JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Sakino, Sobirin, Sa'diyah


Menurut penuturan Sindy, tiga pendekar tersebut memiliki kekuatan yang mengimbanginya dan berada di pihak Mallorca. Asrul menebak yang dimaksud oleh Sindy adalah Sakino, Sobirin dan Sa'diyah.


"Ah, baru dibilang... Itu mereka.” Sindy menunjuk ke satu arah, terlihat seorang wanita paruh baya bersama seorang kiyai.


Asrul bisa melihat tongkat yang dibawa Sa'diyah telah bersimbah darah, sepertinya kediaman Mbah Jena memang bukan lokasi pertama yang mereka datangi.


Sakino dan Sa'diyah tidak mempedulikan pembunuh topeng emas ataupun ungu, mereka mencari lawan yang sebanding dengan mereka.


"Senior mohon bantu Ketua kami!" Asrul berseru kencang pada keduanya sambil menunjuk ke arah Taimiyah.


Sakino dan Sa'diyah sama-sama mengerutkan dahi melihat Asrul berada di tengah pertempuran serta bersimbah darah.


"Kenapa anak kecil sepertinya berada di tengah kekacauan ini?" batin Sa'diyah.


"subhanallah... Apa yang terjadi pada anak muda ini." Sobirin terlihat khawatir. 


"Guru Sobirin, anak itu berada di tangan yang aman. Saudara Taimiyah yang membutuhkan bantuan kita."


Sa'diyah memahami Sobirin yang berasal dari Markas Cahaya Kebenaran serta seorang kiyai memiliki kasih yang luas, sewajarnya khawatir terhadap keselamatan bocah seperti Asrul ditengah pembantaian ini.


Berbeda dengan Sakino, Sa'diyah memandang semuanya dengan teliti. Sa'diyah menyadari kehadiran Sindy yang melindungi Asrul di sampingnya. Selain itu Sa'diyah bisa melihat Asrul diselimuti aura pembunuh, pakaian Asrul memang bersimbah darah tetapi itu bukan darahnya.


Sobirin menyadari ini ketika Sa'diyah mengingatkannya, sekarang dia merasa Asrul bukan anak biasa.


"Anak ini... Apakah Mbah Jena mengetahui kemampuan anak ini?" Sa'diyah memperhatikan Asrul sekali lagi sebelum pergi bersama Sobirin untuk membantu Taimiyah.


Sa'diyah bisa mengingat Asrul dengan jelas karena hubungan khusus antara Asrul dengan cucu Mbah Jena, Siti Adawiyah. Sa'diyah memang sudah mengetahui Asrul begitu berbakat dari kualitas tulangnya namun melihat dia membunuh seperti itu di usianya yang begitu muda membuat Sa'diyah sedikit terganggu.


Asrul kini bernafas lega, dia yakin Taimiyah yang mendapatkan bantuan dari Sakino dan Sa'diyah akan mampu memenangkan pertarungannya.


"Mau kemana kau?"


Sindy tiba-tiba bertanya saat melihat Asrul berniat pergi. Berbeda dengan Anita yang menghormati Asrul dan memanggilnya sebagai tuan muda, Sindy terlihat tidak begitu peduli dengan latar belakang misterius Asrul yang disebut oleh Anita.


Asrul menebak Sindy adalah seseorang yang terlahir berbakat, masih berusia cukup muda terlepas kemampuannya yang mencapai pendekar raja. Asrul dengar di kota Sekayu, tidak jarang ada seseorang yang mencapai tingkat pendekar raja sebelum usia 30 tahun selama memiliki bakat dan sumber daya untuk mendukungnya, kemungkinan Sindy adalah salah satunya.


"Masih banyak pembunuh yang berkeliaran dan aku ingin mengurangi jumlah mereka sebisaku serta menyelamatkan penghuni kediaman ini yang masih bertahan hidup." Jawab Asrul ringan.


Sindy mengerutkan alisnya, kebudayaan dan lingkungan hidup antara Sekayu dan Mallorca memang jauh berbeda. Di Sekayu berlaku hukum rimba dan kekuatan adalah yang menentukan segalanya. Seumur hidupnya Sindy berusaha menjadi lebih kuat agar tidak mendapat penindasan, sikapnya pada Asrul merupakan sesuatu yang umum ditemui di Sekayu, hanya mereka yang memiliki kemampuan mendapatkan penghormatan.


Asrul bergerak dengan lincah sambil menyerang setiap pembunuh Silver Hawk yang terlihat menggunakan senjata rahasia. Sindy sedikit terpana melihat tindakan Asrul.


"Kudengar usianya belum mencapai 30 tahun. Dia membunuh seperti berjalan di taman... Saat seusianya, aku tidak akan mampu melakukan seperti ini." Sindy tidak membantu Asrul menghabisi para pembunuh melainkan hanya mengamati Asrul sambil memastikannya aman dari ancaman.


Perlahan-lahan tumbuh perasaan kagum serta hormat pada Sindy terhadap Asrul, dia bisa melihat andaikan pertumbuhan Asrul tidak terhalang maka pemuda di hadapannya akan menjadi tokoh hebat di dunia persilatan. Bukan hanya di Mallorca tetapi juga di Sekayu.


"Di Sekayu sekalipun sulit menemukan anak yang memiliki bakat sepertinya, misalnya adapun tidak akan ada anak seusianya yang mampu membunuh tanpa berkedip." Sindy awalnya mengira aura pembunuh yang dimiliki Asrul didapatkan dengan cara bersiasat.


Sindy bisa melihat Asrul tidak memiliki tenaga dalam sehingga rasanya tidak mungkin membunuh dengan kemampuannya sendiri apalagi saat pertama kali keduanya bertemu, Asrul nyaris terbunuh.


Sindy berpikir Asrul hanya ahli dalam mengumpulkan informasi dan itupun karena kelompok misterius di belakangnya. Setelah mendengar cerita Anita, Sindy beranggapan Asrul tidak lebih dari boneka sebuah organisasi namun sekarang dia merasa dugaannya tidak tepat.


"Tuan Muda pasti akan menyukai anak ini..." pikir Sindy sambil tertawa kecil.


Asrul merinding saat mendengar tawa Sindy dari belakang, "Apa-apaan? Gadis ini tertawa saat menyaksikan ku membunuh? Kudengar banyak orang tidak waras di dunia persilatan Sekayu, sepertinya kisah ini ada benarnya juga..." batin Asrul sambil menggaruk kepalanya.


"Sepertinya hari ini akan jadi hari kematian Raja Pedang."


Sa'diyah dari Markas Mentari Senja tertawa lantang melihat Taimiyah yang kini dipenuhi luka di sekujur tubuhnya. Albert ingin merasa senang juga hanya saja tangan kirinya mengalami luka cukup serius karena terkena serangan Taimiyah, membuatnya menatap Taimiyah dengan penuh kebencian.


Taimiyah menghela nafas panjang, kedua pedang yang dibentuknya dengan tenaga dalam mulai menjadi transparan karena dirinya sulit berkonsentrasi. Taimiyah sudah menghentikan pendarahan dari luka-lukanya menggunakan tenaga dalam namun tetap saja dia kehilangan terlalu banyak darah.


"Tidak kusangka aku akan berakhir di sini..." Darah segar mengalir di tepi mulut Taimiyah, dirinya masih tersenyum lebar meskipun kondisinya tidak menguntungkan, Taimiyah memandang ke satu arah, "Dan semua ini terjadi saat aku menemukan seseorang yang mungkin menjadikan Kun Billah Padepokan terhebat..."


Taimiyah bermaksud memandang ke arah tempat yang mungkin Asrul berada, namun sebaliknya dia justru melihat harapan.


Raut wajah Albert dibalik topengnya menjadi buruk sementara Seruni sudah berhenti tertawa karena keduanya juga melihat yang telah dipandang oleh Taimiyah.


"Saudara Taimiyah bertahanlah!"


Sa'diyah dari Bukit Siguntang berlari kencang sambil membawa tongkat besinya ke arah Taimiyah, Sakino dari padepokan Tedari mengikuti di belakangnya. Keduanya memiliki kekuatan yang mengimbangi Taimiyah dan kondisi mereka juga masih prima dibandingkan Albert serta Seruni.


Seruni mengumpat kesal, dia baru saja merasa di atas angin dan yakin akan membunuh Taimiyah hari ini namun situasi tiba-tiba berbalik. Albert juga menyadari betapa berbahaya situasi keduanya sekarang.


Saat Albert hendak mencari solusi bersama Seruni, tiba-tiba wanita tersebut menapak pundaknya.