
Kakek pemilik kapal itu memandang para awak kapal sebelum akhirnya mengangguk pelan, "Tentu, jika memang itu yang Tuan pesilat inginkan."
Para awak kapal-kapal yang lain sedang sibuk mengaitkan tali pada siluman buaya untuk dibawa kembali ke pelabuhan, mereka kebingungan ketika melihat kapal Roro Andalas tidak ikut terlibat melainkan berlayar ke sisi sungai yang lain.
Tidak butuh waktu lama untuk kapal tersebut sampai ke sisi sungai yang lain, Gus Mukhlas dan Asrul turun dari kapal setelah berpamitan. "Guru tidak mau istirahat dulu? Tenaga dalam Guru pasti terkuras cukup banyak." Tanya Asrul ketika keduanya sampai di daratan.
"Tidak masalah Asrul, Guru masih sanggup berlari hingga matahari terbenam."
Gus Mukhlas mulai melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan sungai, Asrul mengikutinya dari belakang.
"Ternyata seperti ini situasi dunia luar sebelum Era Kekacauan terjadi..." Asrul melihat kembali ke belakang sejenak sambil merenung.
Pada kehidupan sebelumnya, dia menghabiskan hidupnya di Bukit Siguntang sampai usia 30 tahun. Asrul tidak pernah berkelana bersama Gus Mukhlas maupun melihat dunia luar sebelum Era Kekacauan.
Ketika Era Kekacauan terjadi, semua tempat menjadi lokasi pertempuran para padepokan. Waktu itu pemerintah sama sekali kewalahan mengendalikan situasi kota Mallorca. Seingat Asrul kemanapun dia pergi selalu ada darah yang tumpah dan kematian yang menyelimuti.
Ternyata sebelum Era Kekacauan, meskipun situasinya juga tidak sepenuhnya aman tetapi bisa dibilang cukup damai.
"Aku akan menghentikan Era Kekacauan..." Asrul berpikir, jika dia mencapai kemampuan yang direncanakannya, bukan tidak mungkin dirinya memiliki kemampuan untuk menghentikan Era Kekacauan sebelum terjadi.
Asrul tersenyum lebar, berpikir untuk berlatih lebih giat lagi.
Dua hari telah berlalu sejak Gus Mukhlas dan Asrul menyeberangi sungai. Pagi itu, matahari seolah sedang bersembunyi karena langit dipenuhi awan gelap yang membuat pagi tidak berbeda dengan malam hari.
"Sepertinya akan ada badai..." Gus Mukhlas mengamati pergerakan angin dan suhu udara di sekitar keduanya yang menurun tajam.
Gus Mukhlas mengajak Asrul mencari kota terdekat, keduanya juga hampir kehabisan perbekalan jadi ini waktu yang tepat untuk memasuki kota. Selain berteduh selama badai, keduanya juga bisa memakan hidangan hangat dan membeli perbekalan perjalanan mereka.
Keduanya berlari secepat yang mereka bisa terutama saat gerimis mulai turun. Akan sulit mencari tempat berteduh ketika badai sungguh terjadi.
"Guru, di sana ada sebuah kota kecil." Asrul menunjuk ke satu arah.
Gus Mukhlas hanya bisa berdecak kagum karena yang terlihat olehnya hanya bayangan kecil di kejauhan. Gus Mukhlas tidak meragukan kemampuan mata Asrul jadi keduanya pergi ke arah yang ditunjuk oleh Asrul.
Keduanya sampai di gerbang kota kecil tersebut setelah berlari selama setengah jam. Hujan juga turun semakin deras membuat Gus Mukhlas ingin segera mencari penginapan namun dua orang yang menjaga gerbang menghentikannya.
"Musafir, ku sarankan kau tidak memasuki kota ini. Pergilah cari kota lain." Kata salah satu penjaga tersebut.
Asrul mengerutkan dahinya, selama ini keduanya belum pernah dilarang memasuki kota ataupun desa, biasanya mereka hanya butuh menunjukkan tanda pengenal.
"Jika situasinya memungkinkan, kami tidak keberatan mencari kota lain namun..." Gus Mukhlas menunjuk ke atas, langit begitu gelap dan hujan turun semakin deras.
"Musafir, kau tidak menger-.." Seorang penjaga belum selesai bicara saat penjaga lain menghentikannya.
"Apa kau tidak peduli anak istrimu lagi?! Jika mereka memang mau masuk setelah kita mengingatkan, biarkan saja." Penjaga yang menghentikan rekannya itu memandang Gus Mukhlas, "Masuklah ke dalam, tetapi jangan pernah mengatakan bahwa kami memperingatkan kalian untuk tidak memasuki kota ini."
Gus Mukhlas mengangguk pelan, kemudian mengajak Asrul memasuki kota. Asrul memandangi kedua penjaga itu dengan heran, dia tentu menangkap ada sesuatu yang salah pada kota ini.
Sayangnya, Asrul tidak memiliki banyak pengetahuan tentang hal-hal terjadi di periode ini. Kebanyakan pengetahuan yang dia ingat dari kehidupan lalunya dimulai dari Era Kekacauan.
"Guru, Apa sebaiknya kita meninggalkan kota ini dan mencari tempat berteduh yang lain?" Asrul merasa keduanya perlu memperhatikan peringatan yang diberikan oleh kedua penjaga pintu kota.
Gus Mukhlas mengelus dagunya, "Guru pernah melewati daerah ini beberapa kali, tidak ada desa atau kota yang dapat dicapai dalam satu hari perjalanan di sekitar sini."
Hujan turun semakin lebat diikuti oleh angin yang kencang, jalanan kota begitu sepi dan mereka yang berdagang di tepi jalan sudah lama membereskan dagangannya.
"Tidak perlu terlalu khawatir, kita hadapi saja satu per satu masalah yang datang. Sekarang yang terpenting mencari atap untuk berteduh dan mengisi perut." Gus Mukhlas tertawa kecil.
Pakaian keduanya sudah basah kuyup, Gus Mukhlas lebih khawatir Asrul jatuh sakit karena kehujanan. Asrul pasti tertawa kecil jika mengetahui pikiran Gus Mukhlas, sudah sering Asrul rasakan kedinginan, dan hujan seperti ini hampir tiada artinya.
Beberapa saat kemudian keduanya sampai pada sebuah penginapan sederhana. Penginapan itu begitu sepi seolah tidak ada kehidupan, sepertinya tidak ada tamu selain keduanya.
Wanita paruh baya yang duduk di meja penerima tamu menaikkan alisnya saat melihat Gus Mukhlas dan Asrul memasuki penginapan. Wanita itu seolah tidak mengharapkan ada tamu yang menginap di tempatnya.
"Kami ingin memesan dua kamar dan hidangan hangat..."
Dengan uang yang didapat dari Faisal sebelumnya dan juga seringnya mereka tidur beratapkan langit, Gus Mukhlas merasa tidak perlu terlalu berhemat. Gus Mukhlas memesan dua kamar karena melihat banyak kamar yang kosong, Asrul juga merasa akan lebih leluasa berlatih jika memiliki kamar sendiri.
Badai mungkin akan berlangsung beberapa hari, Asrul berencana menggunakan waktu ini untuk sepenuhnya berlatih.
Gus Mukhlas dan Asrul memasuki kamar mereka masing-masing untuk berganti pakaian, wanita pemilik penginapan juga telah menyediakan handuk dan pakaian kering untuk keduanya.
"Pada malam hari akan tersedia air hangat di pemandian umum... Hidangan mohon disantap di meja yang tersedia di ruang utama." Wanita paruh baya itu menjelaskan.
Asrul meninggalkan kamar setelah berganti pakaian, dia menuju ruang utama yang dimaksud untuk menyantap makanan. Perutnya terasa begitu lapar karena memang belum memakan apapun sejak pagi.
"Baru ada sup hangat, aku akan memasak yang lain, mohon tunggu sebentar..." Wanita pemilik penginapan baru meletakan sepanci sup di salah satu meja ruang utama saat Asrul memasuki ruangan.
Asrul mengangguk pelan, dia mengambil satu mangkok kosong dan mengisinya dengan sup hangat.