JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Keluar Perbatasan


Padepokan Kun Billah memiliki dua puluh rumah seperti ini yang masing-masing dibagikan pada Imam Padepokan. Biarpun Gus Mukhlas termasuk peringkat 5 besar dalam Imam Padepokan, tetapi dia memilih Markas Tapak Suci, rumah paling kecil diantara dua puluh rumah yang ada untuk menjadi kediamannya.


Alasan Gus Mukhlas sederhana, dia tidak berniat memiliki banyak murid seperti ustadz tetap lainnya dan juga dia akan lebih sering berada di luar padepokan. Jadi Gus Mukhlas tidak berniat berebut dengan para Imam Padepokan yang lain soal kediaman tersebut.


Tidak semua murid dan anggota padepokan tinggal di dua puluh rumah ini, melainkan hanya para murid langsung dari para Imam Padepokan. Selebihnya memiliki tempat tinggal mereka masing-masing layaknya sebuah perkampungan.


Gus Mukhlas memberikan Asrul salah satu kamar paling besar yang ada di rumah Tapak Suci, "Jika kau tidak suka kamar ini, kau bisa memilih sendiri kamar yang lain."


Gus Mukhlas membawa Asrul berkeliling, menunjukkannya sumur untuk mengambil air, kamar mandi, dapur, ruang belajar dan lainnya sebelum mempersilahkan Asrul untuk beristirahat.


Asrul memang merasa kelelahan, dia membersihkan kamarnya seadanya sebelum tertidur pulas sampai waktu makan malam.


"Asrul, sebelum mempelajari bela diri, kau harus menguasai beberapa pengetahuan dasar, mulai besok Guru akan membimbingmu..." Gus Mukhlas menjelaskan setelah keduanya makan malam.


Asrul tersenyum canggung tetapi tidak membantah Gus Mukhlas, malam hari itu Asrul tidak tidur melainkan menyusun rencana ke depannya. "Aku ingin melatih tubuhku secepatnya tetapi Guru tidak akan mengizinkanku... "Asrul merasa bimbang dan berfikir untuk menentukan sikap serta pilihan yang akan dia ambil ke depannya. Asrul berniat menjadi murid berbakat agar padepokan memberikan dirinya sumber daya yang cukup untuk mempercepat proses latihannya sekaligus memberi kebanggaan pada Gus Mukhlas.


Masalahnya Asrul juga menyadari dirinya tidak bisa langsung berlatih menggunakan Kitab Al Hikam. Jika seseorang ingin menyimpan tenaga dalam berjumlah besar di tubuhnya, maka dia harus melatih tubuhnya menjadi cukup kuat untuk menyimpan semua tenaga dalam tersebut.


Pada kehidupan sebelumnya, Asrul menemukan kitab ini pada usia 40 tahun, ketika dirinya sudah termasuk salah satu jagoan tingkat tinggi di dunia persilatan.Tubuh Asrul saat itu memungkinkan dirinya untuk langsung berlatih Kitab Al Hikam namun berbeda kasusnya kali ini.


Bagian pertama dari Kitab Al Hikam adalah 'Pembentukan Aura tasawuf' yang membuat Asrul sangat terkejut ketika membacanya.


Bakat bela diri seseorang biasanya dinilai dari kualitas aura dan struktur tubuhnya, pesilat biasanya dapat meningkatkan kualitas aura mereka dengan beberapa jenis obat dan tanaman ajaib, tetapi tidak mudah mendapatkannya.


Kebanyakan orang meningkatkan kualitas aura mereka dengan latihan keras selama puluhan tahun, itupun tidak banyak meningkatkan kualitas aura seorang pesilat.


Asrul sering berada di ruang belajar pada saat malam hari sekalipun. Ketika Gus Mukhlas sedang tidak mengawasinya, Asrul menyalin Kitab Al Hikmah pada sebuah buku kosong. Asrul juga menulis semua kejadian penting yang bisa diingatnya.


Biarpun Asrul memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya tentang banyak hal yang terjadi di masa depan tetapi bukan berarti dirinya tidak bisa lupa. Seiring waktu setelah menjalani kehidupan barunya ini pasti ada yang dia lupakan, sebab itulah Asrul mencatat semuanya dan menyimpannya dengan baik.


"Asrul, ada yang perlu Guru bicarakan denganmu..." Setelah jogging pada pagi hari, Gus Mukhlas mendadak meminta Asrul duduk di hadapannya dan mendengarkan yang ingin Gus Mukhlas sampaikan. "Asrul, Sebagai Imam Padepokan, Guru harus mengambil misi dari waktu ke waktu."


Pada dasarnya Gus Mukhlas menjelaskan paling lama Imam Padepokan bisa libur adalah satu tahun. Dalam waktu dekat Gus Mukhlas akan pergi mengambil misi, dia berpesan agar Asrul tidak kendor pada latihannya.


"Guru tidak perlu khawatir, murid tidak akan mengecewakan Guru." Jawab Asrul. Gus Mukhlas mengatakan mungkin akan membutuhkan waktu beberapa minggu sebelum dirinya kembali ke Markas Tapak Suci.


"Akhirnya aku bisa lebih bebas..." Asrul menghela nafas panjang setelah melihat sosok Gus Mukhlas tidak terlihat lagi.


Asrul memang senang kondisi Gus Mukhlas sedikit membaik, tetapi setahun terakhir ruang gerak Asrul menjadi begitu terbatas karena Gus Mukhlas selalu mengawasinya hampir setiap waktu. Asrul mengemas beberapa barang sebelum lari ke gudang barang Markas Tapak Suci.


Markas Tapak Suci terletak di bagian timur Padepokan Kun-Billah, rumah tersebut juga menyatu dengan dinding pembatas Padepokan. Selama setahun terakhir setiap kali Gus Mukhlas sudah terlelap, Asrul membangun jalan rahasia yang bisa membawanya keluar dari padepokan Kun Billah.


Jika Asrul ingin meninggalkan Padepokan Kun-Billah, dia harus melaporkannya pada ruang administrasi padepokan. Asrul yakin dirinya tidak akan mendapatkan izin untuk meninggalkan padepokan, sebab itulah dia membangun jalan rahasia ini.


Asrul dengan hati-hati memeriksa keadaan sekitarnya sebelum keluar dari jalan rahasia tersebut, dia kemudian menutupi kembali pintu rahasia itu menggunakan rerumputan dan batu-batu. Beberapa pekan terakhir dirinya tidak pernah meninggalkan Markas Tapak Suci, padahal Asrul termasuk orang yang suka berpergian jadi tubuhnya terasa sangat gatal untuk berpetualang.


"Akhirnya aku bisa mulai melakukan rencanaku..." Asrul berlari menuju ke arah timur, tempat yang menjadi tujuan adalah sebuah perkampungan yang berada di dekat padepokan Kun Billah.


Disebabkan Gus Mukhlas terus mengawasinya, Asrul tidak bisa belajar banyak bela diri tetapi dia tidak lupa dari waktu ke waktu berlatih untuk memperkuat fisiknya dengan melakukan kegiatan sehari-hari seperti menimba air di sumur, memotong kayu bakar, membersihkan rumah dan sebagainya. Semua kegiatan itu termasuk latihan fisik yang cukup baik.


Asrul juga diam-diam mempelajari ilmu meringankan tubuh, karena dia belum memiliki tenaga dalam jadi Asrul hanya bisa mempelajari ilmu meringankan tubuh paling dasar yang dikuasai semua pesilat pertama kali yaitu Ilmu Langkah Angin.


"Kaki-kaki ini terasa begitu menyedihkan..." Asrul tersenyum pahit ketika merasakan kecepatan larinya menggunakan ilmu Langkah Angin tidak berbeda dengan kecepatan lari orang biasa.


Satu perubahan nyata yang dibandingkan kehidupan sebelumnya adalah pertumbuhan fisik Asrul, sebelumnya dia adalah pemuda kurus yang terlihat kurang gizi dan kurang tenaga, sama sekali tidak seperti pesilat pada umumnya namun kali ini dia memiliki nafsu makan besar serta melakukan latihan dengan aktif jadi fisiknya tumbuh menjadi besar dan kuat.


Asrul sedikit merindukan kemampuannya yang mampu berlari secepat angin, tetapi dirinya juga memahami selama dia berlatih cukup keras maka cepat atau lambat dia akan mendapatkan kemampuan itu kembali.