
Asrul menggaruk kepalanya sambil mengeluarkan beberapa botol air yang dimilikinya, dia tidak ingin kakek yang baru mereka selamatkan akan tewas karena tersedak makanan.
Setelah menghabiskan semua perbekalan Asrul dan Gus Mukhlas, Kakek itu baru menghela nafas lega, "Terima kasih, kalian berdua sungguh menyelamatkanku..."
"Eh! Dimana barang-barangku?" Ekspresi wajah Kakek itu menjadi sedikit pucat, ketika menyadari dia tidak membawa apa-apa bersamanya.
"Oh, kami hanya melihat sesuatu seperti tongkat di sana...." Gus Mukhlas menunjuk tempat kakek itu terbaring sebelumnya, "Biar muridku mengambilkan untukmu..."
Kakek itu tidak menjawab melainkan bangkit dari tempat duduknya dan berlari cepat mengambil bungkusan benda panjang tersebut.
"Oh kupikir aku akan kehilanganmu!" Kakek itu menciumi bungkusan panjang tersebut.
Raut wajah Gus Mukhlas dan Asrul berubah, ketika Kakek itu bangkit dan mengambil barangnya kembali, keduanya bisa melihat dari cara kakek tersebut bergerak bahwa kakek itu adalah seorang pesilat. Keduanya yakin kemampuan kakek itu juga tidaklah rendah.
"Ah sial!" Kakek itu kemudian menyadari bungkusan yang berisi barang-barang berharga seperti uang dan lainnya tidak lagi terlihat. Sepertinya Gus Mukhlas dan Asrul bukan orang pertama yang menemukannya dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Gus Mukhlas dan Asrul hanya bisa memandangi Kakek itu mengumpat pada langit tentang orang yang mencuri barang-barangnya. Kakek itu baru berhenti mengumpat ketika menyadari dirinya sedang dilihat oleh dua orang penolongnya.
"Maafkan aku... Aih, dimana letak sopan santunku. Namaku Airish, bisa kutahu nama kalian berdua?" Kakek itu batuk pelan sebelum mengenalkan dirinya.
"Tidak perlu sungkan kakek, Namaku Gus Mukhlas dan ini muridku, Asrul." Gus Mukhlas ikut mengenalkan dirinya.
"saya memberi hormat." Asrul menunjukkan salamnya.
Gus Mukhlas kemudian menanyakan kejadian apa yang telah menimpa Airish sampai berakhir dalam situasi dirinya ditemukan. Airish tersenyum canggung dan hanya menjawab dia terlalu malu menceritakan semua yang terjadi sehingga Gus Mukhlas tidak bertanya lebih jauh.
"Aku ingin membalas kebaikan kalian berdua, sayangnya semua barang ku yang lain telah dicuri oleh orang lain. Aku juga tidak bisa menyerahkan hartaku yang tersisa..." Airish memandang sambil mengelus bungkusan panjang di tangannya.
"Kakek tidak perlu memikirkannya. Kami menolong bukan demi mengharapkan sesuatu." Gus Mukhlas menggelengkan kepala pelan.
Menyadari Airish telah kehilangan seluruh uang perjalanannya, Gus Mukhlas memberikannya beberapa keping emas yang cukup untuk biaya perjalanan beberapa waktu.
"Aku tidak bisa menerima semua ini begitu saja..." Airish menggelengkan kepala kemudian memandangi Asrul, "Kalian berdua sepertinya pesilat, sayangnya senjata yang kalian dan diriku dalami berbeda tetapi ada satu dua jurus yang mungkin bisa berguna bagi kalian."
Airish memiliki mata yang tajam, dalam sekali pandangannya dia bisa melihat Asrul memiliki kualitas kultivasi yang bagus meskipun belum memiliki tenaga dalam.
"Kakek, terima kasih atas niat baik anda tetapi aku dan muridku memiliki warisan dari padepokan kami sendiri untuk dipelajari. Mempelajari ilmu luar seperti ini..." Gus Mukhlas menyadari kemampuan Airish sepertinya tinggi tetapi tidak baik mempelajari ilmu bela diri sembarangan terutama dari orang yang baru dikenal.
Gus Mukhlas hanya beralasan keduanya sedang terburu-buru ke kota Mallorca dan tidak bisa bersama Airish untuk waktu yang lama, mempelajari bela diri tentu tidak bisa dilakukan dalam satu atau dua malam.
"Kebetulan aku juga sedang dalam perjalanan menuju kota Mallorca, jika kalian tidak ingin mempelajari ilmu dariku tentu aku tidak akan memaksakannya. Mungkin jika kita berkelana bersama, akan datang kesempatan diriku membayar budi kalian." Airish membujuk.
"Baiklah kakek, Jika anda sudah dapat bergerak dengan leluasa mari kita lanjutkan perjalanan. Jika kita berjalan cukup cepat, kita bisa menemukan penginapan untuk beristirahat dan mengisi ulang perbekalan." Gus Mukhlas menjelaskan.
Makanan dan minuman yang menjadi bekal Gus Mukhlas serta Asrul telah dihabiskan oleh Airish sehingga mereka perlu singgah untuk membeli lebih banyak perbekalan.
Airish batuk pelan sebelum mengangguk setuju, ketiganya kemudian bersama-sama melanjutkan perjalanan.
Seperti yang Gus Mukhlas dan Asrul duga, Airish memang memiliki keahlian bela diri yang tinggi, ilmu meringankan tubuhnya sangat ahli dan tanpa kesulitan bisa mengimbangi kecepatan Gus Mukhlas maupun Asrul yang bergerak dengan kecepatan tertingginya.
Dengan kecepatan tinggi, ketiganya bergerak menuju kota Mallorca.
"Dua pria ini masih begitu muda tetapi keahlian bela diri mereka sungguh mengejutkan..."
Sepanjang perjalanan, Airish mengamati gerakan Gus Mukhlas maupun Asrul. Airish bisa melihat Gus Mukhlas belum berusia 30 tahun namun memiliki kemampuan bela diri yang sangat tinggi, di padepokan asal Airish sekalipun tidak mudah menemukan sosok seperti Gus Mukhlas.
"Sayangnya pemuda ini memiliki luka dalam yang serius, tidak mudah mengobati kondisinya dan jika terus dibiarkan masa depannya akan sangat terbatas.." Airish bisa menyadari kondisi Gus Mukhlas hanya dari melihat gerakannya.
Airish sebenarnya lebih tertarik pada Asrul, pemuda yang terlihat seperti pemuda berusia 23 tahun ini disadarinya lebih muda dari yang terlihat.
"Asrul, berapa usiamu sekarang?" tanya Airish.
"Usiaku 23 tahun kakek..." Jawab Asrul sambil mengatur nafasnya.
Sulit bagi Airish menyembunyikan keterkejutannya mendengarkan jawaban tersebut. Airish bisa melihat Asrul belum mulai melatih ilmu tenaga dalam namun kualitas kultivasinya sangat bagus serta memiliki kekuatan fisik yang besar.
Airish hanya bisa berdecak kagum, dia sudah berkelana di dunia persilatan begitu lama dan memiliki banyak pengalaman namun ini pertama kali dirinya menemukan bakat seperti Asrul.
"Satu kekurangannya, kenapa pemuda ini memiliki aura pembunuh yang kuat?" batin Airish.
Biarpun Asrul memiliki cara untuk menyembunyikan aura pembunuhnya tetapi tidak akan bisa menutupi sepenuhnya dari mata orang seperti Airish. Andai bukan karena mengamati lebih jauh, Airish sudah menganggap Asrul adalah siluman tua yang berhasil menemukan cara menjelma menjadi manusia.
"Anak ini jelas manusia tetapi dia memiliki jiwa yang jauh lebih dewasa, tatapan matanya juga seperti orang yang telah melewati begitu banyak cobaan hidup..." Semakin Airish mengamati Asrul, semakin bingung dirinya.
Asrul tentu menyadari Airish mengamati dirinya namun memilih pura-pura tidak menyadari untuk menghindari masalah yang besar. Asrul masih belum mengetahui identitas asli dari Airish, sebab itu dirinya maupun Gus Mukhlas terus waspada. Hanya saja keduanya bisa melihat sepertinya Airish bukan seseorang yang berasal dari aliran sesat.
Ketiganya menemukan sebuah kafe yang dibangun untuk persinggahan para musafir dan pedagang setelah menempuh perjalanan beberapa waktu.
"Kakek, mari kita singgah di sana untuk membeli perbekalan sekaligus makan siang." Ajak Gus Mukhlas.
Airish tidak menolak, ketiganya akhirnya singgah ke kafe tersebut.