
Melihat reaksi dua perwakilan lainnya membuat Sakino tidak berkata apa-apa. Mbah Jena juga menawarkan memberikan sumber daya dengan dananya sendiri namun sebagai gantinya ketiga kelompok mendukungnya untuk menghentikan Asosiasi Intelijen Mafia yang mendukung Bruno.
Tawaran ini langsung ditolak oleh Sakino, disusul oleh Sobirin dan Sa'diyah. Tujuan ketiganya datang demi sumber daya bukan memulai perang dengan Asosiasi Intelijen Mafia.
Mbah Jena hanya bisa tersenyum tipis terhadap penolakan tersebut, setidaknya dia tetap berhasil membangun hubungan dengan ketiga kelompok aliran putih terkuat.
Meskipun ketiga kelompok ini tidak akan menyerang Bruno dan Asosiasi Intelijen Mafia tetapi mereka akan melindunginya sampai tahap tertentu karena Mbah Jena satu-satunya penghubung antara ketiga kelompok dengan penjual sumber daya yang misterius tersebut.
Asrul, Taimiyah dan Mbah Jena sama-sama bernafas lega karena dapat mengatasi situasi ini dengan baik.
Sobirin dan Sa'diyah berencana menempatkan satu anggota mereka di kediaman Mbah Jena sebagai penghubung sedangkan Sakino belum mengambil keputusan.
Mbah Jena tersenyum lebar, dia memahami meskipun masing-masing hanya mengirim satu pendekar tetapi secara tidak langsung sudah menunjukkan dukungan mereka pada dirinya.
Selesai jamuan makan, Mbah Jena berbincang dengan Sakino sementara Sobirin memilih pamit. Di sisi lain, Sa'diyah mengajak Taimiyah untuk berbincang dengannya.
"Ketua Taimiyah, kudengar ada seorang pemuda bernama Asrul di Kun Billah. Apakah anak ini terdengar tidak asing bagimu?" tanya Sa'diyah.
"Asrul? Tentu aku mengenalnya." Taimiyah memanggil Asrul ke dekatnya dan mengenalkannya pada Sa'diyah.
"Hm? pemuda yang kucari sepertinya berusia sekitar 20 atau 23 tahun."
"Tetua, Junior memang berusia 23 tahun sekarang." Asrul berkata sambil memberi hormatnya.
Sa'diyah menaikkan alisnya, dia berpikir Asrul setidaknya berusia 30 tahun. Tidak disangka dirinya masih begitu muda dengan fisik demikian. Sa'diyah kemudian mengulurkan tangannya pada pergelangan tangan Asrul, memeriksa kualitas tulangnya.
"Oh, anak muda kualitas Auramu sangat bagus dan memiliki bakat bela diri yang tinggi, tidak heran Ketua Airish memilihmu." Sikap Sa'diyah sedikit berubah setelah mengetahui kualitas aura Asrul.
"Ketua Airish?" Taimiyah sekarang yang keheranan.
Sa'diyah menjelaskan beberapa waktu lalu dia masih berada di Bukit Siguntang dan mengetahui sebuah informasi menarik, Ketua Airish yang dimaksud adalah Airish, satu dari lima jagoan terkuat padepokannya.
"Airish memiliki seorang cucu yang memiliki bakat sangat tinggi, banyak Imam lain yang mencoba menjodohkan cucu Airish dengan keturunan mereka tetapi Airish mengatakan cucunya sudah berencana untuk menjodohkannya dengan seorang pemuda bernama Asrul dari bukit Siguntang." Sa'diyah mengatakannya sambil tertawa kecil.
Dari cerita Sa'diyah, Asrul menangkap namanya cukup terkenal dikalangan Imam bukit Siguntang. Sa'diyah merasa meskipun Asrul belum memiliki tenaga dalam tetapi dia memiliki masa depan yang cerah. Belum lagi Sa'diyah bisa melihat Asrul memiliki aura aneh yang menyelimuti tubuhnya, membuatnya terlihat begitu berwibawa dan gagah.
Sa'diyah mengakui pilihan Airish tidaklah buruk, apalagi Asrul sepertinya dekat dengan Taimiyah dan akan menjadi tokoh penting Kun Billah di masa depan.
Kabar tentang Markas Cahaya Kebenaran, Padepokan Tedari serta Bukit Siguntang mendatangi kediaman Mbah Jena telah menyebar dan Bruno yang paling pertama mengetahuinya.
"Jika Mbah Jena mendapatkan dukungan dari ketiga kelompok ini maka tidak ada kesempatan bagiku untuk menduduki tahta, kuharap kalian bisa membantuku mendapatkan solusinya." Bruno berkata pada dua orang yang berada di hadapannya.
Sosok yang pertama adalah seorang gadis berjubah merah darah yang terlihat berusia belasan tahun, dia merupakan salah satu dari tiga petinggi Markas Mentari Senja. Gadis ini jauh lebih tua dari yang terlihat dan kemampuannya berada pada tingkat yang sama dengan Taimiyah
Satu orang lainnya yang berada di hadapan Bruno tidak lain adalah pembunuh bertopeng hitam dengan ukiran bunga berwarna emas, dia merupakan pemimpin tertinggi Organisasi Silver Hawk, Albert.
"Pangeran, situasi ini memang tidak menguntungkan kita. Kekhawatiran Pangeran sangat tepat, kita harus mencari solusi secepatnya." Gadis berjubah merah berkata sambil tersenyum dingin.
Situasi beberapa minggu terakhir sama sekali tidak menguntungkan kubu Bruno. Kematian Baron dan kehancuran Padepokan Tapak Suci nyatanya tidak mengurangi pengaruh Mbah Jena, sebaliknya sejak kejadian itu Mbah Jena mulai mendapatkan dukungan dari berbagai arah.
"Hanya ada dua solusi yang bisa kita lakukan sejauh ini." Gadis berjubah merah kembali bersuara, "Pertama, Kita menemukan asal sumber daya yang didapatkan oleh Mbah Jena."
Bruno menggelengkan kepalanya, beberapa minggu terakhir dia sudah berusaha menemukan asal sumber daya tersebut tetapi hasilnya nihil. Bruno hanya berhasil menemukan sumber dana yang digunakan oleh Mbah Jena demi mendapatkan sumber daya sebanyak itu.
"Apa solusi kedua?" tanya Bruno.
"Saat ini kita tidak memiliki kemampuan menghadapi tiga kelompok tersebut sekaligus biarpun Asosiasi Intelijen Mafia bersedia bergerak jadi hanya ada satu solusi tersisa..." Gadis Markas Mentari Senja memandangi Albert, "Membunuh Mbah Jena."
Bruno mengerutkan dahinya, dia memandangi Albert sebelum menggelengkan kepalanya. Bruno sudah pernah menyuruh Organisasi Silver Hawk menghabisi Mbah Jena tetapi karena mereka menganggap remeh tugas tersebut dan hanya mengirim satu pembunuh bertopeng ungu membuat rencana pembunuhan tersebut menjadi kegagalan pertama organisasi pembunuh itu.
"Sejak gagal membunuhnya, Mbah Jena meningkatkan perlindungan dirinya beberapa kali lipat. Belum lagi Ketua Padepokan Kun-Billah berada di sisinya hampir setiap waktu, membunuhnya tanpa menarik perhatian akan sulit." Bruno menghela nafas panjang.
Belum lagi Organisasi Silver Hawk sudah membunuh istri Mbah Jena serta Baron dan belasan ksatria tangguh padepokan Tapak Suci.
Albert memandang gadis dari Markas Mentari Senja dengan dingin. Organisasi Silver Hawk bukan satu-satunya pendukung Bruno, tetapi mereka yang bekerja paling keras serta beresiko belakangan ini. Albert adalah orang yang membunuh Baron, meskipun berhasil tetapi dia terluka cukup serius dan baru pulih beberapa hari lalu setelah mengkonsumsi banyak sumber daya penyembuh.
"Pangeran, anda tidak perlu memikirkan masalah menarik perhatian." Gadis itu tersenyum lebar, "Bagaimana jika kita menyerang istana secara sepenuhnya?"
Bruno mengerutkan dahinya, bahkan Albert terkejut dengan pertanyaan gadis tersebut.
"Pangeran, situasi sekarang membuat anda memiliki kemungkinan sangat kecil untuk mendapatkan tahta. Jika Organisasi Silver Hawk mengerahkan seluruh kekuatannya dan menyapu bersih Mbah Jena, semua pangeran lain dan juga gubernur Mallorca maka saat ketiga kelompok ingin bertindak pun mereka tidak bisa menghentikan anda menjadi gubernur Mallorca yang baru." Kata Gadis itu sambil tertawa lepas.
Bruno melebarkan matanya, dia sulit percaya yang didengarnya tetapi perkataan gadis Markas Mentari Senja memang tidak sepenuhnya salah.