
Gus Mukhlas juga melakukan latihan tertutup namun hari ini Gus Mukhlas tiba-tiba mendatangi kamar Asrul.
"Asrul, kau sudah berusia 23 tahun. Tubuhmu begitu kuat, kurasa sebaiknya kau mulai berlatih ilmu tenaga dalam." Gus Mukhlas berniat menurunkan ilmu tenaga dalam yang dimilikinya pada Asrul.
Asrul tersenyum canggung sebelum menjelaskan dia merasa masih bisa meningkatkan kualitas kultivasinya dengan sumber daya yang disediakan Mbah Jena untuknya.
"Asrul, memang seorang pendekar mampu meningkatkan kualitas kultivasinya dengan giat berlatih serta menggunakan sumber daya namun kualitas kultivasi mu sudah begitu tinggi, akan butuh waktu puluhan tahun untuk mencapai tingkat berikutnya." Gus Mukhlas menyarankan lebih baik menggunakan waktu untuk mengumpulkan tenaga dalam, kekuatan yang didapat akan jauh lebih bernilai.
"Gus Mukhlas, tidak perlu memaksanya belajar yang tidak dia inginkan." Taimiyah mendadak memasuki ruangan.
"Ketua..." Gus Mukhlas bangkit memberi hormatnya, Asrul mengikuti.
Gus Mukhlas tersenyum tipis, dia merasa akhir-akhir ini Taimiyah dan muridnya menjadi sangat dekat sampai dirinya khawatir Taimiyah akan memanjakannya. Tidak sekali dua kali Gus Mukhlas mendengar Taimiyah memuji Asrul di depan Mbah Jena dan lainnya, jelas sekali terlihat ketua padepokannya tersebut memiliki perhatian khusus pada muridnya.
"Saat semua urusan di Mallorca selesai dan kita kembali ke Bukit Siguntang, Asrul akan memasuki Pagoda Bertingkat. Setelah dia berhasil menyelesaikan lantai keempat maka aku akan menurunkan ilmu pedang dan ilmu tenaga dalam terkuat padepokan kita padanya. Tidak perlu khawatir dirinya akan tertinggal dari pemuda seusianya." Taimiyah menepuk pundak Gus Mukhlas.
Gus Mukhlas jelas terkejut mendengarnya, Taimiyah sudah menurunkan ilmu pedang terbaik padepokan padanya tetapi tidak dengan ilmu tenaga dalam. Jika Asrul mendapatkan keduanya, bisa dibilang Taimiyah sudah menentukan Asrul dalam garis penerus ketua padepokan. Dengan kemampuan Asrul sekarang, Gus Mukhlas yakin muridnya mampu menyelesaikan lantai keempat Pagoda Bertingkat dalam beberapa bulan lagi.
"Terima kasih Ketua..." Gus Mukhlas merasa bahagia sekaligus bangga.
"Gus Mukhlas, harusnya aku yang berterima kasih karena membawa Asrul ke padepokan kita." Taimiyah tertawa lantang.
Asrul hanya bisa tersenyum canggung mendengarkan percakapan Taimiyah dan Gus Mukhlas, tetapi hatinya terasa hangat karena situasinya jauh lebih baik daripada yang dia bayangkan. Asrul berharap semua tetap bisa berjalan baik dan dia ingin mempertahankan ketenangan seperti ini.
"Asrul, apakah kau sudah tidur?"
Asrul sedang duduk bersila dan menyerap khasiat Ginseng saat mendengar ketukan pintu yang disusul suara lembut Siti Adawiyah. Asrul mengatur nafasnya sebelum bangkit untuk membukakan pintu bagi Putri tersebut.
"Tuan Putri, ada apa mencari aku selarut ini?"
Hari sudah hampir tengah malam, sebagian besar orang sudah tidur sekarang. Siti Adawiyah sedang memakai gaun malamnya tanpa ditemani oleh dayang-dayang yang biasa mengikutinya.
"Aku tidak bisa tidur, perasaanku tidak nyaman. Bisakah kau menemaniku malam ini Asrul?"
Asrul menggaruk kepalanya, dia berusaha mencari alasan untuk menolak permintaan tersebut tetapi tatapan memelas Siti Adawiyah membuatnya menghela nafas sebelum menuruti keinginan gadis itu.
"Tunggu sebentar, aku akan menganti pakaianku." Asrul menutup pintu kamarnya, beberapa saat kemudian dia telah mengganti pakaiannya. Siti Adawiyah menaikkan alisnya ketika menyadari Asrul membawa pedang di pinggangnya.
"Asrul kita hanya berjalan di kediaman ini, tidak perlu membawa senjata kan?"
"Hanya untuk berjaga-jaga." Jawab Asrul sambil tersenyum.
Suasana kediaman Mbah Jena sudah sepi pada waktu seperti ini, selain beberapa dayang dan kasim, hanya ada beberapa penjaga yang berpatroli sementara sebagian besar orang telah tidur nyenyak.
Para pendekar yang berdiam di tempat inipun kebanyakan telah memasuki kamar mereka untuk beristirahat.
Memang benar, menurut perkiraan Asrul, kekuatan penuh pukulan Siti Adawiyah bisa membunuh pendekar kelas satu dalam sekali pukul. Pendekar ahli sekalipun akan mengalami luka yang tidak ringan jika pukulan Siti Adawiyah mendarat di tubuh mereka.
"Aku harus berlatih siang malam menggunakan salah satu Kitab Tanpa Tanding untuk mencapai kekuatanku sekarang tetapi dibandingkan Tuan Putri, aku masih kalah." Batin Asrul sambil menggelengkan kepalanya.
Siti Adawiyah menjadi lebih diam setelah melihat reaksi Asrul, keduanya berjalan menyusuri taman sambil melihat langit yang penuh bintang serta bulan purnama yang bersinar terang.
"Malam ini langit begitu indah ya?" Siti Adawiyah tertawa kecil sambil tersenyum manis.
Asrul mengangguk pelan, dia setuju karena tidak mudah menemukan pemandangan langit malam seindah hari ini.
"Asrul, kudengar kau tidak akan bisa seterusnya berada di sini." Terdengar sedikit rasa kesepian dalam kata-kata Siti Adawiyah.
"Benar Tuan Putri, saat tugas kami selesai sudah seharusnya aku kembali ke padepokan Kun Billah."
"Asrul, Apakah mungkin kau membawaku bersamamu kembali ke Kun Billah?"
Asrul terbatuk pelan karena tersedak ludahnya sendiri, dia tidak menduga Siti Adawiyah akan bertanya demikian.
"Kenapa Tuan Putri? Bukankah tinggal di Istana menyenangkan?"
Siti Adawiyah menggelengkan kepalanya, "Asrul, aku tertarik mempelajari ilmu bela diri namun Ayahku tidak mengizinkanku berlatih sesuai keinginanku. Hanya saja akhir-akhir ini dengan bantuan Kakek Taimiyah, aku diperbolehkan belajar sedikit bela diri."
Alasan Siti Adawiyah tidak diizinkan mempelajari bela diri tentu karena kondisi tubuhnya, setelah mendapatkan Ginseng yang memperkuat organ tubuhnya, Siti Adawiyah kini bisa lebih mengendalikan kekuatannya yang luar biasa tersebut sehingga memungkinkannya mempelajari bela diri.
"Kehidupanku ini tidak ada bedanya dengan burung dalam sangkar, aku tidak bisa meninggalkan istana..." Siti Adawiyah terdengar pilu.
Asrul kembali terbatuk-batuk, seingatnya Siti Adawiyah baru berusia 22 tahun jadi sudah sewajarnya dia tidak meninggalkan istana tanpa alasan yang jelas apalagi situasi sedang tidak aman. Mengatakan dirinya seperti burung dalam sangkar terasa begitu berlebihan tetapi Asrul tidak membantahnya.
Siti Adawiyah terus berbicara sambil membujuk Asrul mengajaknya ke Kun Billah sementara Asrul mendengarkannya sambil tersenyum.
Keduanya terus berjalan di taman, hawa dingin malam hari seolah tidak mengganggu keduanya.
Beberapa saat kemudian saat Siti Adawiyah masih asik berbicara, raut wajah Asrul berubah dan dia langsung meletakkan tangannya pada pedang di pinggangnya.
"Asrul, ada apa..." Siti Adawiyah kaget karena tindakan tersebut tetapi belum selesai dia bertanya, Asrul meletakan jarinya pada bibir Siti Adawiyah, memintanya untuk tidak bersuara.
"Kenapa tiba-tiba ada bau darah? Perasaanku menjadi tidak enak." Indra-indra Asrul beberapa kali lipat lebih sensitif dibandingkan manusia pada umumnya, jadi dia bisa mencium bau amis meskipun jaraknya cukup jauh.
Jantung Asrul berdetak cepat, dia menarik tangan Siti Adawiyah untuk membawanya ke tempat yang lebih aman.
Asrul cukup yakin mampu melindungi dirinya sendiri tetapi dia tidak mengetahui jumlah dan kekuatan musuh, bertarung sambil berusaha melindungi Siti Adawiyah tidak akan mudah.