
Gus Mukhlas juga sama terkejutnya, dia tidak pernah melihat Taimiyah bersikap tidak masuk akal seperti ini.
"Sudah, hari ini aku tidak mau bermain lagi. Keberuntunganku sedang tidak bagus." Taimiyah mendengus kesal.
Asrul menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung, "Ini permainan catur yang menggunakan logika dan strategi apa hubungannya dengan keberuntungan? Ini tidak sama dengan bermain kartu atau dadu." Tentu saja Asrul hanya berkata dalam hatinya.
Taimiyah lalu mengajak Gus Mukhlas untuk menemui Mbah Jena, mereka akan membahas lebih rinci masalah mendapatkan kitab Al Hikam. Menurut Taimiyah akan lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan kitab Al Hikam dengan bantuan Mbah Jena, karena seluruh aktivitas di kota Mallorca harus tunduk kepada pemerintah. Itulah makanya Taimiyah memperjuangkan Mbah Jena untuk menjadi gubernur Mallorca.
Setelah Mbah Jena menjadi gubernur Mallorca, Gus Mukhlas dapat mengambil kitab Al Hikam tersebut bersama Mbah Jena. Dalam hal ini Asrul tidak perlu mengikuti, karena tugas Asrul hanya sampai mendapatkan informasi lokasi keberadaan kitab Al Hikam tersebut.
Acara pengangkatan Mbah Jena sebagai gubernur Mallorca yang baru berjalan sesuai rencana dan megah. Perwakilan dari Markas Cahaya Kebenaran, padepokan Tedari serta Bukit Siguntang juga hadir dan menunjukan dukungan mereka.
Semua berjalan lancar meskipun ada sesuatu yang sempat membuat acara terhenti sejenak yaitu saat Gus Mukhlas menghadiri acara tersebut menjadi pusat perhatian, hampir semua mata terutama para wanita terpaku padanya.
Taimiyah mengingatkan dalam acara resmi seperti ini apalagi di hadapan gubernur Mallorca, tidak usah berdandan berlebihan, karena semua wanita ikut menatapnya tanpa berkedip.
Asrul memilih tidak mengikuti acara tersebut, apalagi aura pembunuh miliknya belum sepenuhnya hilang meskipun telah berlatih Aura tasawuf dengan giat. Asrul tidak ingin terlalu menarik perhatian banyak pihak yang hadir.
Dengan bertambahnya aura tasawuf ditubuhnya, Asrul semakin terlihat seperti bangsawan. Andaikan seluruh aura pembunuh yang dimilikinya sudah diubah menjadi aura naga pastinya setiap orang yang melihatnya akan mengira Asrul merupakan bangsawan tinggi bahkan keturunan keluarga kerajaan.
Sehari setelah Mbah Jena resmi menjadi gubernur Mallorca yang baru, Taimiyah dan sebagian besar anggota padepokan Kun Billah termasuk Gus Mukhlas dan Asrul berniat meninggalkan Mallorca untuk kembali ke padepokan mereka. Taimiyah sudah meninggalkan Padepokan selama beberapa tahun, sudah waktunya dia kembali untuk mengurusnya.
Siti Adawiyah telah resmi menjadi murid Gus Mukhlas, namun dia tidak ikut bersama rombongan ini. Siti Adawiyah masih membutuhkan beberapa persiapan serta menyelesaikan beberapa hal sebelum berangkat ke Bukit Siguntang. Dua orang Imam masih tinggal di Mallorca karena ditugaskan Taimiyah untuk mengawal Siti Adawiyah nanti.
Sehari setelah Mbah Jena di angkat menjadi gubernur Mallorca, rencana mereka untuk mendapatkan kitab Al Hikam berjalan dengan lancar. Mbah Jena, Gus Mukhlas dan Taimiyah mendatangi gedung asosiasi kitab suci dalam rangka meresmikan asosiasi kitab suci. Setelah Taimiyah yakin bahwa yang telah di temukannya adalah memang kitab Al Hikam, dengan mudahnya Taimiyah melenyapkan kitab Al Hikam dengan beberapa mantera yang akhirnya kitab Al Hikam tersebut hancur menjadi abu. Tidak ada yang menyaksikan kejadian tersebut selain Mbah Jena, Gus Mukhlas dan Taimiyah sendiri.
"Mbah Jena, aku tidak mengetahui apakah engkau telah berhasil menyatukan Kitab Al-Hikam dalam tubuhmu, atau bahkan engkau telah menyebarkannya. Dengan hancurnya kitab Al Hikam yang asli ini, aku nyatakan bahwa tanggung jawabku selesai sampai di sini." Taimiyah melepaskan tanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan.
"Aku mengerti guru, aku akui bahwa ajaran kitab Al Hikam telah aku kuasai, dan percayalah, aku tidak akan berbuat ceroboh." Mbah Jena menjelaskan bahwa kitab Al Hikam tidak akan salah guna.
Setelah selesai misi Gus Mukhlas dan Asrul, Taimiyah menarik nafas dengan lega. Kini mereka pulang setelah selesai meresmikan asosiasi kitab suci.
"Asrul, aku akan menyusul mu dalam beberapa bulan!" Siti Adawiyah tersenyum ceria, dia sangat antusias karena menjadi adik seperguruan Asrul. Hubungan keduanya pun berubah, semenjak menjadi murid Gus Mukhlas, Siti Adawiyah meminta Asrul untuk memanggilnya dengan sebutan Adawiyah.
Asrul merasa canggung dengan status baru ini, tidak hanya Gus Mukhlas yang terbebani karena memiliki cucu gubernur sebagai muridnya, Asrul juga tidak terbiasa menjadikan Siti Adawiyah sebagai adik seperguruannya.
"Kereta yang diberikan Yang Mulia ini sangat bagus, kudengar hanya keluarga bangsawan yang bisa menggunakannya." Taimiyah tertawa lepas sambil menepuk kursinya.
Mbah Jena menghadiahkan sepuluh kereta kuda yang ditarik dengan kuda terlatih kepada Kun Billah sebagai transportasi untuk kembali ke padepokan mereka. Taimiyah menaiki kereta terbaik dan mengajak Asrul untuk satu kereta dengannya.
"Bukankah lebih cepat jika kita berlari dengan menggunakan tenaga dalam daripada menaiki kereta kuda ini?" Asrul tersenyum canggung.
"Asrul, kau sungguh seperti Gus Mukhlas, terlalu kaku. Sesekali kita juga perlu menikmati hal-hal seperti ini." Taimiyah memainkan janggutnya.
Asrul menggaruk kepalanya, tidak berniat membantah Taimiyah. Asrul mengetahui beberapa tahun terakhir sungguh berat bagi Taimiyah ditambah beberapa waktu lalu pria sepuh ini hampir kehilangan nyawanya di tangan musuh jadi dia mengerti kalau Taimiyah ingin menikmati kedamaian ini.
Perjalanan dari Mallorca ke Bukit Siguntang menggunakan kereta kuda membutuh waktu sekitar sebulan, tidak banyak yang terjadi di perjalanan selain mereka mendapat beberapa undangan dari keluarga bangsawan besar maupun kecil yang ingin menjamu mereka namun Taimiyah menolak semuanya.
Asrul sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berlatih di kereta kuda, Taimiyah tentu melihat Asrul mengubah aura pembunuh menjadi aura tasawuf dengan sebuah teknik yang tidak dia kenali namun Taimiyah tidak meminta penjelasan dari Asrul.
"Ketua, Selamat datang. Anda telah melakukan kerja yang bagus."
Khairul membawa beberapa Imam menyambut Taimiyah dan lainnya setelah mengetahui kereta kuda mereka sudah mendekati Bukit Siguntang.
"Khairul seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini." Taimiyah tersenyum tipis, beberapa tahun terakhir dia menitipkan Padepokan Kun-Billah dibawah kendali Khairul dan dia mendengar cukup banyak kabar tidak menyenangkan seperti Khairul tidak adil mengatur pembagian sumber daya serta memberikan beberapa fasilitas lebih untuk anggota padepokan yang berasal dari keluarga Khairul.
Khairul memberikan pandangan sinis pada Gus Mukhlas dan Asrul, tidak menutupi kebenciannya terhadap keduanya. Taimiyah menaikkan alisnya ketika melihat ini tetapi tidak mengeluarkan komentar.
"Dilihat dari sikapnya, Tua bangka ini tidak mengetahui atau mungkin tidak mau tahu semua yang terjadi di Mallorca beberapa waktu terakhir, dia terlalu menikmati jabatannya sebagai ketua pengganti." Asrul tersenyum lebar melihat sikap Khairul dan ingin melihat ekspresi pria tua itu ketika mengetahui Gus Mukhlas ditunjuk sebagai penerus Taimiyah sebagai ketua Padepokan.
Gus Mukhlas terlihat tidak terganggu dengan sikap Khairul, sementara para Imam yang mengetahui semua yang terjadi di Mallorca memandang Khairul dengan tatapan iba. Tidak akan berujung baik jika seseorang menunjukan sikap permusuhan pada orang yang menjadi guru putri gubernur.
"Kenapa tua bangka ini tidak terbunuh di Mallorca, aku sudah mulai terbiasa dengan posisi sebagai ketua padepokan dan sekarang harus mengembalikannya." Khairul tersenyum pada Taimiyah tetapi menyimpan semua pikiran tersebut dalam-dalam.
"Khairul memiliki kemampuan bela diri yang tinggi, dia sungguh orang terkuat setelahku di Bukit Siguntang. Sayangnya dia terlalu berambisi dan serakah karena pembawaannya yang dibesarkan di keluarga bangsawan." Batin Taimiyah sambil tersenyum tipis, dia bisa melihat ambisi yang berusaha disembunyikan Khairul.
"Semua sudah lelah, mari kembali ke padepokan dan beristirahat." Taimiyah mengajak semuanya memasuki Bukit Siguntang sambil memikirkan tindakan yang harus dia lakukan pada Khairul di masa depan.