
Sudah lebih dari lima jam Haura tidak sadarkan diri tergeletak di ruangan VVIP Rumah Sakit pusat kota Tadpole, tentu dengan Alden yang masih setia bersama kekasihnya itu. Menunggu dengan sabar hingga Haura benar-benar membuka mata. Pria itu duduk dengan gusar di sebelah ranjang Haura. Beberapa kali Alden terus menggenggam tangan wanita itu, dan menciuminya—hanya agar Haura segera bangun. Detik demi detik Alden lalui dengan rasa yang tidak enak di dalam hatinya.
Namun, tiba-tiba Haura mengigau memanggil namanya.
"Alden... Alden. Maaf," gumam Haura lirih.
Ucapan Haura membuat Alden semakin khawatir, pikiran aneh bergelayut di dalam benaknya—bagaimana jika Haura tidak bangun, bagaimana jika wanita ini terus tertidur?
Akan tetapi ketakutannya sirna ketika Haura mulai mengerjapkan matanya. Haura mengedarkan pandangannya, dan bertanya-tanya sedang di mana dia sekarang?
"Kau sudah sadar?" Alden mengelus lembut rambut Haura, ia benar-benar memperlakukan sang kekasih dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Aku di mana?"
"Kau sedang di rumah sakit."
Kilatan ingatan kejadian sebelum ia sampai ke sini ialah, ketika ia bertemu dengan Angeline, dan wanita itu mendorong dirinya hingga Haura terbentur dinding. Saat ia ingat, barulah ia merasa pening akibat ulah Angeline tadi. Haura memegang kepalanya yang terlambat sebuah perban.
"Aku akan memberi pelajaran untuk Angeline!" erang Alden tidak suka.
Haura beranjak ingin duduk, secara spontan Alden membantu kekasihnya dengan menuntun wanita itu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Apa yang sakit, Haura?" Pria itu benar-benar sangat khawatir dengan Haura yang masih nampak lemah itu.
"Jangan apa-apakan Nona Angeline, ingat dia sahabatmu, Alden," gumamnya meski dengan keadaan yang masih lemah.
"Tapi dia membuatmu seperti ini... sepertinya, penyakit mentalnya memang sudah serius."
"Penyakit mental?" Haura benar-benar baru mengetahui jika sahabat Alden itu memiliki penyakit mental di balik penampilannya yang begitu berkelas.
"Ya, dia memiliki gangguan bipolar," tandas sang kekasih menjelaskan. Tangan Alden mengulur mengusap pipi Haura yang begitu lembut.
Haura sendiri hanya bisa terdiam mendengar kenyataan ini semua bukankah gangguan mental ini yang menyebabkan seseorang mengalami perubahan suasana hati, energi, tingkat aktivitas, konsentrasi, serta kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Kondisi pengidap berkisar pada periode perilaku yang sangat gembira atau bersemangat menjadi sangat sedih atau seperti putus asa, dan memiliki ciri-ciri bergejolaknya emosi seseorang secara berlebihan bisa menjadi ciri bipolar. Gangguan yang satu ini sering dianggap sebagai sebuah bentuk kelainan. Padahal, bipolar adalah sebuah gangguan kesehatan yang dialami oleh seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati secara drastis. Suasana hati yang terus-menerus sedih, cemas, atau “kosong” Gelisah, mudah marah. Sering berpikir mengenai kematian atau bunuh diri, pernah melakukan percobaan bunuh diri. Salah satu yang menjadi ciri khas pada gangguan ini adalah adanya satu fase yang disebut fase normal yang terjadi di antara kedua fase mania dan depresi. Orang dengan gangguan bipolar ini bisa hidup normal dengan melakukan aktivitas sehari-harinya dengan wajar dan seperti tidak terjadi gangguan.
Jadi mungkin selama ini Angeline tidak benar-benar sadar jika dia bertindak seperti itu. "Alden... kupikir kau tidak perlu memperpanjang ini semua, karena ini semua di luar kuasa, Angeline." Haura mencoba menyadarkan Alden agar tidak melaporkan polisi atau apa pun itu.
"Mengapa kau sangat baik, Haura?"
"Aku bukan baik, tapi kenyataannya memang begitu."
Haura menjawab anjuran Alden dengan anggukan mengerti.
~•~
Angeline keluar dari gedung De Beauty dengan perasaan tidak karuan, perasaannya seolah hancur bahkan dia merasa dunianya akan hancur karena Alden dengan terang-terangan menolak dirinya.
Tanpa sengaja, ketika wanita itu masuk ke dalam mobil, dia melihat pria yang tidak asing—Theo sedang berdiri memperhatikan pintu masuk seperti sedang menunggu seseorang.
Angeline memutuskan untuk. Menghampiri pria itu, dan bersikap senormal mungkin.
"Hallo... ada yang bisa kubantu?" Angeline menyapa Theo yang masih menatap kosong ke depan. Hal itu membuat mantan suami Haura itu terkesiap.
"Aku mencari Haura, apakah dia belum pulang?"
Barulah Angeline tahu jika lelaki di hadapannya ini adalah pria yang beberapa waktu yang lalu berbicara dengan Haura di basemen.
"Ah... Haura." Angeline nampak tersenyum seolah memiliki sebuah ide.
"Apakah kau mengenalnya?" Theo nampak antusias ketika mengetahui wanita di depannya seperti mengenali Haura.
"Dia siang tadi dibawa ke rumah sakit."
Mata Theo terbelalak tatkala mendengar kabar buruk itu, dia langsung khawatir dengan dengan mantan istrinya.
"Mengapa dia dibawa ke Rumah sakit?" Theo tiba-tiba mencengkeram kedua lengan Angeline membuat wanita itu terbata-bata, karena dialah menyebab Haura di bawa ke tempat itu.
"Aku tidak tahu...." Angeline gelisah, dan nampak depresi ketika tanggapan Theo nampak berlebihan.
"Di mana dia dibawa?" Theo terus memaksa Angeline membuka suara.
"Di–di rumah sakit pusat kota," jawabnya.
Theo melepaskan cengkeramannya dan pergi ke rumah sakit untuk menemui Haura, pria itu menyetir mobil seperti orang tidak waras karena begitu panik dan khawatir pada wanita yang masih dia cintai itu.