JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Datang Bantuan


"Saudara sekalian, untunglah kalian datang kemari. Mohon bantu aku untuk melindungi Mbah Jena."


Gus Mukhlas bernafas lega ketika ketiga pria yang terlihat seumurannya mendatangi halaman tersebut. Ketiganya merupakan perwakilan yang dikirim oleh Markas Cahaya Kebenaran, Padepokan Tedari dan Bukit Siguntang.


Meskipun luka dalamnya telah pulih sepenuhnya tidak membuat Gus Mukhlas menjadi arogan, dia memang memiliki kemampuan yang hebat diantara pendekar bergelar sekalipun namun Gus Mukhlas tidak akan sanggup menghadapi tiga pembunuh topeng darah sekaligus.


"Apa yang harus kita lakukan?" salah satu pembunuh topeng darah bertanya pada dua rekannya.


"Apalagi yang bisa kita lakukan? Ketua sudah membantu kita menjauhkan Taimiyah, kita tidak boleh gagal membunuh Mbah Jena." Jawab pembunuh lain.


Selesai berkata demikian, salah satu pembunuh meniup peluit khusus yang terbuat dari giok. Gus Mukhlas dan tiga orang lainnya menjadi waspada karena mengetahui itu adalah tanda pembunuh Silver Hawk meminta bantuan.


"Habisi mereka sebelum bantuan tiba, jika ada beberapa lagi yang berkemampuan seperti mereka datang maka situasi kita tidak akan bagus." Perwakilan padepokan Tedari berpendapat, dia menarik pedangnya setelah berkata demikian dan menyerang para pembunuh tersebut.


Gus Mukhlas tidak tinggal diam, dia mengikuti begitu juga perwakilan Bukit Siguntang. kiyai yang menjadi perwakilan Markas Cahaya Kebenaran tidak ikut bertarung, menurutnya lebih baik dirinya waspada dan memperhatikan sekitarnya agar tidak ada yang mencoba melakukan serangan rahasia saat mereka terlalu fokus bertarung.


Pertarungan sengit pun terjadi antara pembunuh Silver Hawk dengan Gus Mukhlas serta perwakilan ketiga kelompok terkuat aliran putih.


Suara pertarungan tersebut dapat didengar oleh Mbah Jena dan lainnya yang berada di dalam. Mbah Jena memeluk erat Siti Adawiyah yang ketakutan. Masih ada dua Imam yang melindungi mereka namun Mbah Jena tetap merasa cemas.


Di sisi lain pandangan Siti Adawiyah terlihat kosong, dia sedang memikirkan kondisi Asrul yang dalam bahaya karena melindungi dirinya.


Asrul dan tiga pembunuh topeng ungu terpana melihat langit di atas mereka berubah menjadi perak terang selama beberapa saat. Ketika langit malam kembali seperti semua, Asrul dan para pembunuh itu tersadar.


"Apa yang kau lakukan?!" salah satu pembunuh topeng ungu menjadi panik karena khawatir kembang api yang dilepaskan Asrul akan mempengaruhi rencana mereka.


Asrul mengatur nafasnya kemudian tersenyum akibat kepanikan yang dilihatnya pada ketiga pembunuh di hadapannya, "Memastikan organisasi Silver Hawk akan binasa malam ini." Jawabnya dingin.


Tentu Asrul hanya menggertak, dia sadar meskipun Asosiasi kitab suci mendatangkan semua pendekar ahli dan bergelar yang mereka miliki tidak akan banyak membantu situasi sekarang. Asrul hanya berharap kembang api tersebut menarik perhatian ketiga kelompok terkuat aliran putih yang berada di Mallorca.


Asrul tidak mengetahui pasti jumlah pembunuh Silver Hawk yang datang kemari, tetapi melihat tidak ada bantuan yang datang setelah keributan yang begitu besar di kediaman Mbah Jena, ini menjelaskan situasi serupa sepertinya terjadi di seluruh Istana.


"Mungkin tidak hanya saja Organisasi Silver Hawk yang menyerang istana..." Asrul menjadi semakin khawatir.


Sesuatu yang hampir mustahil untuk ratusan orang menyusup ke Istana tanpa diketahui, kecuali mereka bukan menyusup melainkan melakukan serangan secara terbuka.


"Kita habisi dulu pemuda ini, baru kita beritahu ketua apa yang terjadi.." salah satu pembunuh topeng ungu berkata pada dua pembunuh lain.


Keduanya mengangguk dan mengeluarkan senjata rahasia mereka serta bergerak mengepung Asrul. Kali ini Asrul tidak berusaha lari lagi, dia mengangkat pedangnya cukup tinggi dan mengarahkannya pada pembunuh yang ada di hadapannya.


"Tarian Pedang Zulfikar!"


Ketika ketiga pembunuh terpana melihat keindahan permainan pedangnya, Asrul mendadak maju dan menyerang pembunuh yang ada di hadapannya. Gerakan Asrul begitu cepat, membuat pembunuh tersebut tidak bisa menghindari serangan tersebut sepenuhnya.


Serangan Asrul mengarah ke jantung lawannya, pembunuh tersebut cukup cepat menghindar sehingga luka yang Asrul berikan tidak terlalu dalam maupun serius. Dua pembunuh lain tidak membiarkan Asrul bertindak semaunya, mereka melemparkan senjata rahasia padanya.


Asrul bisa merasakan serangan dari belakang tersebut, dia membalikan badan dan menangkis semua senjata tersebut menggunakan pedang di tangannya.


"Tarian pedang Zulfikar? Ilmu Pedang Zulfikar dari Bukit Siguntang?" salah satu dari tiga pembunuh mengenali ilmu pedang yang Asrul gunakan.


"Pantas saja bocah ini memiliki ilmu yang hebat, dia sepertinya jenius dari Bukit Siguntang." Sahut pembunuh yang lain.


"Tidak, ilmu pedang ini salah satu yang terbaik dari Bukit Siguntang, hanya posisi Imam yang bisa mempelajarinya..." pembunuh yang mengenali ilmu pedang tersebut menambahkan.


Asrul mengerutkan keningnya, "Ternyata anggota Silver Hawk ada juga yang berasal dari aliran putih?"


Sesuai yang dikatakan pembunuh topeng ungu tersebut, teknik yang Asrul gunakan memang berasal dari Bukit Siguntang. Biarpun teknik ini cukup dikenal luas, tetapi sedikit yang pernah melihatnya apalagi mengetahui aturan ilmu ini hanya dipelajari oleh Imam di padepokan tersebut.


Jika seseorang bisa mengetahui sejauh ini artinya dia berasal dari aliran putih yang dekat dengan Bukit Siguntang. Asrul menyadari potensi bahaya yang dimiliki oleh organisasi Silver Hawk dari pernyataan tersebut, ini artinya kelompok aliran putih telah disusupi orang-orang seperti Silver Hawk.


"Kemungkinan Kun Billah juga sudah disusupi, mengingat beberapa tahun lalu ada penyusup di padepokan Kun Billah yang berniat mencelakai keluarga Mbah Jena..." batin Asrul.


Pada kehidupan sebelumnya, Asrul memang berhasil menemukan peninggalan Bukit Siguntang yaitu Kitab Ilmu Pedang Zulfikar dalam sebuah acara lelang, kala itu Bukit Siguntang telah binasa dari dunia persilatan.


Selama ini Asrul tidak menggunakannya di depan Gus Mukhlas karena khawatir pertanyaan yang akan diberikan padanya serta kemungkinan dituduh sebagai pencuri ilmu. Hukuman untuk seseorang yang mencuri ilmu Padepokan lain sangatlah berat.


Selain itu dengan kondisi fisiknya sekarang serta tidak memiliki pedang yang sesuai membuat Asrul tidak bisa menggunakan ilmu pedang ini dengan sempurna. Biarpun sering berlatih ilmu ini diam-diam saat Gus Mukhlas tidak memperhatikan tetapi tetap saja dia hanya bisa mengeluarkan 10% dari kemampuan asli ilmu ini sekarang.


Sudah beberapa tahun sejak Asrul menggunakan ilmu ini untuk bertarung, dirinya menjadi bersemangat karena ilmu ini yang membuatnya dikenal sebagai Sang Juru Selamat.


"Tarian Pedang Zulfikar!"


Saat pembunuh yang terluka karena serangannya berniat mengambil jarak, Asrul tidak membiarkannya. Dengan cepat Asrul memberikan belasan tebasan pedang pada pembunuh tersebut yang sulit untuk ditangkis ataupun dihindari.


Asrul tidak lupa melepaskan aura tasawufnya yang membuat pembunuh topeng ungu menjadi sulit menggerakkan tubuhnya selincah sebelumnya.