
"Kalian menginginkan Kitab Al Hikam? Tidak akan kubiarkan dalam mimpi kalian sekalipun!" Selesai berkata demikian Asrul maju menyerang para pesilat dengan jurus-jurusnya.
Berkat tenaga dalam yang besar, Asrul memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi membuat gerakannya begitu gesit dan lincah. Dalam waktu beberapa tarikan nafas, dirinya sudah tiba diantara para pesilat dan berhasil melepaskan beberapa hantaman.
Semua terjadi begitu cepat, dua orang pesilat tingkat tinggi telah terbunuh oleh pukulan Asrul.
Padahal mereka sempat membuat Asrul terjatuh. Hanya saja tenaga dalam Asrul membuat mereka terpental begitu mudahnya.
Tenaga dalam Asrul tidaklah lebih hebat dari mereka, tetapi berkat kandungan kitab Al Hikam yang telah menyatu dalam tubuh Asrul begitu besar kekuatannya sehingga dapat mementalkan seluruh orang yang menyerangnya.
Para pesilat tidak lagi tinggal diam, mereka menyerang pada waktu hampir bersamaan. Pertempuran sengit pun terjadi antara Asrul melawan puluhan pesilat tangguh. Di hadapan begitu banyak musuh, Asrul tidak sedikitpun gentar bahkan dapat bertarung sambil tersenyum lebar tidak peduli tubuhnya mulai dipenuhi luka.
Pertarungan tidak berlangsung lama, sekitar lima belas menit berlalu sebelum para pesilat bergerak mundur menjauhi Asrul dan memandangnya sambil merasakan ketakutan.
Kondisi Asrul begitu buruk, dia kehilangan lengan kirinya, seluruh tubuhnya dipenuhi luka tetapi dia masih bisa berdiri setelah kehilangan begitu banyak darah. Nafasnya memang berat, tetapi dirinya terlihat masih bisa membunuh beberapa orang lagi untuk mati bersamanya.
Tiba-tiba ada seorang pemuda yang berkata dengan lantang. "Guruku pernah bilang berhati-hati pada orang tua di dunia persilatan, karena nanti tidak akan sampai merasakan menjadi tua ... Hari ini mataku benar-benar terbuka." Kata pemuda itu sambil berdecak kagum.
Asrul serta para pesilat yang tersisa memandang ke sumber suara tersebut dan menemukan seorang pemuda yang terlihat berusia 20-an tahun. Mereka semua segera mengenalinya sebagai pesilat muda paling berbakat di generasi ini yang berasal dari salah satu padepokan terbesar saat ini. Nama pemuda itu adalah Wildan.
Wildan melihat sekelilingnya yang kini dipenuhi jasad pesilat tingkat tinggi, dirinya yakin dengan kemampuannya pun sulit untuk melakukan yang diperbuat oleh Asrul.
"Jangan salah paham, aku datang kesini karena mendengar Penguasa Siguntang datang kemari, bukankah kesempatan langka untuk menyaksikan Penguasa Siguntang?" tanya Wildan sambil tersenyum lebar.
Raut wajah para pesilat termasuk Asrul segera berubah, hampir bersamaan dengan selesainya Wildan bicara, suasana mendadak hening, udara disekitar mereka semua terasa lebih dingin.
Asrul memandang ke satu arah dan melihat seorang gadis mendekat dengan cepat dari kejauhan, sekilas gadis tersebut seperti melayang di udara tetapi Asrul mengetahui itu adalah teknik yang bisa dilakukan oleh seseorang yang memiliki tenaga dalam begitu tinggi. Sejauh yang Asrul ketahui, orang yang mampu melakukannya di seluruh dunia persilatan dapat dihitung dengan jari.
Ketika gadis itu akhirnya mendarat di hadapan semua orang, mereka dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas. Semua berdecak kagum tetapi tidak ada yang berani menatapnya terlalu lama selain Wildan yang merupakan pesilat muda paling berbakat.
"Kecantikan Penguasa Siguntang sungguh sesuai dengan legenda. Hari ini mataku sungguh terbuka." Wildan tertawa lepas dan penuh kesombongan.
Gadis yang memiliki kecantikan surgawi itu memasang wajah dingin dan tidak berkata apa-apa, selain tiba-tiba mengangkat tangannya.
Asrul tertawa kecil, pemuda itu mungkin yang paling berbakat dari generasinya bahkan mampu mempelajari ilmu silat tingkat tinggi milik padepokannya. Masalahnya gadis yang terlihat berusia 30 tahun ini sebenarnya seumuran dengan Asrul.
Siti Adawiyah, Penguasa Siguntang sekaligus satu-satunya petinggi bela diri dari Era Kekacauan yang masih hidup sampai hari ini. Bukan hanya menguasai satu Dari Tiga Kitab Tanpa Tanding, tetapi Siti Adawiyah juga memiliki satu dari Tujuh Pusaka Penguasa Dunia.
"Dalam tiga tarikan nafas, yang masih berada di sini akan tetap tinggal di sini selamanya.." Siti Adawiyah berkata pelan, tetapi semua orang bisa mendengarnya.
Tidak perlu tiga tarikan nafas, belum selesai Siti Adawiyah berkata lebih dari separuh pesilat yang tersisa segera meninggalkan bukit tersebut. Asrul kembali tertawa kecil saat hanya tersisa dirinya dan Siti Adawiyah..
"Nyonya..."
"Aku belum menikah." Siti Adawiyah memotong Asrul.
"Ehem... Nona..." Asrul sampai tersedak ludahnya sendiri saat Siti Adawiyah memotong perkataannya untuk hal yang menurutnya sepele, "Nona Siti Adawiyah, Aku tidak mengetahui alasan kehadiranmu disini tetapi jika yang kau inginkan adalah Kitab Al Hikam, dirimu terlambat."
Siti Adawiyah menggelengkan kepala pelan, "Aku hanya ingin membantu orang yang di maksud kakekku sebelum beliau meninggal, tetapi sepertinya aku terlambat..."
Asrul menaikkan alisnya, tidak menduga Siti Adawiyah berniat datang untuk membantunya tetapi Siti Adawiyah benar, dirinya sudah terlambat. Jika bukan karena tenaga dalam miliknya, Asrul sudah lama tewas bahkan pandangannya mulai kabur.
"Nona Adawiyah ... Terima kasih atas niat baikmu. Jika ada kehidupan berikutnya, aku akan membalas..." Asrul tidak bisa menyelesaikan kata-katanya sebelum muntah darah, tenaga dalamnya tidak bisa menahan lukanya lebih lama.
Yang bisa Asrul lakukan hanyalah tersenyum selebar yang dia bisa kepada Siti Adawiyah, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Mata Siti Adawiyah sedikit melebar ketika menyadari Asrul sebentar lagi meninggal.
Siti Adawiyah teringat kata-kata Kakeknya yang sudah hampir dia lupakan, "Siti Adawiyah, jemputlah murid kakek pada tanggal yang telah kakek tulis di surat ini. Dia adalah Asrul, ajalnya akan menjemputnya di bukit Siguntang. Sebelum dia meninggal, engkau harus menuntunnya menemui kakek."
Memang sebelum Mbah Jena meninggal, Mbah Jena sempat menulis sebuah surat yang ditujukan untuk cucu kesayangannya. Untungnya Siti Adawiyah berhasil menemukan surat itu saat Siti Adawiyah hendak merenovasi ruang pribadi Mbah Jena di padepokannya.
"Tidak kusangka aku akan melihat seorang pendekar sejati disini.." Siti Adawiyah tersenyum tipis, dia tidak ingat kapan dirinya terakhir tersenyum. Siti Adawiyah membawa tubuh Asrul pergi menjauhi lokasi tragedi tersebut menuju gubuk tempat Asrul keluar dari persembunyian.
"Seandainya aku datang tepat waktu, tentunya Asrul akan mengetahui jati dirinya." Pada akhirnya dia merasa ini bisa menjadi bentuk penyesalannya tidak bisa menyelamatkan Asrul.
Siti Adawiyah kemudian menggunakan tenaga dalamnya untuk menciptakan es disekitar tubuh Asrul, agar membuat jasad Asrul terkurung dalam peti es. Siti Adawiyah menundukkan kepalanya sekali sebelum meninggalkan bukit itu, tanpa menyadari ketika dirinya membalikkan badan sesuatu terjadi pada diri Asrul.