
Asrul tidak memahami bagian aura tasawuf terlihat berbeda karena tidak dijelaskan secara rinci, tetapi dalam pertarungan aura tasawuf dapat membuat tubuh lawan terasa lebih berat serta membuat mereka kesulitan bernafas. Jika aura tasawuf Asrul cukup kuat untuk menghancurkan pikirkan lawannya maka siapapun yang berada dalam jangkauan aura tasawuf akan kehilangan kesadaran.
"Andai aku menguasai Aura tasawuf mungkin diriku tidak akan gugur di Bukit Siguntang..." Asrul menggelengkan kepala pelan, merasa dia tidak perlu menyesali yang telah terjadi di kehidupan sebelumnya tetapi memusatkan perhatiannya demi memastikan penyesalannya tidak berulang.
Asrul yakin selama dia memiliki aura tasawuf yang cukup kuat, dia tidak perlu khawatir lagi dirinya akan dikepung oleh puluhan bahkan ratusan pendekar yang lebih lemah daripada dirinya.
"Menurut ilmu Aura tasawuf, aura pembunuh sebenarnya adalah bentuk energi yang belum bisa dikendalikan oleh manusia dengan cara biasa. Mengubah aura pembunuh menjadi aura tasawuf tidak jauh berbeda dengan teknik mengumpulkan tenaga dalam melalui pernafasan..." Asrul mulai mengikuti tahapan-tahapan yang tertulis dalam Kitab Al Hikam.
Aura pembunuh yang pekat mulai keluar dari tubuh Asrul, siapapun yang dalam jarak sepuluh meter darinya pasti akan merasa tidak nyaman.
Beberapa jam berlalu, aura pembunuh yang biasanya berwarna merah kehitaman sebagian kecilnya berubah menjadi warna keemasan. Asrul berhasil mengubah sedikit aura pembunuhnya menjadi aura tasawuf dalam beberapa jam.
"Lebih cepat dari kupikirkan atau memang Aura tasawuf merupakan ilmu pikiran tingkat tinggi..." Asrul ingin memeriksa pantulan dirinya setelah berhasil memiliki sedikit aura tasawuf tetapi tidak ada cermin di kamarnya.
Asrul ingin mengetahui perubahan apa yang terjadi padanya karena memiliki aura tasawuf sebelum melanjutkan lebih jauh.
"Aku akan memeriksanya besok pagi, jika tidak ada cermin, aku bisa menggunakan kolam air yang ada di halaman."
Asrul tidak ingin bertindak gegabah, dia sudah melihat Lucifer yang menguasai ilmu pikiran tingkat tinggi mendapatkan efek samping dari mempelajari ilmu tersebut yaitu matanya berubah menjadi merah darah ketika menggunakan kemampuannya.
Asrul yakin ada efek samping lain yang dialami Lucifer tetapi dia tidak mengetahui pastinya, beberapa pendekar penguasa ilmu pikiran yang pernah dirinya temui di kehidupan sebelumnya juga mengalami efek samping dari mempelajari ilmu pikiran.
Pengetahuan tersebut yang membuat Asrul ragu mempelajari Aura tasawuf pada kehidupan sebelumnya namun kali ini Asrul berpikir selama efek sampingnya tidak terlalu buruk maka dia akan terus mendalaminya.
Dalam bagian Aura tasawuf tertulis dengan jelas bahwa seseorang yang mendalami ilmu ini akan terlihat berbeda dari sebelumnya. Asrul hanya berharap mempelajari ilmu ini tidak membuatnya menjadi bersisik atau tumbuh tanduk di kepalanya.
"Jika diingat kembali, pada kehidupan sebelumnya aku pernah bertemu beberapa pendekar yang terkena efek samping akibat menggunakan permata siluman untuk meningkatkan tenaga dalam mereka secara berlebihan. Fisik mereka berubah menjadi menyerupai hewan, jadi bukan tidak mungkin mempelajari sebuah ilmu membuat tubuhmu bersisik dan lain sebagainya..." Asrul menghela nafas panjang.
Asrul yang memilih tidak melanjutkan mendalami ilmu Aura tasawuf untuk kembali mendalami ilmu Pembentukan kultivasi. Asrul berlatih pernafasan sampai matahari terbit.
Sebelumnya Asrul berpikir Mbah Jena akan mengundang dia dan Gus Mukhlas untuk makan malam, nyatanya tidak ada panggilan tersebut bahkan makan malam juga tidak disediakan untuknya. Pada pagi harinya, Asrul baru menyadari telah terjadi sesuatu yang besar sejak semalam.
Ketika Mbah Jena mendengar Gus Mukhlas dan Asrul telah tiba di kediamannya, Mbah Jena begitu gembira dan memerintahkan agar menyiapkan jamuan makan malam yang meriah untuk kedua tamu yang telah lama dia tunggu kedatangannya.
Semua rasa gembira tersebut menguap waktu seorang pelayan datang ke ruangan Mbah Jena tidak lama setelahnya.
"Mbah Jena! Mbah Jena! Gawat!" seorang pelayan tua berlutut di depan Mbah Jena dengan wajah pucat.
Berbicara yang jelas, jangan terburu-buru. Siti Adawiyah yang sedang duduk di ruangan yang sama menenangkan pelayan tua tersebut.
Pelayan Aming menyampaikan bahwa di depan gerbang istana sedang berkumpul banyak orang yang sedang mencari Mbah Jena.
"Biarkan mereka kemari, engkau jangan begitu cemas melihat kedatangan mereka." Siti Adawiyah tidak khawatir dengan kedatangan orang-orang tersebut.
Mbah Jena bisa mengirim para ksatria serta prajurit untuk menghadapi mereka.
Beberapa jam yang lalu, andaikan telah di ketahui kedatangan mereka, walaupun yang tidak terduga sekalipun seharusnya mereka memberi kabar tentang situasi di sekitar kerajaan.
Siti Adawiyah menyampaikan hal ini kepada kakeknya. "Kakek, lakukan sesuatu. Sepertinya mereka sudah mengetahui kedatangan Gus Mukhlas dan Asrul."
"Tentu saja sayang, aku tidak akan membiarkan apapun terjadi pada mereka." Mbah Jena berusaha menenangkan Siti Adawiyah sebelum memandang pelayan tua, "Di mana Imam Ahmad? Aku minta bantuan pada Imam Ahmad untuk menghadapi mereka."
Pelayan tua menjelaskan Imam Ahmad baru saja mendapatkan panggilan dari kota Mallorca dan telah meninggalkan kediaman Mbah Jena. Imam Ahmad yang dimaksud oleh Mbah Jena adalah salah satu Imam dari empat padepokan yang diundang kota Mallorca untuk mendukung Mbah Jena, setelah dua padepokan mengundurkan diri hanya Ahmad inilah yang memberikan perlindungan pada Mbah Jena.
"Imam Ahmad sudah dikabari tentang hal ini, dia sudah mengirim beberapa ksatria ahli dari padepokannya untuk menghadapi mereka. kota Mallorca juga mengirim beberapa ksatria ahlinya untuk membantu." Pelayan tua menjelaskan.
Mbah Jena mengangguk pelan, jika memang dua padepokan yang mendukungnya telah mengirim anggota mereka untuk membantu maka yang bisa dia lakukan sekarang hanya menunggu hasilnya.
Siti Adawiyah tidak merasa lebih baik meskipun para ksatria sudah pergi untuk membantu. Mbah Jena memeluk cucunya dengan erat, berusaha menenangkannya.
Mbah Jena sampai melupakan kedatangan Gus Mukhlas dan Asrul, dia tidak berpikir untuk makan malam karena tidak memiliki nafsu makan.
Siti Adawiyah juga demikian. "kakek, Apa yang terjadi?"
Lalu Mbah Jena menjelaskan bahwa para petinggi berbagai perguruan beladiri telah mengetahui tujuan Gus Mukhlas dan Asrul ke kota Mallorca.
Sekitar satu jam kemudian Siti Adawiyah memasuki ruangan Mbah Jena, dia kebingungan karena Gus Mukhlas dan Asrul tidak hadir di meja makan. Ketika Siti Adawiyah menanyakan alasan pada para pelayan serta bik emban, tidak satupun dari mereka bisa menjawab.
Siti Adawiyah menjadi kebingungan saat menyadari Mbah Jena terlihat cemas dan tidak sehat. Mbah Jena tidak memberi penjelasan apapun, dia memanggil Siti Adawiyah agar mendekat kemudian memeluk cucunya dengan erat.
Siti Adawiyah berusaha sekuat tenaga agar tidak meneteskan air mata tetapi tetap saja dia mulai menangis karena sudah begitu lama belum ada kabar.