
Aku harus memikirkan cara untuk mengatasi semuanya."
"Ketua. Jadi alasan Yang Mulia bersikap seperti demikian karena Asosiasi Intelijen Mafia dan Markas Mentari Senja?" Gus Mukhlas sekarang lebih mengerti situasi yang terjadi di Mallorca.
Taimiyah membenarkan semua itu, alasan Mbah Jena tidak berani bertindak gegabah karena menyadari gerak geriknya sedang diawasi oleh Asosiasi Intelijen Mafia maupun Markas Mentari Senja. Pangeran Baron sepertinya juga masih memiliki beberapa kelompok pendukung di belakangnya, sejauh ini yang bisa dipastikan adalah Organisasi Silver Hawk dan Kelompok Aliran Keras.
"Kudengar dalam perjalanan kemari kau dan Asrul berurusan dengan mereka. Kau melakukan semua dengan baik terutama urusan yang terkait Kelompok Aliran Keras." Taimiyah memuji Gus Mukhlas, bisa dibilang kabar tentang Gus Mukhlas menjadi angin segar ditengah kacaunya situasi Mallorca.
Tindakan Gus Mukhlas dan Asrul secara tidak langsung berdampak pada situasi perebutan tahta, misalnya saja Keluarga Liu yang sebelumnya memilih tidak terlibat mulai merapatkan diri pada kubu Pangeran Mahkota. Para pendukung Pangeran Baron juga berkurang akibat masalah yang dialami oleh Kelompok Aliran Keras.
"Yang Mulia berpendapat bahwa masalah ini belum selesai justru baru dimulai, kematian istrinya hanya awal, sepertinya akan ada beberapa hal lainnya yang akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan." Taimiyah menceritakan situasi Mbah Jena.
Taimiyah mengatakan Mbah Jena begitu sedih dan terluka ketika mengetahui banyak muridnya terbunuh dengan keji. Mbah Jena mengerti perebutan tahta selalu membawa hasil seperti ini tetapi dia berharap tidak jatuh lebih banyak korban terutama pada keluarga Padepokan.
"Ketua jadi apa yang bisa kita lakukan sekarang?" Gus Mukhlas ingin membantu meringankan suasana.
"Saat ini yang bisa kita lakukan adalah menunggu dan memastikan kondisi kita selalu prima karena tidak diketahui kapan pertarungan besar akan terjadi." Taimiyah tersenyum lembut.
Taimiyah berpikir lebih bijak menunggu hasil diskusi petinggi Padepokan dengan Mbah Jena sebelum mengambil langkah berikutnya. Ketika hari mulai semakin larut, Gus Mukhlas mulai tidak bisa menahan batuknya. Melihat kondisi Gus Mukhlas demikian, Taimiyah hanya bisa menggelengkan kepala pelan dan meninggalkan ruangan tersebut agar Gus Mukhlas bisa beristirahat.
"Asrul, ikut denganku. Sudah lama kita tidak ngobrol. Tidak masalah kan sesekali kau tidur lebih malam?" Taimiyah menarik Asrul bersamanya.
Asrul tidak bisa membantah, meskipun dia sudah jauh lebih kuat daripada beberapa tahun lalu tetapi di mata Taimiyah dia tetap saja pemuda biasa yang kekuatannya tidak beda dengan semut.
Gus Mukhlas hanya bisa tersenyum canggung melihat muridnya dibawa pergi oleh Taimiyah.
Ketika Taimiyah dan Asrul sudah berada cukup jauh dari kamar Gus Mukhlas, Taimiyah tiba-tiba menarik kerah jubah Asrul dan mengangkatnya tinggi.
"Jangan melawan, ikut denganku." Kata Taimiyah dingin.
Asrul jelas kaget, tetapi sebelum dia sempat bereaksi Taimiyah sudah melompat tinggi dan bergerak dengan kecepatan tinggi meninggalkan kediaman Mbah Jena. Dalam waktu singkat, keduanya sudah meninggalkan istana.
Taimiyah tidak berhenti sampai disitu, dia terus bergerak cepat melompati satu atap ke atap lain. Asrul memusatkan perhatiannya untuk mengatur nafas karena angin yang menghempas tubuhnya saat bergerak secepat ini membuat seluruh tubuhnya sakit dan sulit bernafas.
Taimiyah melempar Asrul ke tanah, namun Asrul tidak menjerit atau mengeluh sedikitpun. Tatapan Taimiyah semakin dingin melihat reaksi pemuda dihadapannya.
Asrul sama sekali tidak terkejut dengan perubahan sikap Taimiyah yang begitu drastis. Berbeda dengan Gus Mukhlas, Taimiyah sudah hidup lebih dari 160 tahun sehingga membuatnya lebih curiga dan waspada, Taimiyah tentu mempertanyakan perubahan kultivasi Asrul yang tidak masuk di akal.
"Gus Mukhlas memang berbakat tetapi dia belum banyak melihat dunia, sejak awal aku sudah curiga ketika pemuda seusiamu memiliki kecerdasan yang begitu tinggi, kini kau bisa meningkatkan bakatmu sejauh ini..." Taimiyah berkata dengan dingin.
"Hanya ilmu sesat saja yang mampu membuat seseorang meningkatkan kualitas kultivasi secepat ini bahkan aku tidak yakin ada orang di aliran hitam yang mampu melakukannya sepertimu." Taimiyah menatap Asrul dari atas sampai bawah, "Aku mengetahui bahwa engkau mampu demikian di sebabkan karena kandungan kitab Al Hikam telah menyatu dengan dirimu.”
"Engkau harus menjelaskan apakah engkau memang telah mampu menyatukan Kitab Al-Hikam dalam tubuhmu atau engkau telah mengikuti aliran sesat. Jika kau tidak bisa memberikan penjelasan yang memuaskan, maka jangan salahkan diriku menghabisi kamu di tempat ini." Tatapan Taimiyah membuat tubuh Asrul merinding karena nafsu membunuh yang dilepaskannya.
Asrul menghela nafas panjang, sepertinya tekanan yang dialami Taimiyah beberapa waktu terakhir membuatnya mempunyai ketakutan serta kekhawatiran yang berlebihan.
"Ketua, Aku sendiri tidak mengetahui caranya memberikan penjelasan yang memuaskan untukmu..." Asrul tersenyum pahit.
Taimiyah dan Asrul saling berpandangan dalam diam. Taimiyah mengamati Asrul, berusaha membaca yang Asrul pikirkan tetapi tidak berhasil menemukan apapun.
Sebelumnya, Taimiyah sudah menjadi waspada karena ketika dia memeriksa ternyata tidak ada catatan Asrul pernah meninggalkan Bukit Siguntang namun Taimiyah bertemu dengannya di hutan Punti Kayu. Ini menandakan Asrul mampu masuk keluar padepokannya tanpa ada yang mengetahuinya.
Ketika mendengar dari Gus Mukhlas bahwa Asrul memiliki bakat yang tinggi dan kualitas kultivasinya dapat meningkat dengan cepat, Taimiyah semakin waspada tetapi masih menunggu sampai dia melihat sejauh mana perkembangan yang dimaksud Gus Mukhlas.
"Pertama kali kita bertemu aku telah mengatakan bahwa engkau kembali ke dunia untuk mengembalikan kitab Al Hikam dan sekarang kau menjadi seorang yang berbakat yang hanya bisa muncul dalam seratus tahun sekali. Semua ini hanya kau capai dalam satu atau dua tahun saja..." Taimiyah menunjuk Asrul, "Kau sekarang bukan hanya memiliki pikiran yang jauh lebih dewasa dari orang lain tetapi juga begitu haus darah."
Asrul memang tidak mampu menyembunyikan aura pembunuh yang dia miliki dari Taimiyah, dia hanya bisa tersenyum canggung.
"Ketua sudah mengatakan sendiri, dengan ilmu aliran hitam atau sesat sekalipun akan sulit berkembang secepat yang kulakukan. Ketua mungkin sudah memiliki tebakan sendiri, Bagaimana jika ketua membagikannya denganku?" Asrul berdiri tegak ditemani senyum penuh percaya diri.
Taimiyah mengerutkan alisnya, dia telah melepaskan nafsu membunuh yang kuat dan sungguh berniat menghabisi Asrul andai terbukti pemuda di hadapannya adalah biang masalah. Taimiyah tidak menduga bukan hanya Asrul tidak takut padanya, dia bahkan terlihat sangat tenang.
"Pemuda ini sepertinya menyimpan lebih banyak rahasia daripada perkiraanku." Batin Taimiyah ketika memandang Asrul.
"Ketua, penjelasan apapun yang kuberikan akan sulit untuk memuaskan engkau tetapi satu hal yang bisa kukatakan adalah aku tidak memiliki niat buruk pada guru maupun Bukit Siguntang." Asrul masih berusaha menjelaskan baik-baik.