Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 28 • Panik


Alden mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Haura. Apa yang akan diperbuat oleh Alden pada wanita itu, membuat Haura reflek memejamkan mata. Bibir itu kembali menyentuh bibir Haura. Namun, Haura bisa merasakan saliva membasahi permukaan bibirnya. Ya, Alden menyesap bibir Haura tanpa permisi, lidahnya menari-nari di dalam langit-langit mulut Haura, membuat wanita itu sukses mencengkeram tas yang sejak tadi ia pangku. Alden benar-benar melakukannya, dan Haura tidak menolak sama sekali, malah seolah dengan bodohnya ia menikmati permainan bibir Alden yang begitu lembut dan menggoda. Tapi ada yang aneh, sepertinya ini adalah ciuman pertama Alden, karena dia tidak terlihat handal dalam hal satu ini. Namun, bagi Haura tentunya ini bukan hal yang pertama, dan Haura tidak ingin mengambil inisiatif dan tetap diam saja. Butuh waktu sepersekian detik hingga Alden melepaskan panggutannya dari bibir Haura.


"Maaf...." gumamnya, merasa bersalah karena tiba-tiba mencium Haura tanpa permisi.


Haura bergeming—enggan berkomentar. Ia juga bingung harus menanggapi apa, tapi ia takut sikap diamnya ketika Alden menciumnya akan memantik pikiran jelek di benak laki-laki itu, mungkin saja pria ini berpikir jika Haura adalah wanita gampangan karena menikmati ciuman darinya.


"Apakah kau terkejut?" tanyanya lagi.


Haura menggeleng pelan, ia mencoba setenang mungkin meski hatinya berdebar.


"Aku akan memberimu waktu, agar kau bisa berpikir dan menerima atau menolak perasaanku. Tapi jujur, aku ingin memaksa jika kau benar-benar menolakku, Haura," ujar pria itu lagi. Kilat keseriusan terpancar di matanya, dia memang terlihat tulus—hati Haura-lah yang kacau seolah enggan menerima kenyataan jika dia seharusnya membuka hati untuk Alden yang memang sejak awal selalu ada untuk dirinya, akan tetapi rasa takut seolah menghantui Haura setiap saat, potongan penghianatan yang pernah Theo torehkan seolah menjadi luka batin tersendiri untuk Haura, hingga akhirnya ia sangat sulit untuk membuka hatinya sekali lagi.


Alden kembali menjalankan mobilnya, membelah jalanan kota Tadpole yang sudah terlihat lengang, karena jam pulang kerja telah usai.


"Kau tidak membawa mobil yang kubelikan?" tanya Alden, membuka percakapan walau terasa canggung.


"Ya, aku ingin membawanya tadi, tapi aku malu."


"Malu? Untuk apa malu? Aku memberikan itu untukmu." Alden mencoba meyakinkan jika dia memberi mobil itu dengan ikhlas dan tidak ada niatan apa pun, meski ia benar-benar berharap cintanya terbalas.


"Bagaimana bisa karyawan baru beberapa minggu bekerja, sudah bisa membeli mobil bagus seperti itu, bagaimana jika menjadi gunjingan seisi gedung?"


"Rupanya kau masih mendengarkan omongan orang lain. Singkirkan siapa saja yang tidak ada sangkut pautnya dalam hidupmu, apalagi tidak memberi kontribusi positif untukmu." Alden seperti memberi wejangan, seolah benar-benar menjadi motivator untuk wanita itu. "Aku tidak ingin tahu, pokoknya kau besok harus membawa mobil yang kubelikan untuk pergi ke kantor."


"Apakah itu harus?"


"Ya... harus," dengusnya menimpali pertanyaan Haura. "dan lagi, jangan melupakan sesuatu yang penting!"


"Apa itu?"


"Menjawab pernyataan cintaku untukmu."


Seketika wajah Haura memerah karena malu.


~•~


Matahari telah benar-benar meninggi, dan Theo belum keluar dari kamarnya--bahkan semalam dia pulang ke rumah dengan keadaan sangat mabuk, hingga memuntahkan semua isi perutnya di atas lantai parket kesayangan Haura. Ya, motif ini adalah favorit wanita itu, bahkan sembilan puluh persen desain rumah ini Haura-lah yang mengaturnya. Suasana warm memang Haura terapkan di huniannya ini. Atau mungkin lebih tepatnya mantan rumahnya--karena sekarang rumah ini dikuasai oleh istri baru Theo. Bahkan Haura sengaja meminta memasang perapian kecil, hanya karena agar mereka bisa menghangatkan tubuh dengan kayu bakar, tanpa harus menggunakan alat penghangat ketika musim dingin telah tiba.


Alila yang sejak semalam memang sengaja tidur di kamar tamu, masih mendapati suasana hening, padahal biasanya jam-jam seperti ini adalah saat di mana Theo akan berangkat kerja.


Alila pergi memeriksa keadaan suaminya, apakah dia sakit paska mabuk semalam. Namun, ketika Alila membuka pintu kamar, dia mendapati pria itu telah tidur pulas bahkan sedang dalam keadaan mendengkur. Jujur Alila sangat kesal, dia berjalan ke arah gorden, dan membukanya, agar sinar matahari bisa masuk dan mengenai wajah suaminya itu.


"Ah...tutup gorden itu lagi!" erang pria itu dengan masih memejamkan mata.


"Apakah kau sudah tidak waras! Ini sudah waktunya bekerja, Theo!" sahut Alila, berkacak pinggang.


"Aku sudah tidak bekerja lagi! Karena aku sudah dipecat!" Theo menutup wajahnya dengan bantal.


"Apa!?" Alila benar-benar terkejut dengan ucapan yang terlontar dari mulut suaminya itu. "Bagaimana bisa terjadi? Pasti kau pemalas, dan korupsi!" tuduhnya.


"Tutup mulutmu!" Theo beranjak dari posisinya, matanya yang merah membuat nyali Alila ciut. "Ini semua karena kau dan ibu! kalian memprovokasi Alden si pria bedebah itu, dialah yang membuatku kehilangan pekerjaanku."


"Kenapa aku kau seret-seret?" Alila beringsut, tapi dia tetap mencoba membalas semua kata-kata yang terlontar dari mulut suaminya.


"Karena kau yang telah memprovokasi mama untuk menyerang Haura, dan itu sangat ampuh karena mamaku terlalu menyayangimu, padahal kau benar-benar wanita tidak tahu diri," umpat pria itu kesal.


"Kau kerjalah sendiri untuk memenuhi gaya hidupmu yang hedonis itu! Aku menyerah, tidak usah menunggu hasil lap aku mandul atau tidak, aku sudah tidak membutuhkannya lagi! Jika kau ingin pergi dariku, silakan!"


Pria itu beranjak berdiri, masuk ke kamar mandi meski kepalanya luar biasa berat karena over hank bekas minum-minum semalam.


***


Haura menyisir rambutnya di depan cermin, memerhatikan bayang dirinya sendiri dengan rambut coklat dan warna rambut pasir, tak lupa ia memakai perona pipi dan sentuhan terakhir adalah lipstik nude yang selalu setia dia pakai. Pikirannya menerawang jauh perkataan Alden semalam yang akan menunggu dirinya setidaknya membuat hati Haura yang mengeras seolah sedikit melunak.


Tiba-tiba ponsel Haura berdering, nama Alden terpampang di layar ponsel wanita itu. Haura menyambar benda berlayar sentuh itu sebelum dirinya menjawab panggilan Alden, Haura seolah mempersiapkan suaranya sendiri.


"Hallo ... buka pintu sekarang!" pinta Alden, napasnya tergesa-gesa seolah ingin segera merangsek masuk ke dalam.


Haura berjalan cepat menuju pintu tanpa menutup teleponnya, saat telah terbuka—Haura melihat Alden dengan piyama tidurnya, rambutnya begitu acak-acakkan, tidak seperti biasanya rapi, dan begitu licin, hingga jika ada lalat yang tidak sengaja hinggap, hewan itu akan tergelincir.


Alden merangsek masuk tanpa permisi, Haura sangat bingung dengan apa yang dilakukan bosnya itu sepagi ini dengan piyama tidur.


"Ada apa?"


"Nenekku, dia ke mari." Alden memindai pakaian Haura yang sudah nampak rapi seperti hendak pergi ke kantor. "Ganti pakaianmu dengan baju tidur!" perintahnya tergesa-gesa.


"Untuk apa? Jika nenek ke mari, kau bisa menemuinya di kamarmu bukan?" Haura masih tidak paham juga.


"Kau lupa? Nenekku mengira jika kita tinggal satu atap!"


Barulah Haura sadar, jika apa yang dikatakan Alden benar, wanita itu bergegas berganti baju dengan pakaian yang semalam dia pakai. Pakaian tidur berwarna hitam mini berenda, yang membuat Alden seketika menelan ludah saat menatap wanita itu.


To Be Continue~


Hei... Gaes, maaf jika akhir-akhir ini aku cuma bisa update satu bab. Karena benar-benar sibuk. Tapi aku usahakan satu bab berjumlah 1000 kata lebih, ya. Biar sedikit puas. 😍


Terima kasih


~•~


Aku mau promo novel dari penulis favorit aku kak Sisca Nasty


Blurb : "Perjuangan yang sungguh-sungguh akan membuatmu berhasil mencapai apa yang kau inginkan. Berjuanglah dan tanamkan satu target di hadapanmu!"


~Lara Alessandra


Sebagai wanita dengan berat badan 107 kilogram, Lara kerap kali merasa berkecil hati. Kedatangan keluarga Alex untuk melamar dirinya sudah seperti anugerah terindah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


Sayangnya, pernikahan sempurna yang dibayangkan Lara tidak sama dengan kenyataan. Alex ternyata mau menikah dengannya karena sebuah paksaan. Bukan karena cinta apa lagi mau menerima Lara apa adanya.


Namun, Lara tidak pernah menyerah. Dia terus berjuang agar Alex mau mencintainya dan menerima dia apa adanya. Ketika perjuangan Lara masih setengah jalan. Dia justru memergoki sang suami sedang bersenang-senang dengan wanita lain.


Apakah Lara akan berhasil membuat Alex jatuh cinta padanya atau justru dia akan menyerah dan memilih untuk meninggalkan Alex?