JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Baron Terbunuh


Dari penjelasan Siti Adawiyah , Asrul memahaminya. Alasan pertama kali Siti Adawiyah melihat dirinya sebagai seseorang yang dingin karena aura pembunuh kental yang dia miliki, biarpun Asrul menyembunyikan aura pembunuhnya tetapi orang yang memiliki keahlian tinggi atau insting yang tajam seperti Siti Adawiyah tetap akan merasakan bahwa dirinya berbahaya.


Sekarang penyebab Siti Adawiyah dan para kasim maupun dayang bisa memandang Asrul dari sudut yang baru adalah akibat aura tasawuf miliknya lebih banyak daripada aura pembunuh. Berbeda dengan aura pembunuh yang dapat disembunyikan, aura tasawuf akan terus memancar dari tubuh Asrul.


Aura yang berwarna keemasan tersebut membuatnya terlihat seperti seorang bangsawan, terpelajar serta lebih menarik daripada sebelumnya. Asrul menyadari perubahan yang dimaksud oleh Aura tasawuf adalah ini beberapa waktu lalu, setelah mengetahui dampak aura tasawuf bersifat positif, Asrul tidak ada keraguan lagi untuk berlatih ilmu tersebut.


Asrul melihat raut wajah Siti Adawiyah menjadi lebih cerah dan tubuhnya lebih sehat, ketika dia bertanya alasannya, Siti Adawiyah menjelaskan perubahan tersebut karena ginseng yang dibawa oleh Taimiyah.


"Rasa ginsengnya tidak enak, tetapi Kakek Taimiyah mengatakan aku harus memakannya. Kondisiku memang lebih baik setelah memakannya." Siti Adawiyah tersenyum lebar.


Asrul mengetahui dibalik senyumannya, Siti Adawiyah masih menyimpan kesedihan mendalam akibat Mbah Jena yang masih belum bisa menerima kematian istrinya serta berubah menjadi dingin.


Selama bersama Siti Adawiyah , Asrul melakukan semua yang dia bisa untuk membuat gadis itu tersenyum.


"Apa kalian sadar, Putri Siti Adawiyah menjadi lebih feminim saat bersama pendekar muda tersebut?"


"Benar, Tuan Putri bahkan bersikap lebih dewasa."


Beberapa dayang yang mengikuti keduanya dari jauh mulai berbisik, Asrul yang memiliki pendengaran bagus bisa mendengarkan semuanya.


Baginya Siti Adawiyah masih bersikap layaknya gadis seusianya bahkan sedikit manja, hanya saja dari pembicaraan yang didengar oleh Asrul sepertinya Siti Adawiyah sehari-harinya tidak bersikap seperti di hadapannya.


Asrul menyadari sikap Siti Adawiyah menunjukan bahwa dirinya memiliki tempat khusus di hati gadis ini, namun tetap saja bagi Asrul yang memiliki mental seseorang berusia lebih dari 123 tahun tidak akan bisa memiliki ketertarikan pada Siti Adawiyah .


Selain menemani Siti Adawiyah, Asrul lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Dia sebenarnya bertanya-tanya karena Taimiyah belum mencarinya lagi setelah mendapatkan sumber daya, "Mungkinkah Mbah Jena tidak bisa menarik padepokan-padepokan untuk mendukungnya meskipun memiliki sumber daya yang berharga?"


Asrul menyadari serangan Asosiasi Intelijen Mafia pada padepokan Kun Billah pastinya berdampak besar terhadap posisi Mbah Jena.


Ditengah kebingungannya, pada hari ketiga Gus Mukhlas melakukan latihan tertutup, Asrul mendengar kabar tentang Padepokan Tapak Suci.


padepokan Tapak Suci dipastikan telah binasa ditangan Asosiasi Intelijen Mafia hanya dengan beberapa orang yang berhasil selamat dan menyebarkan kabar tersebut. Yang lebih mengejutkan lagi, Baron tidak gugur di padepokannya melainkan Baron terbunuh dalam perjalanan.


Baron dan sebelas ksatria ahli dari padepokan Kun Billah dibunuh dengan sadis, pada lokasi kejadian ditemukan setangkai bunga menancap di jasad Baron dan lainnya, menunjukan Organisasi Silver Hawk adalah pelakunya.


"Jika Ketua Baron terbunuh artinya Organisasi Silver Hawk memiliki seorang ksatria tangguh yang lebih kuat daripada Ketua Baron? Ini..." Asrul tidak pernah mendengar bahwa Silver Hawk memiliki pembunuh dengan kemampuan seperti ini sebelumnya.


Kejadian ini membuat Asrul lebih waspada dan merasa telah meremehkan organisasi Silver Hawk.


Kematian seorang ksatria sekelas Baron berhasil membuat gempar dunia persilatan, tidak sedikit mereka yang berasal dari aliran putih menjadi murka atas tindakan Asosiasi Intelijen Mafia dan Organisasi Silver Hawk.


Baron memang orang yang dingin, tetapi padepokan Tapak Suci secara keseluruhan memiliki hubungan erat dengan banyak padepokan aliran putih yang lain. Hanya saja menyatukan padepokan-padepokan ini untuk bekerja sama menyerang Asosiasi Intelijen Mafia ataupun Organisasi Silver Hawk tidaklah mudah.


Pada malam harinya, Taimiyah mendatangi ruangan Asrul.


"Asrul, kau pasti sudah mendengar tentang kematian Ketua Baron dan kehancuran padepokannya bukan?" Taimiyah sadar kabar ini terlalu besar untuk bisa ditutupi mengingat Padepokan Tapak Suci seperti padepokan Kun Billah juga merupakan salah satu padepokan yang hampir menjadi Padepokan besar aliran putih.


"Aku sebenarnya tidak memahami alasan Asosiasi Intelijen Mafia bertindak demikian, meskipun mereka jauh lebih kuat dari padepokan seperti padepokan Tapak Suci atau padepokan Kun Billah tetapi harga yang mereka harus bayar untuk melenyapkan padepokan seperti kita tidaklah kecil." Taimiyah menggelengkan kepala pelan.


Sederhananya biarpun padepokan Tapak Suci binasa tetapi kekuatan Asosiasi Intelijen Mafia pastinya mengalami penurunan yang tidak sedikit juga.


"Aku tidak senang mengatakan ini tetapi sebenarnya ada sisi baik dari kejadian ini yang bisa menguntungkan Mbah Jena. Pihak Pangeran Baron pasti tidak menduga kejadian ini akan merugikan posisi mereka."


Tidak ada kegembiraan dalam kata-kata Taimiyah, yang terasa justru kemarahan yang besar. Biarpun tidak bisa dibilang dekat, tetapi Taimiyah dan Baron telah mengenal dalam waktu yang lama. Taimiyah merasa kehilangan ketika mendengar kabar ini dan dia berjanji tidak akan membiarkan kematian Baron menjadi sia-sia.


"Kejadian ini bisa menguntungkan Mbah Jena?" Asrul menaikan alisnya, merasa kebingungan.


Taimiyah menjelaskan kematian Baron membuat gejolak di aliran putih Bukit Siguntang, tidak sedikit orang yang ingin menghabisi Organisasi Silver Hawk maupun Asosiasi Intelijen Mafia setelah kejadian ini. Hanya saja tidak ada orang yang menyatukan mereka semua dan pendekar aliran lurus sekalipun tidak akan mudah bergerak jika tidak ada keuntungan yang mereka dapatkan.


"Asrul selama kau bisa menepati kata-katamu maka ini bisa jadi peluang emas bagi Mbah Jena."


Taimiyah menambahkan selama Mbah Jena memiliki cukup sumber daya, dia bisa menarik padepokan-padepokan kecil maupun menengah dengan alasan menghentikan Asosiasi Intelijen Mafia dan Organisasi Silver Hawk. Sekarang banyak padepokan aliran putih yang memiliki tujuan yang sama, andai mereka mendapatkan sumber daya dari tujuan tersebut pastinya mereka akan mengulurkan tangannya.


"Beberapa hari terakhir Mbah Jena mengumpulkan dana untuk membeli sumber daya darimu." Taimiyah mengeluarkan setumpuk kertas di depan Asrul, "Kertas-kertas ini dinamakan uang kertas, mereka bisa ditukarkan dengan koin emas di bank."


Asrul mengenali uang kertas dihadapannya, bagi mereka yang memiliki harta banyak sekalipun sulit untuk membawa koin emas dalam jumlah besar. Setiap koin emas memiliki berat 10 gram, jika seseorang memiliki kekayaan seratus ribu keping emas saja, itu setara dengan satu ton emas. Tidak mudah membawa beban sebanyak itu kemana-mana karena itu diciptakan uang kertas ini sebagai nilai tukar.