JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Interogasi


Para anggota kelompok Aliran Keras menggunakan kesempatan tersebut untuk kabur, mereka yakin jika tetap tinggal maka nyawa mereka tidak akan tertolong.


Para anggota kelompok Aliran Keras ini bahkan tidak berpikir untuk menggunakan kuda, mereka memilih lari mengandalkan sepasang kaki yang mereka miliki lagipula kuda-kuda mereka sudah terlalu lelah untuk membawa mereka pergi dalam lebatnya hujan ini.


"Asrul, bukankah kau sudah berjanji untuk tidak membunuh mereka semua?" Gus Mukhlas tidak terlihat peduli dengan para anggota kelompok Aliran Keras yang berusaha meninggalkan lokasi tersebut.


Asrul memandang para anggota kelompok Aliran Keras dengan perasaan cemas namun tidak berusaha melepaskan diri dari genggaman Gus Mukhlas.


"Guru pasti mengerti alasan murid melakukan demikian..." Asrul menjawab pelan, "Guru, Jika mereka semua dibiarkan lolos maka penduduk kota ini akan celaka."


Gus Mukhlas mengerutkan dahinya, dia sungguh diterpa dilema karena kejadian ini.


Gus Mukhlas akhirnya membebaskan pergelangan tangan Asrul, seketika itu juga Asrul bergerak cepat menuju salah satu anggota kelompok Aliran Keras yang memiliki kemampuan pesilat kelas satu.


"Sial! Kenapa pemuda setan ini mengincar ku!" jerit pimpinan kelompok Aliran Keras yang kini dikejar Asrul. 


Tanpa kesulitan berarti Asrul berhasil melumpuhkan pimpinan kelompok tersebut dengan beberapa gerakan sederhana. Perbedaan kekuatan dan kecepatan keduanya yang begitu jauh membuat anggota kelompok Aliran Keras tersebut tidak dapat memberikan perlawanan.


"Apa yang kau ing-!" Asrul memberikan satu pukulan di perut, membuat anggota kelompok Aliran Keras itu kehilangan kesadarannya.


Asrul memandang puluhan anggota kelompok Aliran Keras yang berlarian ke berbagai arah kemudian menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala, "Andaikan Guru tidak menghentikan aku, setidaknya aku bisa menghabisi lebih banyak dari mereka...


Gus Mukhlas tersenyum pahit karena dia mengetahui konsekuensi dari tindakannya, andaikan sekarang dirinya dan Asrul mengejar para perampok ini pun pasti hanya mampu menangkap sebagian dari mereka saja.


"Guru, kita bisa mendapatkan informasi dari kelompok Aliran Keras ini, kurasa dia pimpinan dari kelompok Aliran Keras yang datang kali ini." Asrul menyeret anggota kelompok Aliran Keras yang dilumpuhkannya pada Gus Mukhlas.


Gus Mukhlas mengangguk pelan kemudian mengangkut anggota kelompok Aliran Keras tersebut sementara Asrul mengumpulkan pisau-pisau kecil yang dia lempar sebelumnya. Menurut Asrul senjata rahasia ini cukup berguna pada kondisinya sekarang jadi dia ingin menyimpannya.


Ketika keduanya kembali ke kota kecil bersama satu tawanan, sambutan yang didapatkan keduanya tidaklah hangat.


Para warga sama sekali tidak merasa senang dengan semua yang terjadi, mereka berpikir dengan Gus Mukhlas melepaskan para anggota kelompok Aliran Keras yang tersisa maka dalam waktu dekat akan datang rombongan dalam jumlah lebih besar daripada sekarang dan saat itu terjadi belum tentu Gus Mukhlas mampu mengatasinya.


Tidak ada kata terima kasih yang didapatkan oleh Gus Mukhlas maupun Asrul, penduduk setempat hanya memandang mereka dengan tatapan sinis.


Gus Mukhlas menggelengkan kepala pelan sebelum mengajak Asrul menuju penginapan bersama tahanan mereka.


"Asrul, Guru ingin kau mengerti bahwa situasi ini..." Gus Mukhlas khawatir Asrul menjadi kecil hati karena sikap para penduduk kepadanya.


Gus Mukhlas tidak ingin Asrul berpikir bahwa niat baik bisa mendapatkan balasan yang tidak menyenangkan, apalagi Asrul masih sangat muda sehingga pola pikirnya belum matang, setidaknya itu yang Gus Mukhlas pikirkan.


Ketika mencapai penginapan, Gus Mukhlas mengikat anggota kelompok Aliran Keras tersebut di kursi. pesilat kelas satu seperti kelompok Aliran Keras ini sebenarnya tidak akan mengalami kesulitan jika hanya ditahan seperti ini namun Gus Mukhlas tidak memiliki pilihan lain.


"Asrul, Apa yang kau rencanakan terkait pria ini?" Gus Mukhlas merasa Asrul memiliki alasan membiarkan perampok satu ini tetap hidup.


Asrul mengangguk pelan sebelum menjelaskan, sebelumnya warga bilang bahwa kota ini bukan satu-satunya yang mendapatkan teror dari kelompok Aliran Keras. Menurut Asrul cara mengatasi semua masalah yang terjadi adalah mencabut akarnya.


"Penduduk tidak bisa mengandalkan pemerintah karena ada orang-orang yang mendukung kelompok Aliran Keras jadi sebaiknya kita berdua yang melenyapkan organisasi ini. Dengan kemampuan Guru, aku yakin meskipun kita tidak berhasil melenyapkannya, setidaknya akan mengurangi kekuatan mereka secara signifikan." Asrul menjelaskan.


Asrul memang berniat mendapatkan lokasi markas utama dan cabang kelompok Aliran Keras yang ditangkapnya. Asrul menyakini bahwa selain dua orang anggota kelompok Aliran Keras, tidak ada yang mampu menghadapi Gus Mukhlas.


"Asrul, semua tidak sesederhana itu..." Gus Mukhlas menggelengkan kepala pelan.


Kekuatan Kelompok Aliran Keras memang sudah menurun jauh dibandingkan beberapa tahun lalu setelah kehilangan dua Jendral mereka di tangan Mbah Jena dari Bukit Siguntang namun tetap saja mereka bukan kelompok yang bisa dihancurkan oleh Gus Mukhlas dan Asrul.


Jika dibandingkan kekuatan dengan Silver Hawk, bisa dibilang kelompok Aliran Keras berada jauh dibawah karena hanya memiliki sekitar dua sampai tiga puluh orang yang memiliki kemampuan pendekar tingkat ahli.


"Misi utama kita adalah menuju kota Mallorca secepatnya, kita tidak bisa menunda terlalu lama apalagi kita sudah berteduh di kota ini selama beberapa hari." Gus Mukhlas menolak ide Asrul.


"Guru, tidak mungkin kita biarkan mereka bertindak semaunya bukan?" Asrul tidak mau menurut begitu saja.


Gus Mukhlas turut senang melihat Asrul memiliki keinginan menolong orang lain dengan kemampuannya tetapi waktunya memang sungguh tidak tepat. Gus Mukhlas tentu tidak mengetahui, alasan Asrul bersikeras ingin menghabisi atau setidaknya melemahkan kelompok Aliran Keras adalah karena dia merasa bertanggung jawab atas tindak tanduk kelompok tersebut selama ini.


Andai Asrul tidak mengubah masa depan dengan ikut campur urusan Mbah Jena, seharusnya kelompok Aliran Keras sudah tidak ada sekarang.


"Saat di kota Mallorca, Guru akan menceritakan ini pada Mbah Jena. Dengan bantuan Mbah Jena, meskipun kelompok Aliran Keras memiliki orang pemerintahan, mereka tidak akan banyak berkutik." Jawab Gus Mukhlas.


Asrul tersenyum tipis, Mbah Jena bahkan tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri jadi Asrul tidak yakin Mbah Jena memiliki banyak waktu untuk mengurus rakyat seperti ini ketika Imam Besar saja yang memiliki kekuasaan lebih besar tidak mengambil tindakan apa-apa.


"Guru, setidaknya kita harus memastikan para anggota kelompok Aliran Keras ini tidak menyerang kota ini lagi. Kita tidak bisa meninggalkan kota ini begitu saja setelah yang kita lakukan pada kelompok Aliran Keras, pastinya mereka akan menjadi sasaran kemarahan para anggota kelompok Aliran Keras tersebut." Asrul berusaha meyakinkan Gus Mukhlas.


Mata Gus Mukhlas melebar, terkadang dia merasa apakah sedang berkomunikasi bersama Asrul. 


"Kita belum tentu bisa mendapatkan lokasi markas-markas kelompok Aliran Keras, tetapi jika pria ini mau membocorkannya maka kita akan pergi mengurangi jumlah mereka." Gus Mukhlas mengingatkan dia tidak berniat menghabisi kelompok Aliran Keras itu sepenuhnya tetapi mungkin akan membuat mereka bersembunyi selama beberapa waktu.


Asrul mengangguk puas sebelum berjalan ke kursi tempat tahanannya terikat, "Sampai kapan kau ingin pura-pura pingsan? Kau sudah dengar semua, jika ingin nyawamu selamat maka katakan semuanya."