pengawas yang menjadi bukti utama kejadian ini.
"Madame... maafkan saya, rekaman ini akan memberatkan Anda!" ucap si polisi dengan sesekali melirik ke arah Haura yang masih santai.
"Saya akan menjamin kekasih saya, Pak Polisi!"
Suara itu membuat semua orang menoleh, polisi yang melihat Alden datang langsung nampak gelagapan. Sementara Haura yang sejak tadi nampak dingin, berubah ketika melihat Alden datang.
"Alden!" Haura berhambur memeluk kekasihnya, dia tahu jika Alden tidak akan membiarkan dirinya dipenjara.
To be continue