JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Tanda Darurat


"Saudari Seruni, sepertinya kita berdua harus turun tangan..." Albert memandang Seruni.


Seruni sedikit cemberut tetapi dia tidak punya pilihan, untuk memastikan Albert mampu membunuh Taimiyah maka dia harus membantunya, "Ten-..."


Kata-kata Seruni terhenti saat menyadari ada satu cahaya keperakan melesat dengan cepat ke langit dari lokasi yang cukup jauh dari mereka. Ketika cahaya keperakan kecil itu mencapai tempat yang tinggi, suara ledakan yang keras terdengar ditambah dengan cahaya terang keperakan memenuhi langit malam selama beberapa saat.


"Kembang api? Siapa yang..." Albert terpana melihat kemunculan kembang api yang tiba-tiba tersebut, terlebih lagi dia tidak pernah melihat kembang api seterang itu.


"Gawat! Itu bukan kembang api biasa!" Seruni yang pertama menyadari kejanggalan kembang api tersebut, "Cahaya kembang api itu begitu terang, tidak hanya di Istana tetapi semua orang di kota Mallorca bisa melihatnya."


Albert juga menyadari betapa serius kembang api tersebut setelah Seruni berkata demikian.


"Jika demikian kita harus cepat menghabisi Mbah Jena dan pergi dari sini, kemungkinan salah satu dari tiga kelompok terkuat aliran putih akan datang setelah melihat kembang api tersebut." Ujar Albert.


Biarpun tidak mengenali kembang api tersebut, Albert dan Seruni berpikiran serupa. Keduanya merasa kemungkinan itu adalah cara untuk meminta bantuan, hanya saja mereka heran karena kembang api tersebut tidak berasal dari tempat Mbah Jena berada.


Albert sempat berpikir kembang api ini digunakan untuk menakuti mereka, andaikan memang untuk memanggil bantuan maka itu merupakan benda berharga yang seharusnya berada di tangan Mbah Jena. Hanya saja Albert tidak berniat mengambil resiko, dia bersama Seruni segera bergerak menuju ke tempat Mbah Jena dan Taimiyah berada.


"Mbah Jena tidak perlu khawatir, kami akan melindungi anda dengan baik." Taimiyah berusaha menenangkan Mbah Jena yang sekarang sedang mengkhawatirkan Siti Adawiyah.


"Ketua Taimiyah, Aku mengkhawatiran keadaan Siti Adawiyah..." tubuh Mbah Jena bergetar karena takut sesuatu terjadi pada Siti Adawiyah.


"Aku sudah menyuruh dua Imam untuk menjemput Putri Siti Adawiyah. Mereka akan kembali dalam waktu dekat."


Biarpun Taimiyah memasang wajah tenang dan tersenyum lembut sebenarnya dia juga merasa khawatir. Taimiyah tidak menduga ada kelompok yang bernyali begitu besar menyerang istana, dari jumlah penyerang yang datang dirinya yakin sasaran mereka bukan hanya kediaman Mbah Jena melainkan istana secara keseluruhan, bahkan ada kemungkinan kota Mallorca sedang dalam bahaya saat ini.


Taimiyah sedang melakukan latihan tenaga dalam waktu dia merasa ada nafsu membunuh dalam jumlah besar menyusup ke dalam kediaman Mbah Jena. Menyadari jumlah musuh begitu banyak, Taimiyah memikirkan keamanan Mbah Jena dan keluarganya lebih dahulu, dia memanggil lima Imam untuk ikut bersamanya menuju tempat Mbah Jena beristirahat.


Setiap Imam dari padepokan Kun Billah merupakan pendekar bergelar jadi kemampuan mereka seharusnya cukup memberikan perlindungan pada Mbah Jena dan keluarganya. Tidak disangka Siti Adawiyah tidak ada di kamarnya, jadi Taimiyah mengirim dua Imam untuk mencarinya.


"Ketua, Izinkan aku untuk mencari Asrul."


Gus Mukhlas adalah salah satu Imam yang berada di dekat kediaman Taimiyah serta Mbah Jena, dia menawarkan diri menjadi salah satu dari dua orang Imam yang pergi mencari Siti Adawiyah namun Taimiyah melarangnya.


Beberapa waktu sebelumnya terdengar suara keras yang mengabarkan semua orang adanya penyusup di kediaman ini, Gus Mukhlas mengenalinya sebagai suara Asrul. Hal tersebut membuat Gus Mukhlas khawatir.


"Asrul, Aku mungkin perlu meninggalkan sisi Mbah Jena nantinya, kau harus tetap berada disini memastikan keamanannya."


Diantara semua Imam yang datang ke Mallorca, Gus Mukhlas memiliki keahlian paling tinggi. Setelah menyembuhkan luka dalamnya secara sempurna, Gus Mukhlas menjadi jauh lebih kuat. Saat ini dalam dunia persilatan kota Mallorca, pendekar bergelar yang mampu menandingi Gus Mukhlas satu lawan satu dapat dihitung dengan jari.


"Ketua Taimiyah, Aku tidak masalah Saudara Gus Mukhlas mencari Asrul. Dia bisa mencari Siti Adawiyah juga, mungkin mereka berdua bersama..." Selesai Mbah Jena berkata demikian, pintu ruangan mereka terbuka. Siti Adawiyah memasuki ruangan dengan wajah yang pucat.


"Siti Adawiyah!"


"Kakek! Cepat tolong Asrul! Dia... Dia..." Siti Adawiyah berlari sekuat tenaga kemari, nafasnya sedikit tidak teratur tetapi semua karena kepanikan yang dialaminya bukan kelelahan berlari.


Siti Adawiyah menceritakan Asrul sedang dikepung oleh pembunuh bertopeng, dia membiarkan Siti Adawiyah lolos tetapi sekarang Asrul dalam bahaya.


DUAR!


Sebelum Taimiyah, Gus Mukhlas dan lainnya sempat menanggapi cerita Siti Adawiyah, langit malam diatas mereka berubah menjadi keperakan selama beberapa saat setelah terdengar suara keras. Pemandangan tersebut berhasil membuat mereka semua terpana karena ini pertama kalinya melihat kembang api yang berwarna perak.


"Ketua, Asrul dalam bahaya, kita harus menolongnya!" desak Gus Mukhlas yang terdengar cemas.


Gus Mukhlas mengetahui muridnya memiliki bakat luar biasa, meskipun baru berusia 23 tahun dan tidak memiliki tenaga dalam namun mampu menghabisi pendekar kelas satu semudah membalikkan telapak tangan bahkan mampu mengimbangi pendekar ahli, hanya saja Asrul tidak akan sanggup menghadapi begitu banyak pembunuh sekaligus.


"Kau tunggu disini, aku akan menjemputnya kemari." Taimiyah merasa akan lebih cepat jika dia yang pergi menolong Asrul, mendengar kisah Siti Adawiyah menunjukan Asrul sungguh dalam krisis.


Belum lagi kembang api berwarna perak begitu misterius, Taimiyah ataupun orang lain yang berada di ruangan ini tidak mengetahui peristiwa tersebut merupakan petanda bagus atau buruk.


Saat Taimiyah meninggalkan ruangan, beberapa sosok mendadak mendarat di halaman. Tiga orang pembunuh bertopeng darah berkata sambil tertawa.


"Tarik pedangmu sebelum terlambat, tetapi sepertinya anda tidak membawa pedang." Kata pembunuh topeng darah yang lain.


"Hanya kalian bertiga? Tidak perlu menggunakan pedang untuk menghabisi kalian." Taimiyah tersenyum lebar.


Ketiga pembunuh topeng darah tidak marah, mereka sadar yang dikatakan oleh Taimiyah adalah kenyataan.


Taimiyah mengangkat jari telunjuknya, "Satu jari ini cukup untuk membunuh kalian semua, jika punya nyali silahkan maju." Pada waktu hampir bersamaan dengan selesai berucap, tubuh Taimiyah melepaskan tekanan yang dasyat.


Ketiga pembunuh topeng darah merasakan sebuah gelombang menghantam tubuh mereka dan membuat ketiganya terdorong mundur beberapa langkah. Ketiganya menahan nafas setelah merasakan sedikit kekuatan Taimiyah.


"Baron dari padepokan Tapak Suci pun tidak memiliki kemampuan seperti ini..."


Ketiga pembunuh topeng darah terlibat dalam pertarungan yang menyebabkan Baron terbunuh sehingga Taimiyah bukan Pendekar Raja pertama yang mereka hadapi namun perbedaan antara Taimiyah dan Baron ternyata cukup jauh.