
Menggunakan minuman yang begitu berharga sebagai jamuan tamu, hanya Asosiasi kitab suci yang bisa melakukannya. "Aku rasa Nona Anita akan tertarik dengan ini." Asrul mengeluarkan selembar kertas Asrul memang yang berisi informasi tentang dua puluh pendekar ahli serta lima pendekar bergelar.
"Tuan Muda , Ini..." melebarkan matanya saat membaca informasi tersebut.
"Tidak perlu sungkan, aku sekarang pemilik saham asosiasi ini. Semakin kuat Asosiasi kitab suci maka semakin baik juga untukku." Asrul tersenyum lembut lalu mulai meminum tehnya.
"Terima kasih untuk bantuan Tuan Muda Asrul, ini akan ku hitung sebagai seratus ribu keping emas untuk membeli saham kami."
Siti Adawiyah menyadari nilai informasi yang diberikan Asrul, dia tidak bisa menerimanya tanpa membayar sedikitpun jadi dia mengeluarkan harga yang pantas. Asrul tidak menolaknya, dengan demikian dia hanya perlu mengumpulkan sembilan puluh ribu keping emas lainnya.
Kali ini Asosiasi kitab suci membutuhkan waktu dua jam untuk menyiapkan sumber daya senilai dua ratus ribu keping emas, jumlahnya pun empat kali lipat dibanding sebelumnya.
"Tuan Muda Asrul, separuh barang berkualitas tinggi sudah anda beli sebelumnya, kami butuh waktu untuk mengisi ulang persediaan kami sehingga kami memberikan barang-barang kualitas lain juga, jangan khawatir sumber daya ini cukup untuk menarik padepokan-padepokan kecil aliran putih." Anita tertawa kecil ketika melihat wajah terkejut Asrul
Asrul akui Anita begitu cerdas dalam mengelola informasi yang didapatkannya, dia tidak keberatan atas pengaturan ini karena untuk merekrut padepokan-padepokan kecil memang membutuhkan kuantitas dibanding kualitas seperti yang Anita katakan.
Anita menawarkan agar orang-orangnya mengantarkan barang-barang ini sampai ke depan pintu istana tetapi Asrul menolaknya. Semua itu dapat menimbulkan kecurigaan yang lebih besar dibandingkan Asrul membawanya sendiri.
Malam itu Asrul keluar masuk istana beberapa kali untuk memasukan semua sumber daya yang dibelinya menuju kediaman Mbah Jena perbuatannya tersebut cukup mengundang perhatian terutama di kalangan penjaga.
Asrul menjelaskan situasi tersebut pada Taimiyah karena khawatir tindakannya akan membuat Bruno menyadari Asrul adalah penyedia sumber daya yang dibagikan oleh Mbah Jena.
"Aku akan mengurus agar para penjaga tersebut tidak buka suara, tetapi untuk mengurangi resiko masalah ke depannya sebaiknya kau membawa masuk sumber daya secara bertahap. Satu hari satu gerobak saja." Taimiyah sangat terkejut sebenarnya saat mengetahui Asrul membawa empat gerobak penuh sumber daya ke tempatnya.
"Murid akan mengikuti arahan Ketua."
Keesokan harinya, wajah Mbah Jena dihiasi oleh senyum paling lebar sepanjang hidupnya. Mbah Jena segera mendistribusikan sumber daya tersebut pada lima Padepokan lainnya serta padepokan Teratai dan Padepokan Budi Suci.
Mendapatkan sumber daya dalam jumlah besar membuat lima Padepokan tersebut memberikan dukungan pada Mbah Jena, dengan demikian selain Kun Billah, Mbah Jena mendapatkan dukungan dari delapan Padepokan lain.
Padepokan Teratai dan Padepokan Budi Suci juga merasa puas karena mendapatkan begitu banyak sumber daya, lebih dari yang mereka harapkan. padepokan Teratai yakin dengan sumber daya ini mereka bisa merekrut lebih banyak pendekar, sementara padepokan Budi Suci ingin menggunakannya demi mengembangkan bisnis mereka.
Sumber daya di tangan Mbah Jena ternyata berhasil menarik keluarga bangsawan juga untuk merapat padanya. Bagi keluarga Teratai yang merupakan keluarga militer, sumber daya ini berguna bagi keturunan mereka yang menjabat sebagai perwira.
Diantara semua, kabar paling baik adalah saat Mbah Jena mendapatkan panggilan dari kota Mallorca dan kembali membawa uang kertas dalam jumlah besar untuk membeli sumber daya. Berkat bantuan Asrul dan Asosiasi kitab suci di belakangnya, Mbah Jena berada di atas angin.
Beberapa minggu berlalu, Mbah Jena terus membagikan berbagai macam sumber daya untuk para pendukungnya seolah sumber daya miliknya tidak terbatas.
Mbah Jena bukan hanya berhasil mendapatkan dukungan dari padepokan Teratai, Padepokan Budi Suci, Padepokan Kun-Billah dan Keluarga Mallorca tetapi juga dua puluh Padepokan aliran putih yang membuat posisinya sebagai gubernur Mallorca begitu kokoh.
Sebenarnya Mbah Jena ingin terus menambah Padepokan yang memberikan dukungan padanya tetapi Taimiyah melarangnya karena semakin banyak Padepokan yang mendukung, semakin banyak juga sumber daya yang harus disiapkan. Mbah Jena tidak akan sanggup menyediakan uang untuk membeli begitu banyak sumber daya.
Mbah Jena hanya bisa menuruti keinginan Taimiyah karena dialah yang membawa sumber daya tersebut padanya.
Asrul menghabiskan waktunya dengan berlatih selama beberapa minggu terakhir karena Gus Mukhlas juga melakukan hal yang sama. Gus Mukhlas sepertinya menyadari semua ini adalah ketenangan sebelum badai sehingga terus berlatih dengan giat.
Siti Adawiyah sering mendatangi Asrul dan mengajaknya menghabiskan waktu bersama, Siti Adawiyah merasa sedikit sedih karena Asrul selalu menjaga jarak darinya ketika dia berusaha lebih dekat dengan pemuda tersebut.
Beberapa kali Siti Adawiyah meminta Asrul menemaninya keluar istana tetapi Asrul selalu menolaknya dengan alasan situasinya tidak aman. Siti Adawiyah hanya bisa melampiaskan kekesalan atas penolakan tersebut pada para prajurit istana.
Dalam beberapa minggu terakhir, Asrul mendatangi Asosiasi Kitab Suci beberapa kali lagi untuk mendapatkan sumber daya. Asrul telah berhasil mendapatkan 5% saham lainnya, membuatnya menjadi pemegang 10% saham Asosiasi Kitab Suci di Mallorca.
Asrul terus mendapatkan uang dari diskon 20% yang menjadi haknya, hanya saja uang tersebut tidak dapat digunakannya untuk membeli saham lebih banyak. Anita menyadari Asosiasi kitab suci membutuhkan banyak dana untuk berkembang lebih cepat sehingga menawarkan Asrul untuk menanamkan uang tersebut padanya dengan bunga 10% setiap tahunnya.
Penawaran itu diterima oleh Asrul, selama dia tidak menariknya maka uang tersebut akan terus bertambah. Asrul bisa menggunakan uang tersebut di masa depan, dirinya memang memiliki sebuah rencana yang membutuhkan uang dalam jumlah besar.
Suatu hari, Taimiyah mendatangi Asrul dan mengajaknya berdiskusi.
"Tidak kusangka Bruno masih diam saja setelah situasinya menjadi seperti ini, semakin lama dia tidak bertindak maka semakin lemah posisinya." Asrul berpendapat.
Taimiyah tersenyum lebar, sulit rasanya dia untuk percaya Asrul adalah pemuda berusia 23 tahun setelah bersamanya beberapa waktu. Menurut Taimiyah, Asrul terlalu cerdas bahkan untuk pemuda berusia 30-an tahun sekalipun karena sangat memahami situasi politik.
"Bruno bukannya tidak ingin tetapi tidak bisa, Asosiasi Intelijen Mafia maupun Organisasi Silver Hawk pasti membutuhkan waktu untuk pulih setelah pertempuran dengan Padepokan Tapak Suci." Taimiyah menjelaskan.
Meskipun demikian Taimiyah merasa dalam waktu dekat, Bruno akan melakukan sesuatu. Posisi Bruno semakin lemah karena hampir semua pendukungnya yang berasal dari kalangan bangsawan dan pemerintah telah mundur.