
Siti Adawiyah tidak memahami situasi yang sedang terjadi sehingga dia hanya bisa diam sampai akhirnya tertidur dalam pelukan Mbah Jena.
Detik berganti menit lalu menjadi jam, waktu terus berlalu dan tanpa terasa matahari akhirnya mulai menunjukkan sinarnya.
"Mbah Jena..."
Pelayan tua yang sebelumnya telah meninggalkan ruangan Mbah Jena saat Siti Adawiyah datang kini telah kembali. Wajahnya seputih kertas serta berjalan dengan lemas.
Tubuh Mbah Jena bergetar hebat saat melihat kedatangan pelayan tua diiringi seorang ksatria dari kota Mallorca dan ksatria lain dari padepokan Imam Ahmad. Mbah Jena bisa melihat raut wajah pelayan tua maupun kedua ksatria menunjukkan mereka membawa kabar buruk.
Siti Adawiyah merasakan hal yang sama, tubuhnya menjadi lemas dan ketakutan mulai menyelimuti hatinya.
"kakek..." kedatangan pelayan tua membangunkan Siti Adawiyah dari tidurnya, dia bisa melihat raut wajah kakeknya tidak membaik bahkan memburuk.
Pelayan tua tidak banyak bicara, dia hanya meminta Mbah Jena dan Siti Adawiyah untuk ikut bersamanya ke aula utama kediaman Mbah Jena.
Mbah Jena meminta Siti Adawiyah kembali ke kamarnya terlebih dahulu tetapi gadis itu menolak. Siti Adawiyah bersikeras mengikuti keduanya, Mbah Jena tidak bisa menghentikan cucunya tersebut lebih tepatnya tidak ada yang bisa menghentikan Siti Adawiyah di kediamannya.
Asrul keluar dari kamarnya ketika mendengar suara pelayan dan bik emban berlarian di depan kamarnya. Asrul mengerutkan dahinya saat menyadari para bik emban dan pelayan yang baru melewati kamarnya terlihat panik dan pucat.
"Apa yang terjadi?" Asrul menggaruk kepalanya.
Hari masih begitu pagi, matahari baru menampakkan sedikit cahayanya karena itu langit masih gelap.
"Sebaiknya aku mencari Guru, jangan-jangan kami tidak mendapatkan sarapan juga." Asrul menggelengkan kepalanya dan mulai mencari kediaman Gus Mukhlas.
Untungnya masih ada beberapa pelayan serta bik emban muda yang sepertinya tidak terlibat dengan apapun yang tengah membuat para bik emban dan pelayan lainnya panik. Dari bik emban muda inilah berhasil menemukan ruangan Gus Mukhlas.
"Asrul, Guru baru berniat pergi mencarimu."
Gus Mukhlas baru meninggalkan kamarnya saat Asrul hanya berjarak beberapa langkah dari ruangan Gus Mukhlas. Asrul menceritakan semalam dirinya tidak mendapat makan malam, melihat situasi pagi ini dirinya khawatir juga tidak akan mendapatkan sarapan.
"Tidak ada yang mengantarkan makanan ke kamarmu?" Gus Mukhlas merasa tidak begitu senang ketika mendengarnya.
Asrul mengerutkan dahinya ketika mengetahui Gus Mukhlas masih mendapat beberapa kue dan buah-buahan dari para bik emban tadi malam. Asrul menebak pemberian itu berasal dari inisiatif para bik emban tersebut karena ketampanan Gus Mukhlas.
Biarpun Gus Mukhlas mengenakan sorban, semua orang masih bisa menebak bahwa Gus Mukhlas memiliki wajah yang tampan dan pastinya mata yang indah.
Gus Mukhlas menyuruh Asrul memasuki kamarnya dan menyantap kue serta buah-buahan yang masih banyak tersisa tadi malam. Asrul tidak menolak karena dia memang ingin mengisi perutnya.
Asrul memakan buah-buahan dengan lahap dan Gus Mukhlas ikut menyantap beberapa buah sambil menemaninya. Belum selesai keduanya menikmati makanan, pintu kamar Gus Mukhlas diketuk.
"Imam Gus Mukhlas, Apakah kau sudah bangun? Ada hal penting yang harus aku sampaikan." Suara Imam Zeni terdengar dari balik pintu.
"Imam Gus Mukhlas, anda pasti belum mendapat kabar dari Mbah Jena bukan? Aku datang kesini agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dirimu dengan Mbah Jena. Semalam telah terjadi sesuatu yang menyita perhatian Mbah Jena..." Imam Zeni mulai menjelaskan semua yang diketahuinya pada Gus Mukhlas.
Imam Zeni merupakan salah satu orang kota Mallorca yang ikut menghadapi para petinggi berbagai perguruan beladiri.
"Kami akhirnya berhasil menjelaskan kepada mereka setelah berdiskusi beberapa jam tetapi semua sudah terlambat." Imam Zeni menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjang.
Ketika para ksatria dari dua Padepokan berhasil membantu, mereka sudah dalam keadaan siaga bersama belasan prajurit serta pelayan yang mengawal kereta kuda mereka.
"Ketua padepokan sudah mengetahui hal ini?" wajah Gus Mukhlas menjadi gelap ketika mengetahui semua ini.
Gus Mukhlas dan Imam Zeni terlalu serius berdiskusi sampai tidak menyadari reaksi Asrul yang begitu kaget mendengar kabar ini.
"Bagaimana mungkin? Sebelumnya sama sekali tidak seperti ini..." Asrul menjambak rambutnya sendiri, berharap semua yang didengarnya hanya mimpi. Asrul berusaha menenangkan dirinya dan mencoba mencari jawaban atas kejadian ini.
“Semalam ketua padepokan dipanggil tiba-tiba oleh Mbah Jena sehingga tidak bisa dipastikan ketua sudah mengetahui masalah ini atau belum..." Imam Zeni menjelaskan.
"Bagaimana dengan Mbah Jena? Dimana beliau sekarang?" tanya Gus Mukhlas.
"Mbah Jena seharusnya masih di aula utama, bersama dengan cucunya Putri Siti Adawiyah juga berada di sana."
Gus Mukhlas mengetukkan jarinya di meja beberapa saat sebelum meminta Imam Zeni membawanya ke aula yang dimaksud.
"Asrul, kau tunggu di sini. Guru akan segera kembali." Gus Mukhlas merasa Asrul sebaiknya tidak terlibat karena ini bukan masalah misi saja melainkan politik dibaliknya.
Asrul menurut, dia hanya bisa melihat Gus Mukhlas dan Imam Zeni meninggalkan ruangan. Setelah dirinya sendirian, Asrul baru bisa mengeluarkan rasa.
"Semua ini sungguh berkaitan dengan perubahan yang kulakukan, situasi sekarang jauh berbeda dengan pengalaman dari kehidupanku yang sebelumnya." Asrul menggaruk kepalanya.
Asrul tidak pernah menduga bahwa membuat Siti Adawiyah tetap hidup akan berdampak sejauh ini, bahkan hanya dua padepokan yang membantu Mbah Jena, yang dua lagi memilih mundur.
Asrul merasa situasi perebutan tahta ini jauh lebih berbahaya dibandingkan ingatannya, jika tidak hati-hati bukan hanya dirinya dalam bahaya tetapi juga kota Mallorca. Asrul memutar otaknya, berusaha menemukan solusi untuk mengubah situasinya menjadi lebih menguntungkan.
"Satu-satunya yang bisa diharapkan untuk membalikkan situasi adalah Asosiasi kitab suci, tetapi mereka saat ini terlalu lemah karena baru membuka cabangnya di kota Mallorca. Kecuali aku memberikan informasi berharga yang membuat mereka bisa berkembang secepatnya, tidak akan ada yang membantu situasi kami."
Asrul merasa mengandalkan Asosiasi kitab suci adalah sebuah taruhan yang sangat beresiko, dengan informasi yang dia berikan Asosiasi kitab suci bisa berkembang dengan cepat bahkan mungkin akan beberapa kali lebih kuat dibandingkan kekuatan mereka di kehidupan Asrul sebelumnya.
Masalahnya Asosiasi kitab suci selalu bersikap netral, meminta mereka mendukung Mbah Jena tidak akan mudah jika tidak memberikan asosiasi tersebut keuntungan yang setimpal.
Asrul menghela nafas panjang, sejak memulai kehidupan barunya, dia tidak pernah sekalipun melewatkan latihan yang giat. Tiga tahun terakhir dia berkembang dengan kecepatan yang begitu mengerikan sampai ke tahap memiliki tingkat great grand master namun tetap saja semuanya jauh dari cukup.