JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Melanjutkan Perjalanan


Kesalahan terbesar Silver Hawk memang mereka merasa memiliki kemampuan yang mampu menghadapi salah satu padepokan terkuat aliran putih disebabkan hampir tidak pernah gagal dalam menjalankan misi mereka.


Memang salah satu padepokan terkuat aliran putih tersebut pun harus membayar cukup mahal untuk menghapuskan Silver Hawk dari dunia persilatan. Asrul dengar setidaknya ada tiga ratus pembunuh bertopeng ungu yang bergabung dalam Silver Hawk, beberapa diantaranya setara dengan pesilat ternama.


"Mereka pasti tidak mengetahui Tuan Muda keluarga Teratai ini dilindungi oleh seorang pesilat ternama, apalagi orang ini merupakan Illuminator yang memiliki kemampuan hebat." Asrul menggelengkan kepala pelan, jika bukan karena persepsinya yang telah terasah dan pengalaman dari kehidupan sebelumnya, Asrul pasti tidak mampu mendeteksi keberadaan Kawamatsu.


Asrul menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia memilih tidak ingin terlalu memikirkannya karena merasa bukan urusannya. Asrul lalu kembali ke tenda dan memberitahu kejadian tersebut pada Gus Mukhlas.


"Topeng perak? pesilat kelas dua?" setelah mendengar cerita Asrul, Gus Mukhlas merenung sebentar, "Kemungkinan mereka berasal dari kelompok Silver Hawk, belum tentu mereka mengincar Tuan Muda Faisal."


"Maksud Guru?" Asrul mengerutkan dahinya.


Gus Mukhlas menceritakan saat mengawal Guru Taimiyah kembali ke padepokan, mereka sempat dihadang oleh pembunuh dari kelompok Silver Hawk. Gus Mukhlas bertarung dan berhasil melukai seorang pembunuh topeng ungu cukup serius serta membunuh beberapa pembunuh topeng emas yang mencoba menyerang Taimiyah.


Gus Mukhlas berpikir ada kemungkinan kelompok Silver Hawk datang untuk membalas dendam padanya.


"Guru, aku merasa mereka bahkan tidak mengetahui keberadaan kamu di sini..." Asrul tersenyum tipis.


Pemikiran Gus Mukhlas tentang Silver Hawk ingin membalas dendam padanya memang masuk akal namun Asrul mengetahui bahwa Silver Hawk bukan organisasi yang seperti itu. Asrul sebenarnya cukup terkejut karena Silver Hawk berani mencoba membunuh Taimiyah, nyali mereka sungguh besar.


Mengingat semua itu sudah terjadi lebih dari setahun yang lalu, andaikan Silver Hawk ingin membalas dendam harusnya mereka melakukannya ketika Gus Mukhlas menempuh perjalanan pulang dari kota Mallorca ke Bukit Siguntang.


"Jika Silver Hawk ingin menghabisi Guru, setidaknya mereka harus mengirim tiga pembunuh topeng ungu dan kemungkinan besar satu atau dua diantaranya akan terbunuh. Silver Hawk tidak akan mau mengorbankan sumber daya sebesar itu tanpa mendapatkan uang sepeserpun." Batin Asrul.


Hanya saja tidak ada salahnya jika mereka berdua lebih waspada, Gus Mukhlas dan Asrul kemudian beristirahat setelah membicarakan masalah tersebut. Gus Mukhlas berencana mengabarkan masalah ini pada Faisal keesokan paginya.


Pada saat matahari terbit, Faisal mendatangi tenda Gus Mukhlas dan mengajak keduanya untuk menikmati sarapan yang telah dia sediakan. Selesai menyantap sarapan tersebut, Gus Mukhlas mengabarkan tentang keberadaan Silver Hawk yang memeriksa perkemahan tadi malam.


"Silver Hawk?" Raut wajah Faisal menjadi sedikit pucat, dia tentu mengetahui benar arti dibalik nama tersebut. "Imam Gus Mukhlas, bisakah aku memohon pertolonganmu?" Biarpun Faisal mendapatkan perlindungan tanpa henti dari guru Kawamatsu, nama Silver Hawk membuatnya panik. Faisal sudah mendengar beberapa orang dari keluarga bangsawan dihabisi oleh organisasi ini. Yang membuat Silver Hawk sangat terkenal belakangan ini adalah karena mereka berani mencoba melakukan pembunuhan pada Taimiyah setahun yang lalu.


"Masalah ini..." Gus Mukhlas terlihat ragu untuk menerimanya.


"Imam Gus Mukhlas, kumohon..." Faisal meminta Gus Mukhlas mengawalnya sampai ke tempat gadis yang ingin dia lamar. "Imam Gus Mukhlas, kita berjalan ke arah yang sama dan tentu saja aku tidak meminta Imam melakukan ini secara sukarela..."


Sebenarnya ada berbagai macam barang di rombongan ini tetapi semua itu adalah mahar untuk lamaran yang telah dijanjikan Faisal pada keluarga gadis pujaan hatinya. Bagi bangsawan, dalam situasi apapun tidak sepatutnya menarik janji sehingga dia berencana menyerahkan mahar tersebut terlebih dahulu sebelum meminjamnya kembali untuk membayar Gus Mukhlas.


Satu koin emas cukup untuk menghidupi keluarga sederhana yang terdiri dari empat orang selama setengah sampai satu tahun, lima puluh koin emas terlihat banyak tetapi bagi ksatria, jumlah ini sungguh tidak berarti apalagi ksatria ternama seperti Gus Mukhlas.


Jika seorang pendekar ingin mengembangkan kemampuannya menggunakan sumber daya, maka koin emas yang harus dia keluarkan akan berjumlah sangat banyak.


Padahal sumber daya seperti Ginseng berusia seratus tahun tidak banyak berguna lagi bagi pesilat setingkat Gus Mukhlas kecuali dikonsumsi rutin.


Bagi pesilat setingkat Gus Mukhlas, dengan menyelesaikan satu misi dari Bukit Siguntang, dia bisa mendapatkan bayaran senilai tiga sampai lima ratus keping emas. Beberapa tugas yang berbahaya bisa membuat Gus Mukhlas mendapatkan seribu keping emas dalam satu misi.


Hanya saja Gus Mukhlas tidak menjalankan misi selama setahun terakhir, makanya Gus Mukhlas belum bisa membelikan Asrul senjata. Biarpun Gus Mukhlas tidak menunjukkannya tetapi dia merasa tidak enak hati sebagai seorang Guru.


Perjalanan Gus Mukhlas dan Asrul ke kota Mallorca masih panjang sementara perbekalan Gus Mukhlas tidaklah banyak. Gus Mukhlas tidak ingin terlalu berhemat sampai membuat perjalanan ini menjadi kenangan yang tidak menyenangkan untuk Asrul.


"Tuan Muda Faisal, Aku menerima permintaanmu." Gus Mukhlas memutuskan.


"Terima kasih Imam Gus Mukhlas! Aku akan selalu mengingat kebaikanmu." Ekspresi Faisal menjadi cerah karena Gus Mukhlas bersedia mengawalnya.


Asrul mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti alasan Gus Mukhlas menerima pekerjaan ini. Andai Asrul mengetahui pikiran Gus Mukhlas, dia mungkin akan merasa sangat bersalah mengingat kehidupan Guru dan Murid ini bisa jauh lebih mudah andai Asrul bersedia memberi tahu bahwa dia telah menjalani ini semua.


Biarpun merasa bingung, Asrul tidak mempertanyakan keputusan yang diambil gurunya.


Faisal memerintahkan agar rombongannya segera berangkat, walaupun Gus Mukhlas sekarang mengawalnya, Faisal baru merasa sungguh aman ketika dia telah berada di kediaman pujaan hatinya.


Tentu saja para pengawal keluarga Teratai ini menerima informasi tentang Silver Hawk, raut wajah para pengawal pun berubah. Gerakan mereka menjadi lebih cepat sekaligus meminta para pelayan ikut bergegas.


Gus Mukhlas dan Asrul menaiki kereta kuda yang sama dengan Faisal, sepanjang perjalanan Faisal berusaha memperkuat hubungannya pada Gus Mukhlas. ksatria bergelar hanya ada satu diantara seratus pesilat ternama, menjadi teman pesilat setingkat Gus Mukhlas tidak pernah mengalami kerugian.


Rombongan Faisal sempat terhenti oleh perampok yang mencoba merebut mahar lamarannya tetapi para perampok itu bukan tandingan para pengawal.