Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 24 • Pemecatan


Penghianat dan penggoda, memang cocok satu sama lain~


~•~


Setelah menyatakan cintanya pada Haura, dan wanita itu meninggalkan dirinya begitu saja—tidak membuat Alden menyerah, dirinya sudah menunggu bertahun-tahun untuk akhirnya berani menyatakan perasaannya pada wanita itu. Mungkin dirinya hanya butuh sedikit bersabar lagi, agar wanita itu membuka hati untuknya. Karena rasa trauma akan cinta dan pernikahan pasti masih membekas dan berhasil membuat luka yang cukup dalam di hati Haura.


Alden tengah menopang dagu dengan kedua tangan seraya berpikir, bagaimana selanjutnya cara yang tepat membuat Haura nyaman bersamanya dan tidak canggung—usai dirinya menyatakan cinta pada wanita itu.


"Kau memeluk Haura di depan banyak karyawan?" Suara Josep tiba-tiba menggema di dalam ruangan Alden. Membuat lamunan CEO itu buyar.


"Ya, aku hanya ingin mengekspresikan perasaanku," jawab Alden santai, tangannya mulai membuka laptop di atas meja kerjanya.


"Tidak waras!" gumam Josep, pada sahabatnya. Josep hanya takut jika bos sekaligus sahabatnya ini menjadi bahan pergunjingan seisi gedung.


"Siapa yang tidak waras?"


"Kau. Siapa lagi," erang pria yang telah lama bekerja dengan Alden itu. Dia bukannya tidak suka Alden mencintai Haura, tindakan impulsifnya menyatakan cinta pada Haura, tentunya akan memiliki konsekuensi, karena dirinya adalah seorang bos di perusahaan ini.


"Aku tidak peduli itu semua, aku hanya ingin melindunginya, dan membuatnya tersenyum, tapi—" Alden tidak melanjutkan kalimatnya.


"Tapi apa? Kau ditolak?" Josep merasa penasaran, tapi diamnya Alden membuat dirinya semakin yakin jika sahabatnya itu ditolak. "Bagus! Selamat jika kau ditolak," ledeknya.


"Aku tidak peduli juga jika dia menolakku, aku tetap akan berada bersamanya," jawab Alden menimpali ledekan sahabatnya dengan santai. "Kau tahu supermarket Queensland di pusat kota yang bersebelahan dengan apartemenku?" tanya Alden lagi.


"Ya, kau telah membeli lima puluh persen saham tempat itu dua bulan lalu."


"Antarkan aku nanti siang ke sana!"


"Untuk apa?"


"Kau akan mendapat jawaban ketika kita sampai di sana," jawab Alden, melambaikan tangan mengusir sekretarisnya itu.


Josep keluar dari ruangan bosnya, menuju meja kerjanya. Meskipun pikirannya muncul banyak pertanyaan untuk Alden, tapi dia tahu jika Alden kadang cukup sedikit tertutup untuk masalah pribadi.


~••~


Theo dan Alila pergi ke rumah sakit, karena istri Theo yang baru dia nikahinya itu benar-benar ingin tahu apakah apa yang diungkapkan oleh Haura itu benar, jika Theo-lah yang memiliki masalah reproduksi.


Hasil pemeriksaan kesuburan reproduksi biasanya dapat diterima oleh pasien dalam jangka waktu dua puluh empat jam hingga satu minggu, tergantung laboratorium klinik atau rumah sakit tempat pasien menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan itu dapat menunjukkan dua hasil, yaitu normal dan abnormal.


Dokter sendiri menyarankan untuk sepasang suami istri itu kembali besok, dan sekarang mereka diminta untuk pulang.


Saat di dalam mobil, keduanya kembali beradu argumen memenangkan pikiran mereka masing-masing, dan Theo sudah tidak peduli jika Alila akan tinggal, atau tidak dia bersumpah tidak akan mencegah wanita tidak waras ini pergi dari hidupnya, karena di pikirannya hanya ada Haura mantan istrinya. Dia ingin kembali pada wanita itu, dan menebus segala dosa yang pernah ia lakukan, bahkan pagi tadi dia mencoba membawa Haura pergi, karena ia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk berbicara empat mata dengan Haura, karena pria bernama Alden yang terus menempel pada mantan istrinya itu membuat dia sulit.


"Aku tidak peduli kau mau pergi atau tetap tinggal!" desis pria itu.


"Kau jahat! Kau yang telah menarikku ke dalam kisah ini!" erang Alila, memukul-mukul pundak Theo. "Aku sudah mencintaimu dan kau malah seperti ini!"


"Cinta? Dengan penghinaan yang kau lakukan sekarang, kau bicara cinta padaku?! Tidak... kau hanya memikirkan uang! Bahkan aku melihat saat kau menatap wajah pria yang selalu menempel dengan Haura itu, kau menatapnya dengan antusias seolah kau juga ingin menjadi seperti Haura!"


"Omong kosong!" teriak Alila.


Theo mulai menjalankan mobilnya, dengan perasaan marah yang membuncak di dadanya.


Theo turun di pelataran parkir pusat perbelanjaan di mana tempat dia bekerja, dan menurunkan istrinya begitu saja, meminta wanita itu pulang naik kendaraan umum. Sebenarnya Alila menolak, tapi dia tidak ada pilihan lain selain menerimanya.


Theo berjalan menuju supermarket, tapi dia dihadang oleh seorang sekuriti.


"Ada apa ini?!" hardik Theo, bagaimana bisa pegawai rendahan seperti dia menghalangi jalan Theo yang notabennya atasan dia secara langsung di tempat kerja ini.


"Maaf, Tuan. Ini perintah dari pusat. Jika Anda datang, big bos meminta Anda menemui beliau, " tandas si sekuriti menjelaskan.


Big bos? Apakah dia dipanggil untuk naik jabatan karena pekerjaan dia yang sempurna, atau ada urusan lain? Entahlah. Di pikiran Theo sekarang dia akan naik ke lantai paling atas ke ruangan big bos yang dia maksud.


Theo mengetuk pintu ketika telah sampai di lantai paling atas, sahutan dari dalam membuat Theo membuka pintu dengan lembut. Namun, pemandangan di depan matanya membuat Theo bak di sambar petir, di mana Alden sudah duduk bersama dengan bosnya. Theo menekuk alis ke dalam, dan bertanya-tanya di dalam hati, untuk apa pria ini ada di dalam ruangan bosnya, dan terlihat sekali tingkah atasan Theo itu sangat menghormati Alden.


"Ini untukmu!" Sang Bos memberikan amplop pada Theo dan meminta lelaki itu membukanya.


"Apa ini, Tuan?" tanyanya, membalik-balik amplop yang berlogo nama pusat perbelanjaan itu.


"Buka!" perintah bosnya, Alden hanya diam sembari memasang wajah santai menyeruput kopi dari dalam cangkir mewah yang di suguhkan bos Theo.


Saat Theo membuka isi amplop itu, seketika wajahnya memucat—kakinya bergetar hebat. Dia dipecat secara tidak hormat, karena apa? Bukannya dia tidak melakukan kesalahan apa pun di tempat kerjanya?


"Saya di pecat?" Suara lirih meluncur dengan sedikit terbata dari dalam mulut Theo.


"Ya, karena kau sudah membawa nama buruk perusahaan kita, kau beberapa kali melakukan keributan di unit apartemen tunangan Tuan Alden, dan ibumu juga melakukan penyerangan kepada tunangan Tuan Alden! Itu sudah menjadi alasan kuat untuk kami memecatmu!" jelas bos Theo.


Theo sadar jika di depannya ini, dirinya telah melawan orang yang salah. Lelaki yang selalu menempel pada Haura benar—dia bukan orang sembarangan.


◦•●◉✿To Be Continue✿◉●•◦


Numpang Promo Bestie.


Novel terbaru dari Author Keren Samudra Lee


Blurb : "Dia kekasihku dan kami sudah tinggal bersama." Mata Aqilla membeliak tatkala ada seorang pria yang mengenalkan dirinya sebagai kekasih.


"Kamu bohong kan? Kamu sengaja mengatakan itu agar kamu bisa menghindari ku kan?" Wanita yang berdiri di depan laki-laki yang mengakui sebagai kekasihnya itu bertanya.


"Terserah, Kalau kamu tidak percaya. Asal kamu tahu saja, kami berdua bahkan sudah tinggal satu rumah," Jawa pria yang diketahui bernama Arvin Narendra.


Sebuah kesalahpahaman membuat Aqilla Ashira gadis berumur 20 tahun dan Alvin Narendra seorang pemuda berumur 28 tahun memutuskan untuk tinggal bersama keduanya sepakat untuk memberikan bantuan kepada satu sama yang lain.