Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 61 • Akhir Hayat


Tanpa pikir dua kali, Haura berlari ke untuk menjenguk mantan mertuanya. Bukan ia merasa masih menyayangi wanita itu—tapi karena rasa bersalahnya pada Delarosa. Dia menganggap sakit yang dialami ibu Theo, adalah campur tangan Haura. Bagaimana jika Delarosa meregang nyawa. Tentunya hal itu akan menjadi dosa seumur hidup untuk Haura.


Wanita itu langsung menekan lift untuk menuju lantai satu—tanpa izin terlebih dahulu pada tunangannya, Haura benar-benar pergi tanpa sepengetahuan Alden.


Seluruh pikiran Haura diselimuti rasa bersalah, hingga dia menyetir tanpa berkonsentrasi. Dia terjaga dan sadar ketika Haura melihat seekor kucing berlari melintas di depannya. Membuat wanita itu seketika menginjak rem secara mendadak dan membuat mobilnya benar-benar berhenti.


Haura terkesiap, dan melihat kucing itu juga seolah terlihat sama kagetnya dengan Haura. Membuat Haura menarik napas dan mengembuskannya perlahan, agar dirinya tetap tenang.


Haura mengutuk diri, mengapa hari itu dia memprovokasi Delarosa dan berkata jika anaknya lah yang tidak berguna dan mandul.


Sesampainya di rumah sakit, Haura berhambur masuk ke dalam. Dari jauh dia melihat Theo duduk sendiri, tak jauh dari pria itu duduk ada Alila yang berdiri dengan wajah yang datar.


"Theo!" Haura menyapa mantan suaminya. Melihat Haura datang, senyuman tipis mengembang di wajah pria itu dan segera menuntunnya untuk beranjak berdiri dan menghampiri wanita itu. Tangan Theo mengulur ingin memeluk Dira—dengan cepat wanita itu menampiknya dengan sangat keras, hingga membuat Theo mengurungkan niatnya.


"Bagaimana keadaan mamamu?" Haura nampak khawatir. Alila yang melihat Haura datang langsung beringsut. Dia takut pada Haura, karena di belakang wanita itu, berdiri kekuatan yang tidak main-main lagi.


"Aku harap Mamamu baik-baik saja!" tandas Haura lagi, diikuti anggukan dari pria itu.


Ponsel Haura berdering, memaksa wanita itu merogoh tasnya untuk mencari-cari benda berlayar datar itu. Saat Haura membukanya—Haura terkejut, dia benar-benar melupakan Alden, tanpa mengabari pria itu jika dia tengah berada di rumah sakit.


"Kau di mana? Apakah kau tidak bekerja? Kudengar kau izin kepada kepala divisimu jika kau libur hari ini."


"Aku sedang di rumah sakit!" jawab Haura, matanya sesekali memerhatikan gerak-gerik Theo dan Alila yang terkesan aneh, seolah mereka bukan sepasang suami istri lagi karena keduanya benar-benar seperti orang yang tidak dikenal.


"Siapa yang sakit? Kau?" Alden terdengar sangat terkejut ketika kekasihnya berkata rumah sakit.


"Tidak... Delarosa mengalami pendarahan otak."


Tiba-tiba Haura mendengar Theo berteriak, sungguh memekakkan telinganya. Pria itu memanggil nama sang Ibu dengan berderai air mata. Mata Haura terbelalak. Tidak mungkin bukan, jika Delarosa benar-benar meregang nyawa. Apakah itu karena Haura? Tanpa sadar Haura menurunkan ponselnya tanpa menutup panggilan Alden. Sehingga beberapa kali Alden memanggil nama Haura karena khawatir. Tapi Haura malah berjalan mendekati Theo yang nampak mengacak-acak rambutnya.


"Haura... Mamaku meninggal!" Theo berhasil memeluk Haura, tanpa perlawanan dari wanita itu. Haura sendiri tidak kalah syok. Bukan karena kehilangan, tapi rasa bersalah yang begitu besar yang menggelayut di pikirannya.


Alila yang melihat suaminya frustasi ingin rasanya menenangkan Theo. Tapi pria itu sudah memilih wanita lain untuk menjadi sandaran—bukan dia sebagai istrinya.


"Ma–mamamu, meninggal?" Haura menutup mulutnya sendiri seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan Delarosa yang harus mengembuskan napas terakhir dengan cara seperti ini.