Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 41 • Perasaan Aneh


Theo menyetir dengan cara serampangan, yang ada di dalam benaknya, dia harus segera sampai dan melihat Haura dengan mata kepalanya sendiri, apakah wanita itu baik-baik saja, atau bahkan—Theo tidak berani memikirkan hal aneh-aneh tentang mantan istrinya itu.


Pria itu memarkirkan mobil sport-nya secara sembarangan, dan langsung berlari ke ruang informasi mencari pasien bernama Haura Oxley. Tapi keinginannya pupus ketika si resepsionis menyatakan jika Haura telah pulang sejak satu jam yang lalu.


"Maaf, Tuan. Pasien atas nama Haura sudah keluar kurang lebih satu jam yang lalu," ucap si resepsionis, jarinya menari di atas keyboard komputer untuk mengumpulkan informasi tentang pasien bernama Haura Oxley.


"Dia sakit apa?" Theo nampak tidak sabaran, napasnya naik turun dan jantungnya memompa darahnya lebih cepat hingga adrenalin-nya meninggi.


"Pasien Haura jatuh dan mengalami luka ringan," pungkas wanita muda yang berdiri di balik meja sebatas dadanya tersebut.


Barulah Theo menarik napas lega ketika si resepsionis mengungkapkan kebenaran perihal keadaan Haura.


"Baiklah... Terima kasih, Nona." Theo berbalik badan dan berlalu meninggalkan rumah sakit.


~•~


Alden membawa Haura pulang, sepanjang lobi hingga ke unit apartemen—Alden membopong tubuh wanita yang dia cintai itu, sehingga membuat Haura merasa malu karena dilihat oleh banyak orang tentunya.


"Alden... turunkan aku! Aku hanya luka ringan, bukanya lumpuh," erang wanita itu sembari meronta.


Namun, bukannya menurunkan Haura, pria itu hanya diam seolah enggan berkomentar apa pun. Keduanya telah sampai ke dalam lift, Haura yang mengalungkan kedua tangan ke leher Alden nampak ingin menggoda sang kekasih.


"Aku berat, bukan?"


"Tidak, kau seperti kapas... begitu ringan." Alden berucap tanpa memandang ke arah Haura.


"Terima kasih, karena selalu ada untukku, selalu bersamaku, dan menjagaku."


Setelah Haura mengucapkan kalimat tersebut barulah Alden melirik kearah wanita ini. "Karena aku satu-satunya orang yang kau miliki, aku tidak keberatan meski nyawaku taruhannya. Aku akan tetap menjagamu."


Haura mengerahkan pelukannya untuk Alden, hingga membuat Alden terkesiap dan terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari sang kekasih. Ada geleyar aneh yang merayapi diri Alden seolah tidak bisa dibendung.


Setelah sampai ke unit apartemen, Alden meletakkan tubuh Haura di atas tempat tidur, anehnya pria itu hendak pergi seolah tengah tergesa-gesa, beruntung Haura dengan sigap meraih tangan Alden.


Alden yang melihat Haura begitu cantik—bahkan meski perban menghiasi keningnya, benda itu sama sekali tidak mengurangi keanggunan dari Haura. Alden berhasil menelan ludahnya sendiri, dan bahkan keringat sebiji jagung keluar dari kening pria itu.


"Kau berkeringat, Alden? Kau sakit?" Haura beranjak dari tempat tidur, mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi Alden.


Namun, tanpa Haura sangka kekasihnya malah menangkap tangannya, dan berkata, "Jangan memancingku, Haura!" Peringatan Alden yang tiba-tiba membuat Haura bingung, mengapa Alden berkata demikian.


"Ada apa, Sayang?"


Geleyar aneh itu semakin menjadi-jadi saat mendengar Haura berucap manja memanggil namanya dengan sebutan 'sayang' sekali lagi membuat Alden menelan ludahnya sendiri, lalu melepaskan tangan Haura.


"Haura ... aku harus pergi!"


"Ke mana? Aku masih ingin bersamamu."


"Ti–tidak bisa! Aku harus pergi, aku tidak tahan di kamar ini hanya berdua bersamamu." Alden memindai seluruh ruangan kamar Haura, dan mencium wangi ruangan itu dengan seksama. "Aku harus pergi, Haura."


"Kenapa? Bahkan kita pernah tidur berdua," balas Haura polos.


"Hah?" Alden benar-benar sudah tidak bisa berkata apa-apa mendengar pernyataan Haura.


Sadar jika ucapannya salah, Haura langsung mengelak membenarkan kalimatnya. "Maksudku saat nenek ke mari, kau pernah tidur berdua denganku."


"Ah... Begitu rupanya." Keringat masih mengucur di pelipis pria itu. "Haura... Aku harus pergi sebelum—" Alden tidak meneruskan kata-katanya, dan langsung lari terbirit-birit meninggalkan Haura yang masih kebingungan.


To be Continue ~


Inget puasa, Bestie. Jangan mikir aneh-aneh 😅