
"Aku masih punya sesuatu yang harus aku selesaikan." Haura melengos tanpa menerima cincin bermata indah tersebut.
"Apa? Kau mencintaiku dan aku pun lebih mencintaimu, seharusnya itu cukup untuk kita melenggang ke altar pernikahan," erang Alden tidak suka.
Haura menarik napas panjang, dia harus menjelaskan pada lelaki itu, perihal rencananya membalas dendam pada orang-orang yang telah melukainya, menghinanya, dan membuangnya.
"Aku ingin membalas rasa sakit hatiku," gumam Haura lirih, wanita itu menunduk ketika mengutarakan keinginannya.
Masih berjongkok, pria itu meletakkan kotak hitam di atas meja makan, kemudian tangannya mengulur meraup jari jemari lentik Haura. "Kau tidak perlu mengotori tanganmu dengan dendam, Haura. Karena aku telah membalas mereka satu persatu. Lihatlah hidup mantan suamimu sekarang? Dia seorang pengangguran dan lagi—dia mandul."
Mata Haura menyambar wajah tampan yang selalu membuatnya mabuk kepayang itu. "Dari mana kau tahu dia mandul?"
"Aku memiliki banyak mata-mata yang tidak pernah kau bayangkan, kau hari ini menemui mantan mertuamu, bukan?"
Haura tersentak mendengar pengakuan Alden, apakah dia mengikuti Haura ke mana-mana?
"Aku sengaja mempekerjakan sepasang bodyguard di belakangmu, agar peristiwa kemarin tidak terulang kembali," pungkas pria itu menjelaskan.
Tanpa sepengetahuan Haura pria itu menaruh sepasang bodyguard yang menjaga Haura dari jarak sekian meter, sehingga di manapun Haura pergi, maka bodyguard itu akan mengikuti Haura bagaikan penguntit.
"Kau mau membatasi pergerakanku?" Haura tidak suka dengan tindakan di luar batas Alden.
"Tidak... Aku hanya ingin mencegah kejadian penyerangan Alila dan Angeline tidak terulang lagi, kau tahu—aku sangat takut kehilanganmu, matahariku."
"Aku mau...." gumam Haura lembut, hampir saja Alden tidak mendengar suara Haura.
"Apa?" tanya pria itu memastikan.
"Aku mau ... aku mau menjadi istrimu, Alden," jawab wanita itu dengan lantang. Dia hanya harus berani melangkah maju tanpa melihat ke belakang. Inilah saat Haura mengubah takdirnya, dan menghempaskan apa pun yang membebani dirinya.
"Really?!" Hampir saja Alden berteriak tidak percaya, kemudian memeluk erat wanita mungil itu seolah tidak ingin melepaskannya. "I love you, Haura. Aku berjanji tidak akan pernah berpaling darimu, aku tidak akan mengecewakan dirimu seperti pria itu." Alden meraih kotak hitam tadi, dan menyematkan cincin bermata putih itu di jari manis Haura.
"Pas?" Haura bingung, bagaimana cara Alden bisa memesan cincin yang pas untuk jari manisnya.
"Aku mengukur jarimu ketika kau tidur," jawabnya terkekeh.
Pria itu mencium Haura, mainkan lidahnya dalam langit-langit mulut Haura, sementara Haura pun membalas sesapan demi sesapan dari bibir Alden, keduanya benar-benar menikmati keintiman dalam hubungan mereka.
Makan malam romantis, dan diterima lamarannya. Membuat Alden bahagia hari ini, hampir saja jantungnya meledak karena begitu senangnya dia.
"Kau akan tetap membalas dendam?" tanya Alden setelah melepaskan panggutannya dari bibir Haura.
Wanita itu menggeleng lemah, dia sudah berubah pikiran, dan tidak ingin menyia-nyiakan dirinya hanya untuk membalas dendam, toh mantan mertuanya kini sudah berada di tempat di mana dia semestinya, dan bagaimana Theo sekarang, dia sudah sangat hancur hidupnya, itu sudah cukup untuk Haura. Bersama Alden kini adalah keinginan Haura satu-satunya.