JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Harta Rampasan


Gus Mukhlas bersama Asrul tiba di salah satu markas Kelompok Aliran Keras. Menurut informasi yang berhasil didapatkan dari anggota kelompok Aliran Keras yang mereka tangkap, tempat ini memiliki sekitar dua ratus anggota kelompok Aliran Keras dengan selusin diantaranya merupakan pesilat kelas satu.


Asrul sebelumnya mengira keduanya akan mendatangi sebuah benteng yang kokoh atau setidaknya memiliki pagar dari kayu namun nyatanya yang dia lihat markas ini hampir tidak berbeda dengan perkemahan biasa.


"Para anggota kelompok Aliran Keras hidup berpindah-pindah dan mereka juga diincar oleh pemerintah. Tidak ada alasan mereka membangun markas permanen di tempat ini." Gus Mukhlas menjelaskan.


Asrul menyipitkan matanya, kemampuan melihatnya memang jauh lebih baik daripada Gus Mukhlas.


Asrul bisa melihat para anggota kelompok Aliran Keras tersebut sedang bersiap-siap untuk meninggalkan markas dengan senjata lengkap. Asrul menebak beberapa anggota kelompok Aliran Keras yang lari sebelumnya telah sampai ke markas ini dan menceritakan semuanya.


"Asrul, Guru bisa mengatasi mereka sendirian. Kau tunggu saja di sini." Gus Mukhlas tidak ingin Asrul membunuh terlalu banyak orang dan juga dirinya cukup yakin bisa menghadapi semuanya seorang diri.


"Guru, Aku tidak meragukan kemampuanmu tetapi sebaiknya murid ikut demi memastikan tidak ada dari mereka yang lolos dan menyebabkan masalah ke depannya." Jawab Asrul sambil tersenyum lebar.


Gus Mukhlas mengerutkan dahinya, dia merasa Asrul bisa membaca pikirannya. Gus Mukhlas memang berniat membunuh beberapa perampok sambil menunjukkan kemampuannya sehingga para anggota kelompok Aliran Keras yang tersisa akan lari. Asrul mengetahui Gurunya tersebut tidak berniat membunuh banyak orang.


Asrul tidak menunggu jawaban Gus Mukhlas melainkan langsung berlari ke arah markas kelompok Aliran Keras dengan kecepatan penuh.


Gus Mukhlas menggelengkan kepala sebelum mulai menyusul muridnya tersebut, dia semakin khawatir jika Asrul akan menjadi seseorang yang menikmati pembunuhan.


"Guru tidak mengerti, aku harus mengumpulkan aura pembunuh sebanyak yang ku bisa secepatnya, lagipula aku tidak bisa sering berkelana dan membunuh seperti ini dalam waktu dekat." Batin Asrul sambil menarik keluar beberapa pisau kecil dari balik jubahnya.


Dugaan Asrul sebelumnya benar, para perampok di markas ini sedang bersiap-siap untuk kembali menyerang kota yang baru ditinggalkan oleh dirinya dan Gus Mukhlas. Biarpun demikian, para anggota kelompok Aliran Keras ini sama sekali tidak siap ketika mendapatkan serangan.


Memang yang menyerang para perampok ini hanyalah dua orang, tetapi dalam dunia persilatan bukan hal baru sebuah kelompok besar dihancurkan oleh seorang pesilat.


Beberapa perampok yang menjaga markas tidak sempat bereaksi saat Asrul melempar pisau kepada mereka. Gus Mukhlas tidak menghentikan langkahnya setelah membunuh beberapa anggota kelompok Aliran Keras tersebut, dia bergerak lincah dan menghabisi setiap musuh yang dia temui.


Meskipun badai sudah berlalu dan hujan sudah berhenti namun langit di daerah ini masih dipenuhi awan gelap yang menutupi cahaya matahari. Tindakan Asrul yang begitu cepat membuat para perampok terlambat bereaksi bahkan Gus Mukhlas sekalipun yang mengikuti Asrul terkejut melihat kecepatan membunuh muridnya itu.


"Jika bukan karena mengetahui kemampuan Asrul saat pertama kali kami bertemu, aku tidak akan percaya dia ..." Gus Mukhlas melihat para perampok yang sekarang terbaring tidak bernyawa karena serangan Asrul.


Gus Mukhlas tidak pernah mengajarkan cara membunuh seperti ini pada Asrul, lebih tepatnya dia sendiri tidak mampu melakukannya jika memiliki tingkat bela diri yang sama dengan muridnya itu.


Perkiraan Gus Mukhlas tidak sepenuhnya meleset, Asrul memang diajari seorang pesilat yang sangat ahli yaitu diri Asrul sendiri.


Pada kehidupan sebelumnya Asrul mencapai ilmu bela diri dan tenaga dalam yang tinggi sampai dijuluki Juru Selamat. Ketika berada pada kemampuan tertingginya, Asrul bisa dibilang di atas Taimiyah dan mengimbangi sosok legendaris seperti Mbah Jena dari Bukit Siguntang.


Asrul telah melewati begitu banyak rintangan serta cobaan dan membunuh orang yang tidak terhitung jumlahnya sebagai Juru Selamat karena itu teknik bertarung serta membunuhnya sangat tinggi.


"Aku tidak bisa diam saja..." Gus Mukhlas menarik pedangnya ketika melihat para perampok mulai menyadari tindakan Asrul, Gus Mukhlas tidak ingin muridnya dalam bahaya maupun membunuh terlalu banyak orang.


Dengan Gus Mukhlas mengatasi para kelompok Aliran Keras yang memiliki kemampuan pesilat kelas satu, Asrul tidak mengalami sedikitpun kesulitan menghabisi para anggota kelompok Aliran Keras yang lain. Dalam waktu yang relatif singkat puluhan nyawa diambil oleh Asrul dan hebatnya pakaian Asrul bersih dari darah karena dia selalu menghabisi lawannya dalam satu serangan serta waktu yang singkat.


Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, pasangan Guru dan murid ini berhasil menghabisi hampir seluruh kelompok Aliran Keras yang berada di markas tersebut. Hanya beberapa orang kelompok Aliran Keras yang berhasil kabur dari tangan keduanya.


Gus Mukhlas menghela nafas panjang karena dia hanya menghabisi sekitar dua puluhan orang saja, Asrul begitu cepat membunuh para anggota kelompok Aliran Keras yang ditemuinya dan bergerak begitu lincah. Andai Gus Mukhlas tidak menggunakan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, kecepatannya sama sekali bukan tandingan muridnya itu.


"Guru, sebaiknya kita memeriksa markas ini dengan teliti, ." Asrul mengingat para anggota kelompok Aliran Keras ini juga menyimpan persenjataan.


Gus Mukhlas yang ingin menasihati Asrul karena terlalu banyak membunuh pun harus menunda niatnya dan mengangguk pelan karena menyadari perkataan muridnya itu benar.


Tidak butuh waktu lama untuk keduanya menemukan satu peti yang berisi senjata.


Gus Mukhlas menghela nafas panjang sementara Asrul menggeleng pelan, keduanya sama-sama sadar bahwa semua senjata ini telah membunuh banyak orang yang tidak bersalah yang tidak perlu mereka bunuh.


Asrul menemukan cukup banyak uang dalam markas kelompok Aliran Keras ini, dia menyerahkan semua pada Gus Mukhlas yang kemudian dibagikan untuk para warga. Tentu saja uang itu tidak pernah cukup untuk menyembuhkan pengalaman yang telah mereka alami tetapi setidaknya uang itu bisa membantu mereka memulai hidup yang baru.


Gus Mukhlas maupun Asrul tidak mengetahui keputusan persenjataan tersebut, mereka kembali ke tempat asal atau melanjutkan perjalanan baru di tempat lain. Yang pasti keduanya hanya bisa melihat semuanya lalu meninggalkan markas kelompok Aliran Keras.


"Asrul, Guru butuh waktu sendiri sejenak..." kata Gus Mukhlas sebelum berjalan menjauhi Asrul.


Asrul bisa merasakan bahwa Gus Mukhlas begitu antusias ketika melihat harta rampasan tersebut. Biarpun Gus Mukhlas memiliki hati yang senang menolong sesama, tetapi dirinya juga paling tidak bisa melihat harta yang begitu banyak beserta persenjataannya menjadi sia-sia.


Asrul memilih menghabiskan waktunya mencari sesuatu yang berharga di markas tersebut, namun selain menemukan uang serta beberapa perhiasan berharga lainnnya, Asrul tidak menemukan sesuatu yang membantu bagi seorang pesilat.