
Yang mampu menyelesaikan ujian lantai kedua akan memperoleh sabuk berwarna kuning, biasanya mereka memiliki kemampuan kultivasi lima lingkaran.
Bagi mereka yang mampu menyelesaikan ujian lantai ketiga akan memperoleh sabuk berwarna merah, mereka yang menyelesaikan tahap tersebut setidaknya membutuhkan kemampuan kultivasi tujuh lingkaran untuk menyelesaikannya.
Lantai keempat merupakan tempat ujian paling sulit, setidaknya membutuhkan kemampuan kultivasi sebelas lingkaran untuk menyelesaikannya. Mereka yang mampu menyelesaikan ujian di lantai keempat akan menjadi Imam Padepokan Kun-Billah.
Tidak semua pesilat ahli di padepokan Kun Billah bisa menjadi Imam, Wenny misalnya yang memiliki kemampuan kultivasi sebelas lingkaran sebelum kehilangan separuh tenaga dalamnya tidak berhasil menyelesaikan ujian di lantai keempat.
"Sejak lama aku penasaran, ujian di lantai keempat itu seperti apa..." Asrul tersenyum memandangi Pagoda Bertingkat.
Pada kehidupan sebelumnya Asrul baru mulai belajar bela diri pada usia 19 tahun, sampai hari padepokan Kun Billah binasa, dirinya baru mampu menyelesaikan lantai kedua dari Pagoda Bertingkat meskipun memiliki kemampuan kultivasi lima lingkaran saat itu.
Kehadiran Asrul di Pagoda Bertingkat menarik perhatian banyak anggota lain yang sedang mengikuti ujian di sana. Semua yang terjadi di Mallorca terkait Asrul telah menyebar di Padepokan Kun-Billah, bisa dibilang Asrul mengikuti jejak Gus Mukhlas menjadi murid paling cerdas di generasinya.
Imam yang menjaga Pagoda Bertingkat tersenyum ramah ketika Asrul menyerahkan surat rekomendasi yang ditulis oleh Taimiyah.
"Imam, berapa lama aku harus mengantri?" Tanya Asrul.
"Kau tidak perlu mengikuti antrian karena rekomendasi dari Taimiyah, kau bisa mengikuti ujian lantai satu sekarang."
Imam tersebut mengawal Asrul memasuki ruang ujian di lantai pertama. Sikap Imam itu membuat Asrul semakin menarik perhatian, Asrul sendiri tidak mengetahui ini adalah hal yang baik atau buruk.
Ujian di lantai pertama dibagi menjadi dua bagian. Pada bagian pertama, peserta diminta memukul sebuah batu karang besar sekuat tenaga mereka, bekas pukulan yang terdapat di batu yang berbobot hampir satu ton serta seberapa jauh batu tersebut bergeser akan menentukan nilai peserta untuk mengikuti ujian bagian kedua.
Pada bagian kedua, peserta akan berhadapan dengan boneka-boneka kayu yang dikontrol dengan mesin khusus, selama peserta bisa mengalahkan lima boneka kayu maka mereka dinyatakan lulus ujian lantai pertama.
BAM!!
Mata Imam yang membawa Asrul melotot begitu lebar ketika melihat Asrul melepaskan sebuah pukulan yang mengakibatkan batu karang yang menjadi bahan ujian hancur berkeping-keping. Tidak semua pendekar ahli mampu melakukannya, terlebih lagi Asrul tidak menggunakan tenaga dalam untuk melakukannya.
"Imam, aku bisa langsung mengikuti bagian kedua?" Asrul tersenyum canggung, dia hanya melepaskan 70% kekuatannya dan tidak menduga hasilnya akan demikian.
"Apa? Tidak perlu! Dengan kekuatanmu, kau bisa menghancurkan boneka kayu berharga kita menjadi serpihan kayu. Kau sudah bisa dibilang menyelesaikan ujian lantai pertama." Imam tersebut berkata buru-buru, dia tidak ingin boneka kayu yang dibuat dengan susah payah dirusak oleh Asrul.
Asrul mengatakan dia ingin mengikuti ujian lantai kedua, Imam itu menyetujuinya. Melihat kemampuan Asrul, sudah terlihat dia datang bukan hanya untuk menyelesaikan ujian lantai pertama.
Ujian lantai kedua menguji kelincahan serta ketangkasan, peserta ujian harus memasuki formasi perangkap dan bertahan selama sepuluh menit. Dalam periode sepuluh menit tersebut, berbagai senjata rahasia akan menyerang secara acak, peserta boleh menghindar atau menangkis senjata tersebut.
Asrul berdiri tegak di tengah formasi perangkap, dia tidak menggunakan pedang untuk menangkis senjata rahasia yang datang. Asrul hanya melakukan gerakan seperlunya untuk menghindari senjata rahasia yang terlihat bergerak lambat di matanya.
Sepuluh menit segera berlalu, Imam yang mencatat ujiannya hanya bisa menahan nafas. Imam tersebut merasa dia sekalipun tidak bisa melakukan yang Asrul perbuat di hadapannya.
"Apa kau ingin menantang lantai ketiga juga?" Imam itu berpikir dengan kemampuan Asrul, sepertinya dia tidak akan puas hanya menyelesaikan ujian lantai kedua.
"Benar, mohon bantuan Imam."
"Kau tidak ingin istirahat lebih dahulu?"
"Tidak perlu." Asrul menggelengkan kepalanya, menghindari senjata rahasia selama sepuluh menit tidaklah membuatnya merasa kelelahan sedikitpun.
Ketika memasuki lantai ketiga Pagoda Bertingkat, Asrul tidak bisa menahan senyumnya. Dia merasa bernostalgia kembali melihat ruangan yang dulu menjadi tembok tinggi yang tidak berhasil dia lalui.
Pada kehidupan sebelumnya, Asrul mencoba menyelesaikan ujian lantai ketiga sebanyak empat kali namun selalu gagal meskipun pada percobaan keempat dia telah memiliki kemampuan pendekar kelas satu.
Ujian lantai ketiga sebenarnya cukup sederhana, peserta harus menghancurkan sebuah boneka kayu dengan pedang yang disediakan oleh Pagoda Bertingkat. Boneka kayu tersebut serupa dengan boneka yang menguji di lantai satu namun gerakan yang dilakukan boneka kayu ini jauh berbeda, kekuatan boneka kayu tersebut setara dengan pendekar kelas satu yang berada dipuncak, hampir memasuki tingkat pendekar ahli.
Jika peserta mampu bertahan selama lima belas menit menghadapi boneka kayu tersebut mereka juga bisa dinilai lulus namun tidak dengan nilai yang baik. Asrul merasa kegagalannya di kehidupan lalu karena kekurangan tenaga dalam untuk menghadapi boneka kayu tersebut.
Baru di kehidupan inilah Asrul menyadari tenaga dalam bukan sesuatu yang mutlak untuk menentukan kekuatan seorang pendekar, dia yakin dapat menghancurkan boneka kayu di hadapannya tanpa kesulitan meskipun tidak memiliki tenaga dalam.
Asrul bahkan tidak mau repot-repot mengambil pedang yang disediakan pagoda bertingkat, dia menghadapi boneka tersebut menggunakan tangan kosong.
"Boneka inikah yang membuatku putus asa dikehidupan lalu?" Asrul tersenyum pahit sambil menggelengkan kepala memandangi puing-puing boneka kayu yang berhamburan di lantai.
Imam yang mengawasi ujiannya hanya bisa menelan ludah, Asrul menghancurkan boneka kayu tersebut menggunakan tangan kosong, terlebih lagi hanya memerlukan tiga gerakan untuk melakukannya.
Ini bukan pertama kali seseorang menghancurkan boneka kayu sampai seperti itu namun tidak ada yang melakukannya mengandalkan tenaga fisik saja serta tanpa menggunakan senjata.
"Benarkah pemuda ini baru berusia 23 tahun? Darimana Imam Gus Mukhlas menemukan pemuda ini..." Imam tersebut berkali-kali memeriksa data diri Asrul dan memang tertulis beberapa bulan lagi usia Asrul baru genap 24 tahun.
Seingatnya Gus Mukhlas yang dijuluki murid paling jenius padepokan Kun Billah sepanjang masa sekalipun tidak sekuat ini pada usia yang sama dengan Asrul.
"Nak, apa mungkin kau berniat mengikuti ujian di lantai empat untuk menjadi Imam?"